Pura yang diresmikan pada tahun 1980 ini memiliki perjalanan panjang dalam proses pembangunan. Ada tujuh sumur ditemukan saat proses pembangunannya.
Bali Express menyempatkan diri untuk tangkil ke Pura Agung Blambangan, Senin (26/12) lalu. Secara struktur, pura ini terbagi menjadi tiga mandala, yakni nista, madya, dan utama. Di bagian nista mandala terdapat wantilan sebagai tempat istirahat para pamedek (umat yang datang).
Melangkah ke bagian madya mandala, suasana kian hening dan sejuk. Pohon beringin begitu tertata, dan sebelum memasuki areal utama mandala, pamedek wajib masirat tirta untuk menyucikan diri sebelum sembahyang.
Di bagian utama mandala, puluhan pohon cempaka tertanam rapi, membuat pamedek kian nyaman saat sembahyang. Terdapat sebuah palinggih Padmasana sebagai palinggih utama.
Pamangku Pura Agung Blambangan, Romo Mangku Tukimun Haryanto menuturkan, dibangunnya Pura Agung Blambangan tidak terlepas dengan perkembangan umat Hindu di wilayah Banyuwangi, Jawa Timur.
Peningkatan jumlah umat Hindu di kawasan itu mulai terlihat setelah tahun 1967-an. Perlahan tapi pasti, pertumbuhan yang signifikan rupanya tidak diiringi dengan pembuatan tempat ibadah. Kondisi itu membuat mereka putar otak memikirkan tempat persembahyangan.
Romo Mangku Tukimun menceritakan, berdasarkan catatan sejarah, keberadaan Pura Agung Blambangan memang erat dengan sejarah Kerajaan Blambangan yang dahulunya disebut dengan istilah Umpak Songo.
Umpak Songo adalah tumpukan batu berlubang mirip penyangga tiang bangunan yang berjumlah sembilan. Umpak berarti tangga, dan songo berarti sembilan.
Umpak Songo merupakan situs sisa Kerajaan Blambangan ketika ibu kota kerajaan pindah ke Ulupampang yang kini dikenal sebagai Kota Muncar. Situs Umpak Songo adalah runtuhan bangunan yang menyisakan 49 batu besar dengan sembilan batu diantaranya memiliki lubang pada bagian tengah yang diperkirakan berfungsi sebagai penyangga atau umpak.
Situs ini dahulunya digunakan sebagai balai pertemuan antara Bupati Blambangan, Raden Tumenggung Wiraguna dengan bawahannya.
Umpak Songo ini merupakan bagian penting dari Kerajaan Blambangan. Terbengkalai sejak Raden Tumenggung Wiraguna memindahkan ibu kota Blambangan ke lokasi yang sekarang menjadi pendopo Kabupaten Banyuwangi pada tahun 1774.
Dengan tidak terawatnya itu, akhirnya mengalami kerusakan, kemudian runtuh. Reruntuhan itu ditemukan kembali oleh Mbah Nadi Gede, pada tahun 1916-an saat membabat hutan dalam kondisi tertimbun. Ketika tanah digali bentuk reruntuhan ini lebih menyerupai sebuah candi.
Umpak Songo memiliki daya tarik tersendiri bagi pemeluk Hindu. Puncak ramainya Umpak Songo pada saat hari raya Kuningan, di mana pemeluk Hindu di Bali dan kota-kota lain berdatangan ke situs tersebut.
“Nah sejarah Pura Agung Blambangan dimulai pada saat dilakukan pemindahan tempat peribadatan umat Hindu di Umpak Songo. Pemindahan tersebut dilakukan karena Umpak Songo dirasa kurang memadai umat yang begitu banyak pada saat persembahyangan,” jelas pria berusia 82 tahun ini.
Keluarga umat Hindu pada tahun 1967 keluar mencari tempat pengganti tidak jauh dari situs Umpak Songo. Di lahan kosong, umat Hindu melakukan penggalian. Pada saat penggalian ditemukan sumber mata air atau sumur yang dipercaya ada kaitannya dengan Umpak Songo. Dan warga umat Hindu mempercayai bahwa sumur tersebut adalah peninggalan Kerajaan Blambangan.
Ajaibnya lagi, berselang beberapa tahun kemudian saat warga yang beragama Hindu akan melakukan perluasan jeroan dan pelataran pura, sumber lainnya kembali muncul. Air menyembur dari tanah saat warga melakukan penggalian untuk bangunan kori agung atau pintu utama pura.
Di sini sebenarnya ada dua, tapi yang satu tertutup karena tepat dibangun kori agung. Sementara, satu sumber lainnya juga muncul berada di jaba pura atau bagian luar pura ini. Lima sumber yang muncul di dalam kawasan Pura Agung Blambangan ini diyakini memiliki aura suci. Bahkan, tak hanya sebagai pelengkap ritual, tapi juga memiliki kekuatan karena dipercaya berkhasiat menyembuhkan penyakit dan hal-hal lainnya.
Sumur inipun menjadi tempat yang disucikan. “Anehnya setiap dibangun kok menemukan sumur. Jadi bangun kori agung juga menemukan sumur dua. Yang satu persis di tengah bangunan, yang satu ada juga sumur di sampingnya yang sekarang digunakan panglukatan. Pas membangun wantilan sekitar tahun 1993-1994 juga menemukan sumur dua buah. Sehingga total ditemukan tujuh sumur ditemukan. Namun dua ditutup. Sehingga sisa lima sumur,” ungkap Romo Tukiman.
Ia menambahkan, saat ini jumlah umat Hindu di Kecamatan Muncar selaku pangempon Pura Agung Blambangan jumlahnya mencapai 1.000 KK.
Editor : I Komang Gede Doktrinaya