Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Belum Tergantikan, Kesucian Pis Bolong Bagaikan Cahaya

I Komang Gede Doktrinaya • Senin, 30 Mei 2022 | 19:54 WIB
PRARAGA: Uang kepeng (pis bolong) dirangkai dalam bentuk praraga. Ist
PRARAGA: Uang kepeng (pis bolong) dirangkai dalam bentuk praraga. Ist
SINGARAJA, BALI EXPRESS -Uang kepeng atau pis bolong dianggap sebagai salah satu benda yang tidak kena cuntaka atau sebel. Hal ini menyebabkan uang kepeng dianggap suci dan selalu digunakan dalam berbagai ritual agama. Uang kepeng juga dikatakan pinaka suteja yang artinya bagaikan sinar atau cahaya.

Dikatakan Akademisi STAHN Mpu Kuturan, Singaraja Putu Ariyasa Darmawan, kesucian uang kepeng yang bagaikan sinar atau cahaya merupakan salah satu alasan pemanfaatan uang kepeng yang belum tergantikan dalam masyarakat Bali sampai saat ini.

Penggunaan uang kepeng sebagai sarana upakara mewakili konsep jinah dan artha yang tertera dalam lontar upacara keagamaan atau lontar yadnya. Lontar Mpu Kuturan 1a-2b menyebutkan: “...yan meru matumpang 11, ring dasarnia madaging panda prabot manusa mawadah kawali waja, ... malih peripi mas, selaka, tembaga, jaum 4, mas, selaka, tembaga, wesi, muah pudi mirah,… ring dasar artha, utama, 8000, madya, 4000, nista 1700...”.

Terjemahan dari kutipan tersebut adalah: ... bila meru tingkat 11, pada dasarnya berisikan alat perlengkapan manusia, ditempatkan dalam kawali baja, ... kemudian pripih emas, perak, tembaga, jarum 4 batang, emas, perak, tembaga, besi, serta permata mirah, ... pada dasarnya kalau utama uangnya 8000, madya uangnya 4000, nista uangnya 1700,

Lanjutnya, penggunaan uang kepeng dalam lontar upakara tidak secara jelas disebutkan dengan menggunakan istilah uang kepeng atau satuannya dalam keteng. Tetapi hanya menggunakan istilah artha atau jinah.

“Istilah jinah, pis, dan artha selalu dianalogikan dengan uang kepeng. Penggunaan uang kepeng dalam kegiatan upacara masyarakat Bali merupakan suatu bentuk pelaksanaan tata cara upakara yang tertuang dalam lontar-lontar keagamaan,” ungkapnya.

Uang kepeng dalam sesajen berfungsi sebagai sesari. Sesari berasal dari kata sari yang berarti inti. Sari dalam sesajen merupakan nilai termulia dari sebuah persembahan kepada Tuhan. Dalam sesajen, nilai termulia itu dibendakan dengan menggunakan uang kepeng

Meskipun uang logam keluaran pemerintah Republik Indonesia banyak beredar, namun masyarakat Bali lebih memilih uang kepeng sebagai sesari.

Penggunaan uang kepeng sebagai sesari sesajen, bisa jadi, berkaitan dengan makna filosofis dari uang kepeng dengan bentuk bulat yang melambangkan surga, dan lubang yang berbentuk segi empat di tengahnya melambangkan bumi. “Sebagai lambang bumi dan surga, maka dapat disepadankan bahwa uang kepeng melambangkan kesementaraan dan keabadian,” sebutnya.

Selain berfungsi sebagai sesari, uang kepeng juga dirangkai dalam bentuk praraga (wujud manusia). Praraga merupakan representasi dari dewa Rambut Sedana, yakni dewa pencipta dan pengatur perekonomian

Penempatan sesari pada sesajen maupun praraga dari rangkaian uang kepeng sangat memperhatikan aspek keindahan dan kemewahan. Hal ini menjadi penting mengingat bahwa bentuk persembahan kepada Sang Hyang Widhi haruslah yang terindah dan termewah.

Selain itu, uang kepeng juga kerap dijadikan sebagai jimat. Jimat yang dikenal di Bali, salah satunya menggunakan uang kepeng yang diberi rerajahan (gambar yang mengandung kekuatan gaib) dan aksara suci (wijaksara dan modre).

Uang kepeng sebagai jimat ini kemudian lebih dikenal dengan pis jimat yang terdiri atas beberapa jenis, antara lain pis Jogor Manik, pis Hanoman, pis Kresna, pis Dedari, pis Rama, pis jaran, pis Arjuna, dan lainnya.

“Pis jimat ini digunakan agar penggunanya tampak berwibawa, cantik, tampan, dan lainnya. Pis jimat digunakan untuk memenuhi hasrat penggunanya agar dapat mencapai keinginannya,” pungkasnya.

  Editor : I Komang Gede Doktrinaya
#pis bolong #Produk Tiap Dinasti #ritual #bali #balinese #hindu #uang kepeng #budaya #tradisi #Lambang Langit dan Bumi