Kelian Adat Tenganan Pegringsingan Putu Yudiana kepada Bali Express (Jawa Pos Group) mengatakan, tidak ada catatan sejarah pasti sejak kapan kain Gringsing mulai dibuat dan digunakan oleh masyarakat Tenganan Pegringsingan. Namun, yang pasti kain ini menjadi ikon desa setempat, sebagai simbol keseimbangan
Kata Gringsing terdiri atas gring dan sing. Gring berarti sakit dan sing berarti tidak. Jadi, Gringsing berarti tidak sakit, bahkan orang yang memakai kain Gringsing dipercaya dapat terhindar dari penyakit, dan lebih kompleks lagi Gringsing adalah sebagai penolak mara bahaya.
Umumnya, masyarakat Tenganan Pegringsingan mengenal tercatat ada 27 jenis motif kain Gringsing. Sebut saja motif Lubeng. Motif ini dicirikan dengan kalajengking dan berfungsi sebagai busana adat yang digunakan dalam upacara keagamaan.
Menurut pandangan warga Desa Tenganan Pegringsingan, motif Lubeng memiliki nilai sakral yang sangat kuat daripada motif kain Gringsing lainnya.
Motif Lubeng juga sering dijadikan sebagai saput oleh pria di desa setempat yang dapat mengesankan kejantanan.
Gringsing Lubeng, terdiri dari Gringsing Lubeng Luhur, Gringsing Lubeng Petang Dasa, dan Gringsing Lubeng Pat Likur.
“Secara umum motif kain Gringsing pasti simetris, kiri kanan atas bawah dan sama. Karena kain ini simbol keseimbangan. Dari sisi warna, Gringsing ada tiga warna dan dua warna. Kalau tiga warna yakni merah, hitam dan putih. Sedangkan yang dua warna itu hitam dan putih,” jelasnya.
Dari sisi ukuran, kain ini dibagi menjadi ukuran cenik (kecil), petang likur (sedang), petang dasa wayang (besar). Untuk ukuran cenik itu memiliki dimensi lebar 22 cm dan panjang 120 cm. Untuk ukuran sebesar itu, biasanya dimanfaatkan sebagai anteng, sabuk tungguan.
Sedangkan ukuran kain petang likur (medium) memiliki dimensi ukuran lebar 42 cm dan panjang 150 cm. Nah yang ukuran petang dasa wayang itu lebarnya 60 cm dan panjang 160 cm
Proses pembuatan kain Gringsing butuh waktu bertahun-tahun. Tetapi, sekali tahapan proses ini bisa menghasilkan mulai dari 6-8 lembar kain Gringsing. Pembuatannya dimulai dari medbed. Satu proses butuh waktu dari 2 sampai 2,5 tahun paling cepat. Artinya bisa lebih dari itu.
Tahapan pertama diawali merendam benang kapas dengan minyak kemiri (maket) menggunakan air abu selama 42 hari. Karena dobel ikat, maka sudah pasti ada proses ngelimbengang (pakan) dan ngerengang.
Selanjutnya proses medbed dilakukan untuk pembuatan motif. Kemudian ada pewarnaan dengan daun taum agar bisa memberikan warna biru. “Secara awig-awig, masyarakat kami dilarang mewarnai taum di kawasan Desa Tenganan. Makanya diminta di luar desa, karena memang pertimbangannya limbahnya sangat bau, sehingga dilakukan di luar,” sebutnya.
Setelah itu, baru diwarnai dengan akar mengkudu (tibah). Masyarakat biasanya mendatangkan tibah ini dari Nusa Penida, karena berasal dari kawasan kering, sehingga kualitas warna yang dihasilkan bagus.
Warna merah yang dihasilkan pada kain Gringsing juga dibuat berasal dari babakan kepundung. Caranya babakan kepundung dihaluskan, lalu dicampur air. Warna biru dicampur merah jadi hitam. Ini butuh waktu minimal 3 kali. Paling cepat prosesnya selama tiga bulan.
“Semakin lama direndam dengan warna hasilnya semakin bagus. Baru ada proses nyikat, dengan air nasi agar benang tidak cepat putus. Kemudian ada proses menenun itu bisa seminggu sampai dua minggu. Sehingga lamanya proses pembuatan kain gringsing bisa 2 tahun sampai 2,5 tahun,” paparnya.
Editor : I Komang Gede Doktrinaya