KIidang tersebut rencananya digunakan sebagai sarana saat pujawali di Pura Puseh Desa Adat Busungbiu, yang jatuh pada rahina purnama kapat, Senin (10/10) hari ini. Kidang nantinya diolah menjadi bukakak.
Kepala Desa Busungbiu Ketut Suartama mengatakan, tradisi ini dimulai dari upacara Ngajit. Upacara ini berlangsung pada pergantian hari antara Kamis (6/10) dengan Jumat (7/10), dimulai tepat pada pukul 00.00 dini hari.
Dalam upacara tersebut, para pewaris Tegak Lingsir 66 atau sebutan untuk ahli waris pendiri Desa Adat Busungbiu, dipanggil menuju ke bale lantang.
Mereka dipanggil satu persatu oleh juru surat. Setelah namanya dipanggil, mereka baru naik ke Bale Lantang. Kemudian dilakukan ritual persembahyangan bersama.
Dalam upacara itu, krama memohon petunjuk kepada Ida Bhatara untuk memburu kidang. Berbekal petunjuk itu pula, maka krama akan menuju sejumlah titik yang menjadi tempat I Bulu Pangi berada.
“Dari hasil maboros kemarin, kami dapat satu ekor kidang. Karena ini pujawali alit, makanya cukup menggunakan satu ekor saja. Nantinya diolah menjadi bukakak,” paparnya, Minggu (9/10) siang.
Saat pujawali agung, seekor kidang akan digunakan untuk sarana bukakak. Kidang itu akan diletakkan di bale panggungan. Sementara seekor lainnya digunakan sebagai campuran paci-paci (hidangan semacam lawar) yang dibagikan pada seluruh krama desa.
Dari penuturan para pendahulunya, diceritakan Suartama, awal mula munculnya tradisi Maboros yang dilakukan masyarakat Desa Busungbiu berawal dari keberhasilan Desa Busungbiu membangun Pura Puseh Desa.
Diceritakan kedatangan Gusti Patih Cili Ularan yang diiringi oleh 200 pasukan beliau dan dua orang penasihat, dari Suweca Pura menuju Tabanan, tepatnya di Wong Ayu lalu ke Pucak Kedaton Watukaru.
Setelah sekian lama mengembara Gusti Patih Cili Ularan sampai di sebuah tempat yang bernama Gedang Janur atau Busungbiu pada saat ini. Beliau bertemu dengan pimpinan desa yang pada saat itu dipimpin Gede Mariada dan seorang tokoh agama Ida Pranda Sakti Sinuhun.
Kedatangan beliau sangat diterima di Desa Gedang Janur, pada saat itu Gusti Cili Ularan hanya didampingi 66 prajuritnya saja. Dari latar belakang itulah mulai tergugah untuk membangun Pura Puseh Desa, yang pada saat itu Desa Busungbiu masih kecil dan dihuni beberapa orang saja.
Setelah Gusti Patih Cili Ularan menetap di Gedang Janur, mulailah beliau membangun Pura Puseh Desa dimana tokoh agama pada saat itu Ida Pranda Sakti Sinuhun akan memberikan I Bulu Pangi (kidang) sebagai sarana upacara.
Pada saat rahina purnamaning kapat penanggalan Bali, tepatnya sekitar tahun 1500, upacara piodalan pertama dilaksanakan dan menggunakan sarana kidang sebagai sesajen upacara.
“Semenjak saat itulah masyarakat selalu menggunakan kidang sebagai sarana upacara dan melaksanakan tradisi maboros untuk mendapatkan hewan kidang,” paparnya.
Banten atau sesajen yang digunakan saat maboros juga sedikit berbeda. Sebab, biasanya dalam sarana banten layaknya menggunakan buah dan hiasan bunga, namun dalam sesajen dalam maboros yang digunakan selain buah dan hiasan bunga atau canang, juga menggunakan layang-layang, gangsing, dan kelereng sebagai sarana upacara.
Dikatakan Suartama, sarana itu merupakan simbol pelaksanaan tradisi Maboros. Layang-layang dijadikan sebagai lambang keseimbangan dalam pelaksanaan Maboros. Sedangkan gangsing dijadikan simbol bahwa pelaksanaan Maboros memiliki tujuan yang pasti atau memiliki tujuan bersama, dan kelereng dijadikan simbol kebulatan tekat dalam melaksanakan kegiatan Maboros.
Hal ini dianggap penting karena tradisi ini merupakan rangkaian dari pelaksanaan upacara keagamaan dalam hal ini upacara Dewa Yadnya. Jika tradisi ini hilang, maka akan mengalami kendala dalam pelaksanaan upacara Dewa Yadnya di Pura Puseh Desa Busungbiu. “Selain itu, krama juga menggunakan topi berbahan upih, sebagai simbol untuk siap berburu atau Maboros,” pungkasnya.
Editor : I Komang Gede Doktrinaya