Jro Dalang Putu Ardhiyasa mengungkapkan jika dalam ritual Ngaben, tirtha sudamala itu dipercikkan sebelum ngayut sekah. Sedangkan dalam upacara kematian makingsan di geni atau makingsan di pertiwi biasanya dilakukan sebelum prosesi ke setra.
Ia mengatakan, sesajen yang dihaturkan saat pementasan wayang dengan lakon Bima Swarga di setiap tempat berbeda sesuai dengan desa kala patra. Namun, sepengetahuannya pria yang juga Kaprodi di Prodi Pendidikan Seni dan Budaya, STAHN Mpu Kuturan Singaraja ini, sesajen yang digunakan terdiri dari banten untuk gender, untuk pertunjukan wayang dan sesajen untuk nunas tirtha wayang.
Menurutnya, selain adanya perbedaan tradisi dan kepercayaan, juga tergantung pada situasi dan keadaan di tempat pertunjukan. Namun intinya tetap sama, yakni persembahan yang mengandung unsur daun, bunga, buah, air dan di Bali juga memakai daging atau ikan.
Sesajen wayang kulit yang sering digunakan untuk pertunjukan wayang kulit secara garis besar dibagi dua. Ada sesajen yang ditempatkan di atas dalam panggung dan ada yang di bawah.
Sesajen yang berada di atas dipersembahkan kehadapan Taksu dan Bhatara Samodaya. Sesajen yang dipersembahkan antara lain pras, lis, daksina, banten taksu, canang sari, katipat kelan, punjung rayunan, suci asoroh maiwak itik putih, panyeneng, tehenan, ajuman, canang gantal, banyuawang, pedupaan, lengawangi, buratwangi.
Dulang medaging sangku utawi payuk anyar madaging toya anyar, matatakan beras, toya cendana samsam, bija kuning, bunga 11 warna, utamine sekar tunjung putih, pipis 250, lis wayang gede.
“Sesajen itu dipersembahkan dengan tujuan, memohon kepada Ida Taksu atau manifestasi Tuhan sebagai Dewa Kesenian, agar dianugerahi keselamatan, kelancaran dan suksesnya pertunjukan dan penonton merasa terhibur,” pungkasnya.
Editor : I Komang Gede Doktrinaya