Dikatakan warga Desa Bugbug Wayan Sudiarta, saat menari, mereka bersikap layaknya seperti seekor kera. Gerak-geriknya, persis seperti bojog. “Kadang naik ranting pohon, tetapi tidak jatuh. Cuma kalau orang biasa naik, maka ranting pohon tersebut bisa patah,” paparnya.
Meski berguling-guling di semak belukar penuh duri, namun penarinya tak sampai tertusuk duri. Layaknya kera, mereka bisa juga nakal. Pada saat menari krama yang menonton disarankan agar memperhatikan barang bawaan, karena bisa saja diambil oleh penari. Karena disakralkan, maka tidak sembarang orang bisa mendekati penari Sanghyang Bojog itu. Apalagi sampai menyentuh, penarinya, bisa galak layaknya kera. Bisa saja digigit. Gigitannya seperti juga digigit bojog asli.
“Bisa digigit kalau seandainya diganggu,” sebutnya.
Selama pentas, penari tidak diiringi oleh tetabuhan. Namun lebih ke kekidungan. Kidung inilah yang memberikan vibrasi dan mengarahkan penari sang Hyang Bojog sesuai dengan kekidungan yang lantunkan.
Tak hanya hadir untuk menonton, saat bersamaan krama yang hadir juga ikut berdoa. Mereka memohon keselamatan, kesejahteraan, kedamaian, keamanan serta ketentraman kepada Ida Sesuhunan. “Dengan harapan agar dihindarkan dari segala bentuk bahaya ataupun wabah penyakit, hama di sawah maupun di ladang warga,” tutupnya. Editor : I Putu Suyatra