Dosen Upakara STAHN Mpu Kuturan Singaraja Wayan Murniti mengatakan, umat Hindu di Bali sudah memuliakan Nyama Pat sejak kandungan berusia 7 bulan. Pemuliaan itu ditunjukkan dengan ritual Magedong-gedongan. Kemudian saat bayi lahir dibuatkan upacara Mapag rare dan membersihkan ari-ari, menanam ari-ari hingga upacara bayi berusia 12 hari.
Dalam Lontar Panugrahan Dalem menyebutkan yang diajak lahir bersama-sama oleh bayi adalah Sang Hyang Panca Mahabhuta, yakni yeh nyom atau air ketuban, darah, ari-ari, lamas (selaput kulit), yang lahir paling terakhir adalah bayi itu sendiri (Sang Bhuta Dengen). Keempat saudara yang lahir tersebut lama-lama berubah pula namanya.
Dikatakan Murniti, Nyama Pat selalu mengikuti perjalanan hidup manusia. Nyama Pat merupakan saudara manusia sejak lahir yang mengungkap kehidupan mistik masyarakat Hindu di Bali, karena ajaran yang terkandung di dalamnya dapat menuntun manusia menjadi manusia berkarakter baik. Begitu juga sebaliknya, jika mengabaikan Nyama Pat menyebabkan manusia tidak berkarakter.
Nyama Pat ini, sebut Murniti banyak mempunyai sebutan, baik dari lahir sampai bayi tersebut besar. Seperti disebutkan dalam Lontar Panugrahan Dalem Nyama Pat. “Iki Aji Utama Panugrahan Bhatara Dalem, ngaran Kanda Pat empat tanpa sastra wenang. Makuweh kawisesannya yening genahang ring pakubonan wenang dadi pakemit umah, wong sapakuren pakemit dennya. Kuwehing dusta durjana wedi ya sakuwehing pagawe ala wediya. Muwang sarana sasaga, punah dennya.
Samaliha yen sira weruh ring daging panugrahan iki, wenang dados sarining mantra, kabeh, dadi kamoksan tan anungguh papa sang pitara kabeh yan tan adosadubeng urip wenang lebur dennya.
Yan sira astiti nyungsung Ida Bhatara, wenang karyanang palinggih panyawangan, wenang dadi kesaktyan, tan kasoran ring mantra kabeh. Mantra satus cakep alah dening sabda acakep, tutur satus cakep alah dening bukti sinunggal, banten satus soroh alah dening soda adulang”.
Terjemahannya : “Ini adalah ajaran yang sangat utama ciptaan Ida Bhatara Dalem, yang disebut sarining Kanda Empat tanpa sastra. Banyak sekali kegunaannya : bila ditempatkan di rumah sekaligus menjaga rumah dan penghuni rumah tersebut. Segala perbuatan orang jahat dapat ditolaknya. Segala yang membahayakan tidak mempan berbuat jahat. Segala yang berbuat jahat dapat ditolaknya.
Lagi pula apabila dapat mendalami menguasai ilmu ini dapat menjadi intisari mantra semua dan mencapai Nirwana. Bila untuk menyucikan diri tercapai adanya. Apabila hormat bakti kepada Beliau dibuatkan tempat pemujaan, karena dapat memberikan kesaktian yang tidak dapat dikalahkan oleh segala mantra. Mantra yang berasal dari seratus cakep lontar dikalahkan oleh ucapan satu cakep, tutur seratus cakep lontar dikalahkan oleh satu bentuk saji banten. Banten seratus jenis ditundukan oleh sasaji satu dulang”.
Lontar Panugrahan Bhatara Dalem juga menyebut istilah Sanghyang Panca Mahabhuta, yang lahir bersama-sama dengan Sang Tiga Sakti. Manusia lahir mengajak empat saudara lahir ke dunia dan menjadi Dewata bertempat di segala penjuru sebagai pemelihara.
Pertama, lahir yeh nyom yang disebut Anggapati menjadi Patih di Pura Hulun Suwi bernama I Ratu Ngurah Tangkeb Langit, yang diikuti oleh Sang Bhuta Swadnya, Sang Bhuta Swasti, Sang Bhuta Tenggara, yang sebagai dewatanya sawah, dewatanya segala hewan, gunung, pemelihara dunia dan di pekarangan rumah berstana di tugu arah barat laut pekarangan rumah.
