Keberadaan Petunon yang dibangun awal tahun 2021 itu banyak dimanfaatkan masyarakat untuk pelaksanaan upacara Pitra Yadnya. Banyak pula kemudahan-kemudahan yang ditawarkan pihak desa adat dalam pemanfaatan Petunon, yang salah satunya dari segi biaya.
Klian Desa Adat Buleleng Jro Nyoman Sutrisna menjelaskan, sebelum desa adat memiliki Petunon, kremasi dilakukan dengan menggunakan kompor mayat. Biaya kremasinya senilai Rp 1,5 juta. Jumlah itu pun kemudian dibagi untuk operasional, desa adat serta perbaikan kompor.
“Sekarang dengan adanya Petunon, kami lebih mempermudah dari segi bantennya,” terangnya saat dikonfirmasi kemarin.
Banten yang dibuat untuk keperluan kremasi dalam kegiatan Pitra Yadnya memiliki beberapa tingkatan. Dari yang paling murah hingga yang lebih mahal. Dari semua harga dalam setiap tingkatnya sudah termasuk biaya sesari untuk sulinggih.
Krama yang akan memanfaatkan Petunon cukup membawa sarana persembahyangan seperti bunga, kwangen serta kebutuhan lainnya. “Kami sepakati yang paling rendah untuk Hindu itu harganya Rp 6 juta. Tetapi tidak menyalahi sastra yang ada. Kami pakai dresta, tattwa dan kala. Dengan Rp 6 juta ini dalam tattwanya tidak menyimpang. Karena sudah dibahas dalam lontar-lontar. Kemudian ada tingkatan yang lebih tinggi yakni Rp 7,5 juta, ada Rp 10 juta, ada Rp 17 juta, dan yang paling tinggi Rp 35 juta,” imbuhnya.
Di setra Buleleng pun terdapat dua tempat Petunon, yakni Petunon baru dan Petunon lama. Apabila masyarakat ingin menggunakan Petunon lama, prajuru desa adat tetap mengizinkan. Kalau Petunon lama, krama boleh membawa banten sendiri. Demikian pula sulinggih yang muput bisa disiapkan sendiri.
“Krama itu jangan dipaksa. Kalau mau mendem silakan, kalau mau pakai bade lembu juga silakan, tapi dilakukan di Petunon lama. Karena di Petunon baru gak bisa. Sempit,” tutupnya.
Editor : I Komang Gede Doktrinaya