Aci Keburan merupakan suatu tradisi yang harus dilaksanakan. Karena ada keyakinan dari masyarakat apabila tidak dilaksanakan, maka Desa Adat Kelusa berpotensi akan terserang wabah atau grubug.
Keberadaan Pura Hyang Api memang sangat erat kaitannya dengan ritual Aci Keburan. Pura Hyang Api merupakan salah satu pura kuno di Bali yang diperkirakan telah ada sejak abad ke-8 Masehi. Pura ini digolongkan sebagai Pura Kahyangan Jagat.
Selain itu, disebutkan pula bahwa pura ini mempunyai kaitan dengan perjalanan Rsi Markandeya di Bali. Pura Hyang Api berlokasi di kawasan Munduk Gunung Lebah yang merupakan rute perjalanan suci dharmayatra dan tirtayatra maharsi Markandeya yang diikuti oleh pengikut-pengikutnya yaitu Wong Aga.
Pura tersebut dijadikan sebagai tempat memuja Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam wujud Dewa Brahma. Keunikan dari Pura Hyang Api di Desa Kelusa ini diyakini digunakan umat (pamedek) untuk memohon kewarasan (kesembuhan), kelanusan wewalungan (hewan ternak) bagi umat Hindu dari seluruh kabupaten/kota di Bali.
Meskipun Pura Hyang Api sebagai tempat pemujaan Dewa Agni (Brahma), namun dalam praktik ritualnya dikaitkan dengan mohon berkah kesuburan segala binatang ternak, peliharaan (satwa sato, satwa wawalungan, satwa paksi, satwa wina), penopang aktivitas masyarakat agraris.
Bendesa Pakraman Kelusa Jro Nyoman Suarka menjelaskan, keyakinan masyarakat ini didasarkan atas Dewa Agni sebagai sumber energi alam semesta (Bhuwana Agung) dan alam manusia (Bhuwana Alit).
Dewa Agni juga sumber kemakmuran dan pemberi berkah berkembang biaknya binatang ternak peliharaan umat manusia.
Keyakinan masyarakat dikuatkan dengan pemujaan kepada simbol-simbol suci berupa wujud hewan yang disucikan (Tapakan) seperti Barong Bangkal dan Barong Macan.
Ia menambahkan, Aci Keburan mengandung kepercayaan magis yang sangat kental. Karena banyaknya ayam yang diadu dan mengenakan taji yang jumlahnya ratusan pasang yang diadu secara bersamaan di jaba pura.
Disebut sebagai Aci Keburan dikarenakan para pamedek selain membawa banten juga membawa ayam jantan untuk diadu, sehingga terjadi keburan atau keberan (sabung ayam).
Aci keburan merupakan ritual persembahan membayar janji yang berhubungan dengan kesehatan semua hewan peliharaan. “Aci Keburan sebagai bentuk persembahan terhadap Dewa Agni yang berstana di Pura Hyang Api, Desa Adat Kelusa. Ini bukan persembahan kepada bhuta kala. Aci Keburan merupakan pembayaran sesangi/sesaudan yang berhubungan dengan kewarasan dan kelanusan wewalungan,” bebernya.
Meskipun tradisi tersebut ada yang menggunakan uang untuk toh (taruhan), itu hanya sebagai sesari. Ketika menang, akan dipuniakan dan beberapa bisa diambil. Punia tersebut dikumpulkan untuk sarana dan prasarana lain yang dibutuhkan.
Aci Keburan berbeda dengan tajen (sabung ayam) yang bermotifkan judi. Tapi tidak demikian dengan Aci Keburan. Setiap pamedek menggunakan pakaian adat madya. Dalam aci ini, tidak ada saya kemong (juri) yang menentukan kalah atau menang pada setiap pertarungan pasangan ayam.
“Setelah selesai ayamnya bertarung, pamedek yang kalah atau menang, menghaturkan banten upasaksi kehadapan Ida Bhatara yang berstana di Pura Hyang Api. Selanjutnya para pamedek memohon tirta wangsuhpada untuk keluarga dan untuk tirta wewalungan untuk dibawa pulang,” katanya.
Pamedek yang nangkil ke Pura Hyang Api di Desa Adat Kelusa, tidak hanya dari kawasan desa adat setempat. Namun berasal dari berbagai wilayah di Bali.
Masyarakat yang membawa ayam keburan yang akan dipersembahkan dalam tradisi Aci Keburan itu adalah mereka yang akan nawur sesangi atau membayar kaul, karena permohonan waranugraha untuk kesehatan binatang peliharaan dapat berkembang biak dan berhasil diternakkan.
“Tradisi Aci Keburan juga sebagai wujud syukur dan terima kasih atas keselamatan hewan ternak dan kemakmuran kepada kehidupan masyarakat Desa Adat Kelusa maupun pamedek Pura Hyang Api,” kata Jro Nyoman Suarka.
Proses pelaksanaannya dimulai dengan ngayah yang dimulai dari beberapa hari sebelum hari piodalan. Tahap selanjutnya yaitu nedunang yang dilaksanakan sehari sebelum hari piodalan, pada tahap ini merupakan tahap ngalinggihang (menstanakan) Ida Betara di Bale Paruman.
Pada hari Raya Kuningan (Tumpek Kuningan) awal persembahan dan pemujaan Aci Keburan, dipersembahkan upakara panawuran di Pangaruman dengan banten berupa dapetan, canang sodan, maulam taluh, pereman asoroh. “Barulah dilaksanakan upacara Aci Keburan yang dilanjutkan dengan pelaksanaan sembahyang bersama,” ungkapnya.
Pelaksanaannya dimulai dari pukul 05.00 pagi sampai pukul 11.00 siang. Pertimbangannya karena tradisi Aci Keburan dilaksanakan pada waktu yang bersamaan dengan waktu bangunnya ayam. Selama enam jam, jumlah ayam yang diadu bisa mencapai 200 pasang di madya mandala.
“Setelah tiga puluh lima hari, maka dilaksanakan kembali upacara panyineban. Pada upacara panyineban semua Ida Bhatara yang sebelumnya malinggih di Bale Paruman akan kembali distanakan di Gedong Panyimpenan,” pungkasnya.
Editor : I Komang Gede Doktrinaya