Dalam tubuh manusia, berstana di kulit yang disebut dengan Segara tanpa tepi dengan aksaranya Sang, berwujud Amerta Sanjiwani rembesannya keluar dalam bentuk keringat.
Diyakini sebagai pembasmi segala penderitaan berat maupun ringan di badan, di alam semesta berbentuk langit menjatuhkan embun. Untuk memujaNya dengan sarana banten ketipat dampulan matenggek, ikan telur bukasem, segehan kepelan putih, bawang merah, jahe.
Kedua, lahir berbentuk darah bernama Mrajapati, menjadi Patih Pura Sada bernama I Ratu Tebeng diikuti oleh Para Bhuta yakni Bhuta Usadi, Bhuta Keli, sebagai dewatanya hutan, gunung, jalan, lebuh (pintu keluar masuk rumah). Kemudian juga dewatanya segala pohon kayu, segala macam tumbuh-tumbuhan.
Di dalam tubuh manusia berstana di dalam darah, sebagai Amerta Kamandalu, rembesannya menjadi bayu. Aksaranya Bang bernama Tampak Kuntuling Ngelayang, sebagai penolak segala perbuatan jahat, menolak segala perbuatan Durjana dan bersiluman menjadi api, gunung, hutan, jalan dan pohon besar. Untuk pemujaan, bantennya tipat galeng, telur itik, segehan kepelan barak, bawang merah dan jahe.
Ketiga, lahir ari-ari bernama Banaspati dan berganti nama I Ratu Jelawung menjadi Patih di Pura Puseh diikuti Bhuta Prajapati, Bhuta Bisrana. Beliau sebagai dewatanya tegalan, tanah perkebunan, panginih-nginih, dan memusnahkan segala macam yang hendak berbuat jahat maupun orang yang mau berbuat jahat di rumah musnah oleh-Nya.
Bila di dalam badan, I Ratu Jelawung berstana di daging dan segala lubang badan atau tubuh. Aksaranya Tang kemudian juga disebut Galihing Kangkung, rembesan berbentuk rambut dan jelmaan berbentuk angin kencang, gumatat-gumitit (makhluk kecil) menjadi tegalan/perkebunan berpagar yang sangat luas, rumah besar dan sangat tinggi. Pemujaan dengan banten katipat gangsa, ikan sate gede, segehan kepelan kuning, bawang merah, dan jahe.
Keempat adalah lamas yang bernama Banaspati, berganti nama I Ratu Sakti Pangadangan menjadi Patih Pura Dalem diikuti oleh Sang Bhuta Grabwag, Sang Bhuta Sundung, Sang Bhuta Slisuh, Sang Bhuta Sendara, sebagai pemelihara dunia, dewatanya kuburan, sungai, jurang/pangkung, detya, tonya, wong samar, pantai, semua jenis burung, kekuatan dukun, balian, pangiwa dan panengen.
Bila di dalam badan tubuh manusia, bersemayam di urat dan sebagai perwujudan Amerta Maha Tirta, rembesannya Maolah. Aksara-Nya Ang artinya Isin Buluh Bumbang, mampu menolak segala macam bahaya, bisa menjelma menjadi lautan, sungai, juran, kuburan, burung, manusia seperti diri sendiri, seperti orang tua memakai kampuh poleng.
Kelima, bayi itu sendiri (manusia) bernama Sang Bhuta Dengen, berubah nama menjadi I Ratu Petung menjadi Patih di Pura Desa diikuti oleh Sang Ayu Draning, Sang Bhuta Ngemban Nginte, sebagai dewatanya Balang Tamak Balai Agung, pelangkiran, pasar, tukang, sangging, undagi, pande, balai banjar, dan ikan.
Dalam tubuh manusia berstana di tulang sumsum, sebagai perwujudan Amerta Pawitra, rembesannya berbentuk Rasa. Aksara-Nya Ing yang disebut Lontar Tanpa Tulis, dan sebagai pemelihara kandungan, pemelihara diri sendiri, pembunuh manusia yang jahat. “Penjelmaan beliau berupa kilat, pasar, bale agung, ikan, manusia laki maupun perempuan. Untuk memuja beliau bantennya tipat lepet enam biji, telur bajongan, segehan kepelan brumbun, bawang merah, jahe,” paparnya.
Editor : I Komang Gede Doktrinaya