Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Palinggih Surya Stana Siwa Raditya, Saksi dan Penjaga Kestabilan

I Komang Gede Doktrinaya • Sabtu, 20 Agustus 2022 | 15:48 WIB
Dosen Teologi STAHN Mpu Kuturan Singaraja, Wayan Titra Guna Wijaya. Ist
Dosen Teologi STAHN Mpu Kuturan Singaraja, Wayan Titra Guna Wijaya. Ist
BULELENG, BALI EXPRESS - Palinggih Surya merupakan salah satu bangunan palinggih yang wajib ada dalam setiap pekarangan rumah. Palinggih ini umumnya terletak di uluning natah sebagai simbol dari tempat linggih Dewa Surya yang tak lain merupakan Dewa Matahari atau Raditya.

Dosen Teologi STAHN Mpu Kuturan, Singaraja Wayan Titra Guna Wijaya mengatakan, dalam Lontar Asta Kosala-Kosali disebutkan bahwa Palinggih Surya merupakan stana dari Bhatara Surya atau Siwa Raditya yang menjaga kestabilan dan keseimbangan pekarangan rumah.
Biasanya berada di tengah natah rumah. Umumnya, di Bali disebut Palinggih Pangijeng Karang atau sebagai penjaga.

Palinggih ini sebagai simbolis yang digunakan sebagai tempat menghaturkan sesaji yang dipersembahkan kepada Bhatara Surya atau Sang Hyang Surya/Siwa Raditya sebagai saksi segala kegiatan manusia, khususnya spiritual.

“Setiap ritual agama di Bali selalu dilakukan pemujaan terhadap Dewa Surya sebagai dewa yang memberikan persaksian bahwa seseorang telah melakukan yadnya. Busana (wastra) yang digunakan dalam Palinggih Surya yaitu kain berwarna putih sebagai simbol kesucian,” ujarnya.

Keberadaan Palinggih Surya bisa dibilang merupakan salah satu bentuk pengabdian masyarakat Hindu Bali terhadap Dewa Surya yang merupakan dewa dari segala sumber kehidupan yang berperan sebagai Dewa Matahari.

Dewa Surya diyakini yang memberikan sinar setiap hari sehingga manusia bisa beraktivitas dengan normal.

Dikatakan Titra, dalam pembangunan palinggih itu, menggunakan konsep arah mata angin dan hulu teben. Dimana penempatan Palinggih Surya menghadap ke arah barat. Tujuannya, agar pada saat kita melakukan persembahyangan menghadap ke hulu yang lumrahnya orang melakukan persembahyangan menghadap ke timur ataupun utara yang dijadikan hulu atau luanan.

“Wujud perumahan juga memperhatikan keseimbangan antara alam dewa, alam manusia dan alam bhuta yang diwujudkan dalam satu perumahan terdapat tempat pemujaan,” sebutnya.

Dalam pembangunan palinggih ini harus memperhatikan konsep Rwa Bhineda, hulu teben, purusa pradhana. Rwa Bhineda diwujudkan dengan bentuk hulu teben. Yang dimaksud dengan hulu adalah arah atau terbit matahari, arah gunung dan arah jalan raya. Perwujudan purusa perdhana adalah dalam bentuk penyediaan natar.

Dalam Lontar Asta Kosala Kosali dan Asta Bhumi pedoman membangun Palinggih Surya sebagai stana Dewa Matahari, yang memberi kehidupan pada setiap ciptaan Tuhan dan sebagai saksi dari setiap kegiatan manusia.

Arsitektur Bali mengikuti konsep bhuana agung dengan pembagian menjadi tiga bagian, dan memiliki hitungan ganjil seperti 1,3,5,7,9, dan seterusnya. Bangunan itu sendiri merupakan simbol dari bhuana agung dengan Trilokanya, yaitu pondasi dan lantai sebagai kaki (bhur loka). Konstruksi vertikal (pasangan bataran) sebagai badan ( bwah loka ). Rong atau atap sebagai kepala (swah loka).

  Editor : I Komang Gede Doktrinaya
#ritual #bali #Palinggih Surya #balinese #Saksi dan Penjaga Kestabilan #adat #hindu #pura #tradisi #Stana Siwa Raditya