Akademisi Ayurweda UNHI Denpasar Dr Ida Bagus Suatama mengatakan, konsep Ista Dewata adalah Tuhan atau Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam manifestasiNya sebagai dewata pujaan. Ista Dewata yang dipuja seorang pengusada, tentu yang berhubungan langsung dengan profesinya.
Ada beberapa Ista Dewata yang harus dipuja oleh pengusada. Diantaranya Dewi Saraswati karena pengusada adalah orang yang cerdas dan terpelajar.
Suatama menjelaskan ada beberapa pertimbangan harus memuja Dewi Saraswati. Menurutnya, kewajiban utama pengusada adalah meningkatkan kecerdasannya, baik intelektual, moral, maupun spiritualnya. Oleh sebab itu, harus selalu memohon kehadapan Sang Hyang Aji Saraswati agar selalu dituntun dengan pengetahuan yang benar.
Tentu pemujaan ini juga harus dibarengi kesungguhan dalam mempelajari sastra-sastra usada dan ilmu pengobatan yang lain untuk meningkatkan kualitas dan kompetensi. Mengingat Sang Hyang Aji Saraswati bersemayam dalam susastra.
Ista Dewata selanjutnya adalah Bhatara Ganapati atau Dewa Ganesha, sebagai pelindung sekaligus pemberi anugerah keselamatan, kesehatan dan kebijaksanaan.
Pemujaan Bhatara Ganapati ini bertujuan agar pengusada selalu dilindungi dan diselamatkan dalam melaksanakan profesinya, baik dari niat jahat maupun dorongan hasrat yang dapat berakibat pelanggaran sasana.
Penting diingat bahwa usada Bali berhubungan dengan dunia sekala dan niskala, sehingga pengusada mempunyai potensi berhadapan dengan niat-niat jahat atau black magic. Dengan demikian harus memiliki kekuatan sebagai pelindung, dan pelindung yang paling utama adalah Hyang Ganapati.
Ia melanjutkan, Ista Dewata yang berikutnya dipuja adalah Bhatara Prajapati. Pemujaan dilakukan karena Bhatara Prajapati menurunkan teknik pengobatan melalui para maharsi. Dalam Ayurveda dijelaskan bahwa pengobatan diturunkan oleh Dewa Brahma kepada Prajapati Daksa, kemudian diajarkan kembali kepada Bhagawan Kasyapa.
“Di Bali, Bhatara Prajapati merupakan dewaning kesehatan, sekaligus penentu hidup mati manusia, sehingga distanakan di setra atau kuburan. Dari segi kesehatan, pemujaan kepada Bhatara Prajapati juga dilakukan untuk memohon tirtha kesembuhan,” imbuhnya.
Pemujaan selanjutnya dilakukan kepada Bhatara Baruna dan Bhatari Gangga dalam fungsi sebagai pelebur segala jenis kekotoran, yakni papa, klesha, rogha, dosha melalui air tirta.
Dengan memuja Bhatara Baruna dan Bhatari Gangga, pengusada diberi kekuatan menolong pasien untuk melebur kekotoran fisik, mental, dan rohaninya. Pemujaan ini dapat dilakukan bersamaan dengan proses panglukatan atau pabayuhan yang pada intinya adalah penyucian jasmani dan rohani.
“Pemujaan kepada Ista Dewata dalam sistem usada Bali juga bertujuan untuk membangun kekuatan doa dari pengusada dalam proses penyembuhan,” katanya.
Sementara cara melantunkan mantra atau doa yang dapat dilakukan untuk penyembuhan dapat dibedakan menjadi tiga. Yakni Waikari dengan sedikit terdengar, Uvangsu dengan bergumam, dan Manana japam atau puja di dalam hati nurani.
Kualitas doa yang terbaik adalah dengan Manana japam atau puja di dalam hati nurani. “Dalam sistem usada Bali, doa atau mantra yang diucapkan pengusada harus memiliki kekuatan siddhi-mantra. Kekuatan ini dapat dibangun dengan menjaga kesucian rohani dan pemujaan kepada Ista Dewata secara konsisten,” sebutnya.
Editor : I Komang Gede Doktrinaya