Selain di Pura Watu Klotok, upacara serupa digelar di Pura Ulun Danu Batur di Desa Batur, Kecamatan Kintamani, Bangli dan di Pura Pengubengan, Desa Besakih, Kecamatan Rendang, Karangasem.
Menurut salah satu panitia di Pura Watu Klotok, I Dewa Soma, ketiga pura tersebut memiliki tatanan masing-masing. Pura Ulun Danu Batur sebagai simbol danau, Pura Pengubengan sebagai simbol gunung, sedangkan Pura Watu Klotok sebagai simbol laut.
“Gunung itu kita yakini sebagai lingga, di mana gunung itu dalam konteks parahyangan kita di Bali memberikan kesejahteraan dan kerahayuan. Termasuk juga danau, itu adalah debit air atau kelebutan raksasa yang kita percayai airnya itu sangat membantu kehidupan kita di Bali. Laut adalah proses pengeleburan,” jelas pria yang seorang budayawan ini.
Lebih lanjut dikatakannya, ritual ini dilaksanakan setelah mendapat kesepakatan dalam paruman yang dilaksanakan Pemprov Bali dengan sulinggih. “Pemerintah menyikapi adanya bencana seperti banjir, tanah longsor, termasuk virus di dalamnya. Sehingga dari kejadian itu, Pemprov melakukan paruman dengan sulinggih, dan hasilnya disepakati dilaksanakan upacara Bhumi Sudha,” terangnya.
Dewa Soma menyebut, sasih kapitu sampai sasih kesanga biasanya merupakan sasih yang rentan terjadinya cuaca ekstrem. Terkadang terjadi hujan secara tiba-tiba, kemudian panas yang terik. “Dari cuaca itu menimbulkan penyakit, sehingga perlu diadakan pembersihan alam, namanya Bhumi Sudha,” ucap Dewa Soma. (dir)
Editor : I Komang Gede Doktrinaya