Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Naga Banda dalam Upacara Ngaben Jadi Lambang Keterikatan Manusia

I Komang Gede Doktrinaya • Rabu, 24 Agustus 2022 | 18:15 WIB
NAGA BANDA :  Palebon mantan Bupati Klungkung yang juga tokoh Puri Klungkung Tjokorda Gde Agung, Januari 2021, menggunakan Naga Banda. I Made Mertawan/Bali Express.
NAGA BANDA : Palebon mantan Bupati Klungkung yang juga tokoh Puri Klungkung Tjokorda Gde Agung, Januari 2021, menggunakan Naga Banda. I Made Mertawan/Bali Express.
BULELENG, BALI EXPRESS - Naga Banda menjadi salah satu sarana yang kerap ditemukan saat upacara Ngaben. Biasanya dibuat saat upacara Ngaben atau Palebon keluarga puri atau keturunan raja di Bali serta pandita Buddha di Desa Budakeling, Kecamatan Bebandem, Karangasem.

Rupanya, Naga Banda sebagai sarana upacara Ngaben yang masuk tingkatan utama (besar) ini, sebagai lambang dari tubuh manusia yang terikat oleh hawa nafsu atau sifat keduniawian.

Jika ditelisik lebih detail, Naga Banda ini berwujud seekor ular naga yang sangat besar. Wajahnya mengerikan, mulutnya menganga, taringnya mencuat keluar. Matanya melotot serta memiliki rupa yang sangat menakutkan. Badannya sangat panjang penuh dengan hiasan berupa ukiran berwarna kuning keemasan. Umumnya, Naga Banda ini terbuat dari kayu dan bambu lalu dibungkus dengan kain yang mengkilap.

Dosen Filsafat Hindu, STAHN Mpu Kuturan Singaraja Putu Ariyasa Darmawan mengatakan, Naga Banda merupakan seekor naga yang merupakan tali pengikat. Ukurannya pun lumayan panjang. Menurutnya, Naga Banda sebagai sarana upacara dalam Pangabenan yang berwujud ular naga sebagai lambang bahwa manusia diikat oleh hawa nafsu atau keduniawian. “Naga adalah lambang dari badan tubuh manusia atau stula sarira,” jelasnya.

Ariyasa menjelaskan, dalam Lontar Tattwa Bhatara Astapaka secara filosofis disebutkan bahwa alat pengikat keduniawian berupa harta benda, indriya ataupun keinginan yang ditimbulkan oleh kebodohan atau awidya.

Manusia harus mampu melepaskan diri dari keterikatan tersebut, sehingga bebas. Kebebasan yang dimaksud adalah bebasnya atma dari keterikatannya dengan badan, sehingga dapat bersatu kembali dengan Sang Hyang Parama Atma atau Ida Sang Hyang Widhi.

Ia melanjutkan, dalam upacara Pitra Yadnya, Naga Banda sebagai penuntun Sang Hyang Atma untuk mencapai surga ataupun moksa. Selain itu, Naga Banda juga difungsikan sebagai penebusan karena melalui upacara Pitra Yadnya ini, seseorang diyakini dapat memutuskan diri dari ikatan duniawi.

Penebusan atma yang ditujukan terhadap kala dan tempat-tempat hukuman bagi sang atma atas buah karma yang diperolehnya semasa hidup. Semisal penebusan kepada Bhatara Yama, Jogor Manik, Dorakula, Mahakala, Kawah Tambragohmuka, Weci, Batu Macepak. “Ini merujuk dalam mantram Nagabandhastawa yang dimaksudkan agar Sang Hyang Atma dapat bersatu kembali dengan Sang Hyang Parama Atma,” ungkapnya.

Penggunaan simbol Naga Banda secara filosofis juga dianalogikan jika bumi digambarkan dililit oleh ular naga Anantabhoga, Naga Basuki dan Naga Taksaka. Penggambaran ini ditemukan dalam Lontar Siwagama dan Sri Purana Tattwa.

Dalam Lontar tersebut dikisahkan jika setelah bumi diciptakan lengkap dengan manusia dan segala isinya, pada suatu saat terjadilah sebuah bencana yang mengakibatkan tumbuhan mati, air tercemar, udara mengalami polusi.

Merasa kasihan, Sang Hyang Tri Murti, yakni Brahma, Wisnu dan Siwa turun ke bumi untuk menyelamatkan. Brahma masuk ke tanah dan berubah menjadi seekor Naga Anantabhoga. Wisnu masuk ke dalam air menjelma menjadi seekor Naga Basuki dan Siwa terbang ke angkasa menjelma menjadi seekor Naga Taksaka.

Dengan demikian unsur bhuana agung atau (makrokosmos) yang mengikat bumi (pertiwi) atau tanah yang dianalogikan dengan Naga Ananta Bhoga, Air (apah) yakni Naga Basuki dan udara adalah Naga Taksaka. Sedangkan dalam bhuwana alit, tubuh manusia juga diikat oleh Tri Bhoga yaitu Bhoga atau makanan, Upaboga atau perlengkapan hidup dan Pariboga atau kesenangan hidup. Tri Bhoga inilah dikaitkan dengan ketiga naga tersebut.

“Kontak antara atma dengan maya inilah yang memengaruhi kehidupan manusia, sehingga memunculkan Tri Guna, yakni sifat Satwam, Rajas dan Tamas,” sebutnya.

Hal inilah menyebabkan saat ngaben ada upacara askara yaitu proses menyucikan roh atau atma yang diupacarai. Termasuk penggunaan tirta pangentas yang dibuat oleh pandita dengan tujuan untuk memisahkan unsur Panca Mahabhuta dengan purusa.

“Ada pula pralina ini berhubungan dengan tirta pangentas, yaitu melebur unsur Panca Mahabhuta agar bisa memisahkan yang meninggal antara purusa serta mengembalikan unsur itu ke asalnya masing-masing,” paparnya.

  Editor : I Komang Gede Doktrinaya
#ritual #bali #Filsafat Hindu #balinese #adat #Lambang Keterikatan #ngaben #Naga Banda #hindu #pura #Putu Ariyasa Darmawan