Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Karya Prasi Sudiasta Bertebaran, Harmoko Pesan Sejarah Penerangan

I Komang Gede Doktrinaya • Selasa, 26 April 2022 | 03:02 WIB
HASIL KARYA: Contoh prasi hasil karya Gusti Bagus Mangku Dalang Sudiasta berupa kisah Tantri. I Putu Mardika/Bali Express.
HASIL KARYA: Contoh prasi hasil karya Gusti Bagus Mangku Dalang Sudiasta berupa kisah Tantri. I Putu Mardika/Bali Express.
SINGARAJA, BALI EXPRESS - Seperti seniman pada umumnya, senantiasa mengawali dengan berbagai ritual saat akan berkesenian. Demikian juga dilakukan seniman Prasi, Gusti Bagus Mangku Dalang Sudiasta dari Desa Bungkulan, Kecamatan Sawan, Buleleng.

Prasi itu adalah komik tradisional Bali. Secara etimologi, Prasi bisa dimaknai sebagai paras yang berarti wajah dan siwulan yaitu daun lontar. Prasi diartikan sebagai wajah atau lukisan yang dibuat pada daun lontar yang kemudian berisi cerita-cerita sesuai lukisan.

Gusti Bagus Mangku Dalang Sudiasta mengatakan Prasi terbentuk dari dua unsur keterampilan, yaitu seni melukis dan menulis aksara Bali. Perpaduan kedua keterampilan tersebut dirangkai pada media daun lontar. Bagian depan lontar, digambar sesuai dengan cerita. Di bagian lain, ditulis cerita yang mendeskripsikan gambar tersebut

Nah daam prosesnya, Gusti Bagus Mangku Dalang Sudiasta juga mengawali dengan berbagai ritual saat akan berkesenian. Bahkan menjadi sebuah keharusan untuk melakukan persembahyangan atau pemujaan saat akan menggambar Prasi.

Dikatakannya, ada ritual khusus sebelum melukis. Menurutnya, hal itu sudah biasa dan menjadi kewajiban. Ritual itu bisa melalui sembahyang, agar dapat pencerahan ide, supaya tingkat kesulitannya bisa diatasi. Selain itu, saat hari-hari tertentu, seperti Purnama, Tilem, Saraswati, prasi yang dihasilkan juga dibuatkan sesajen.

Agar kualitas Prasi yang dihasilkan bagus, ia memilih melukis dengan mencari waktu senggang. Umumnya dilakukan lebih banyak di rumah. “Karena tempat melukis itu cari tempat tenang. Sebab, kalau sudah ada ide harus dieksekusi. Nah yang paling sulit itu harus menaklukkan mood. Kalau tidak mood biasanya sulit bisa menuntaskan Prasi,” paparnya.

Hasil karya Gusti Bagus Mangku Dalang sudah tersebar di berbagai negara, seperti di Jerman, Belanda, Italia, Amerika, Selandia Baru, Australia, Kanada dan Prancis. Para pembelinya dari negara tersebut berasal dari berbagai kalangan. Mulai dari kolektor, akademisi, dokter dan lainnya.

Karyanya dikenal oleh para turis asing lantaran saat dirinya bekerja di Gedong Kirtya. Ketika sedang asyik melukis prasi, secara kebetulan ada tamu Belanda yang berkunjung ke Gedong Kirtya.

“Dilihat hasilnya, ternyata tamu itu suka. Ia memelas agar diperbolehkan untuk membelinya. Saya kasi. Kemudian orang Belanda tersebut langsung membuat artikel di majalah Belanda tentang Prasi, lalu dipublikasikan. Nah dari sanalah banyak orang asing mengenal,” akunya.

Karyanya kian dikenal. Selain Belanda, tamu Jerman pun mengetahui Prasi karyanya lewat membaca majalah tersebut, sehingga semakin terkenal. “Dia mengaku sudah membaca artikelnya di majalah Belanda. Kemudian mereka beli,” kenangnya.

Sepengetahuannya di Buleleng Prasi mulai bisa dikenal sejak tahun 1930-an. Kemudian Prasi kian popular di tangan Gusti Mangku. Pada tahun 1978. Listibya pernah menyelenggarakan lomba Prasi se-Bali. Gusti Mangku pun sukses menyabet juara 1 dalam melukis Prasi.

Prestasi terus diukir oleh Gusti Mangku Dalang. Pada ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) 1984 dan PKB 1988 ia kembali meraih juara satu. Capaian gemilang sebagai juara satu juga ditorehkan pada tahun 1997 dari Museum Bali.

“Pernah juga punya pengalaman ikut pameran di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta tahun 1981 dan 1988 di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Di sana tokoh Pak Harmoko (mantan Menteri Penerangan) juga pernah memesan tentang sejarah penerangan menjadi dalam bentuk Prasi,” ungkapnya.

Disinggung terkait proses proses pewarisan keahlian melukis Prasi, dirinya mengaku jika darah seninya sudah dilanjutkan oleh anak pertamanya. “Karena memang senang seni, menari. Kemudian seni kuliahnya di arsitek. Sehingga nyambung. Anak saya yang mengikuti jejak ini. Di PKB juga pernah juara,” paparnya.

Tidak jarang ia juga kerap berbagi ilmu tentang melukis Prasi bersama rekan kerjanya di Gedong Kirtya. Termasuk pernah melaksanakan bimbingan tentang pembuatan prasi. Pesertanya dari kalangan SMP dan SMA. “Kami juga sudah mengkader beberapa tenaga personal di Gedong Kirtya. Ada yang berhasil. Ada yang gagal,” tutup kakek enam orang cucu ini.

Tentang Gusti Bagus Mangku Dalang Sudiasta
Editor : I Komang Gede Doktrinaya
#ritual #bali #Mangku Dalang #balinese #adat #Gusti Bagus Sudiasta #hindu #budaya #tradisi #Tekuni Seni Lukis Langka Prasi