Ada sejumlah sarana yang harus ada saat prosesi Mapegat. Salah satu sarana yang wajib ada saat prosesi ini dilaksanakan adalah Lesung. Namun, Lesung yang digunakan dalam posisi terbalik.
Dosen Filsafat STAHN Mpu Kuturan Singaraja Ayu Veronika Somawati menegaskan, sarana lesung terbalik tersebut sebagai simbol kematian atau seseorang sudah tutup usia. Namun ada juga yang menggunakan benang putih yang diikatkan pada kayu sakti.
Selain itu, ada pula sarana yang digunakan. Mulai dari tempeh, uang bolong, banten prascita, serta gerakan masyarakat menaruh piranti banten di punggung telapak tangan, lalu dibuang ke arah belakang. “Itu artinya, bagi roh yang sudah pergi, tidak perlu lagi mengingat apa yang terjadi di masa lalunya. Piranti upacara mapepegat ini terkadang antara satu daerah dengan daerah lainnya berbeda, namun maknanya sama,” ungkapnya.
Oleh pihak keluarga, tali tersebut kemudian dipotong, ada yang memakai benda tajam, ada juga yang menggunakan api. Jadi, Mapegat ini betul-betul pegat (putus), semua ikatannya di dunia material ini telah lepas.
Veronika mengatakan terlepas dari apapun pirantinya, bisa dipahami bahwa simbol-simbol itu memberikan tuntunan arah bahwa di situ ada keikhlasan, tidak perlu lagi mengingat apa yang ada di dunia ini. Baik segala ikatan material maupun ikatan sosial.
Saat dilaksanakan, seluruh sanak keluarga mendiang membawa sesajen diisi satu atau dua uang kepeng yang diperoleh dengan jalan membakar benang pengikatnya hingga putus, lalu mereka berjalan mengelilingi sesajen,sambil bersorak-sorai dan terakhir melempar layudan tadi sambil berteriak lebih keras.
“Intinya sanak keluarga disarankan untuk jangan sedih apalagi mengucurkan air mata karena itu adalah tali pengikat yang menyebabkan perjalanan mendiang terhalang,” pungkasnya.
Editor : I Komang Gede Doktrinaya