Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Maha Pandita yang Jadi Pencetus Pendirian Meru di Besakih

I Komang Gede Doktrinaya • Jumat, 28 April 2023 | 22:17 WIB
ARCA : Arca Mpu Kuturan di Pura Silayukti, Desa Padangbai, Kecamatan Manggis, Karangasem Mpu Kuturan sebagai pencetus pendirian meru di Pura Besakih. I Putu Mardika/Dok Bali Express.  
ARCA : Arca Mpu Kuturan di Pura Silayukti, Desa Padangbai, Kecamatan Manggis, Karangasem Mpu Kuturan sebagai pencetus pendirian meru di Pura Besakih. I Putu Mardika/Dok Bali Express.  

 “Mpu Kuturan berada dalam dimensi ideologi yang berbeda-beda, seperti dikenal sebagai tokoh agama, arsitek beberapa pura di Bali, peng-usadha hingga menjadi pejabat kerajaan yang bergelar Senapati Kuturan yang merupakan pejabat penting di kerajaan pada waktu itu".


SINGARAJA, BALI EXPRESS-Sosok Mpu Kuturan memiliki peranan kuat dalam peradaban Hindu di Bali. Jasa besarnya banyak ditemukan dalam berbagai naskah.


Ada banyak naskah yang mengulas tentang perjalanan Mpu Kuturan. Naskah-naskah tersebut, seperti tutur, babad, usadha, kalpasastra, kanda, dan keputusan-keputusan yang termuat dalam prasasti.

Pada naskah lontar Mpu Kuturan, digambarkan sebagai sosok orang (Maha Pandita), sedangkan pada prasasti istilah Kuturan dijumpai sebagai Senapati Kuturan (jabatan).

Nyoman Suka Ardiyasa selaku Dosen STAHN Mpu Kuturan, Singaraja, mengatakan tokoh Mpu Kuturan bagi masyarakat Bali telah dikenal secara luas dan memiliki peranan penting dalam menata sistem religi masyarakat Bali.

Mpu Kuturan banyak melakukan revitalisasi pura yang ada di Bali. Seperti Pura Sakenan pada tahun 927 Çaka atau 1005 Masehi, melaksanakan odalan pemlaspasan, serta merevitalisasi bentuk Pura Agung Besakih.

Mpu Kuturan juga diyakini telah melakukan perubahan-perubahan dalam hal pemujaan, seperti menganjurkan pemakaian mantra-mantra bahasa Bali dan bahasa Sansekerta.

“Mpu Kuturan berada dalam dimensi ideologi yang berbeda-beda, seperti dikenal sebagai tokoh agama, arsitek beberapa pura di Bali, peng-usadha hingga menjadi pejabat kerajaan yang bergelar Senapati Kuturan yang merupakan pejabat penting di kerajaan pada waktu itu,” ungkap Suka Ardiyasa kepada Bali Express (Jawa Pos Group), Senin (24/4).

Suka Ardiyasa yang penelitian disertasinya mengangkat 'Mpu Kuturan dalam Tradisi Teks di Bali' menjelaskan bahwa salah satu naskah yang menyebutkan peranan Mpu Kuturan sebagai pencetus pendirian meru di Besakih adalah naskah tutur koleksi Gedong Kirtya dengan Nomor III B/24/753 yang berjudul Mpu Kuturan, yang menyebutkan : Ini lah sabda Mpu Kuturan di Majapahit ketika akan mendirikan meru di Besakih.

Penjelasan yang sama juga dapat dijumpai dalam naskah lontar yang berbentuk tutur dengan Nomor 172 IIIb/2 dengan judul 'Empu Kuturan' koleksi Museum Gedong Kirtya pada halaman pertama baris kedua disebutkan tentang Mpu Kuturan yang mendapatkan panugerahan Widhi Sastra berupa pengetahuan agama yang dibawa ke Bali untuk menata tatanan masyarakat Bali.

Naskah Babad Usana Bali koleksi Pusat Dokumentasi Bali dengan Nomor Kal 75 lembar kelima baris pertama juga menyebutkan peran Mpu Kuturan dalam menyempurnakan kahyangan yang ada di Bali seperti Sad Kahyangan, Kahyangan Tiga, dan Besakih sebagai kahyangan tertinggi.

“Ketiga naskah tersebut memberikan gambaran bahwa Mpu Kuturan merupakan sosok yang berjasa dalam memberikan konsep-konsep keagamaan yang dianut oleh masyarakat Bali serta menuntun masyarakat dalam mendirikan tempat suci baik berupa meru maupun pura kahyangan lainnya,” paparnya.

Dalam berbagai teks, Mpu Kuturan telah berjasa menawarkan konsep penggabungan kepercayaan Siwa, Budha, Waisnawa, dan sekte-sekte di Bali, yang kemudian dilakukan paruman di Bedahulu, Gianyar dan menyepakati adanya konsep Tri Murti sebagai simbol penyatuan sekte-sekte tersebut.

Dalam dimensi lain, Mpu Kuturan juga diyakini sebagai seorang penyembuh atau peng-usadha. Hal ini dapat dijumpai dalam naskah berbentuk usadha, yaitu naskah Taru Premana koleksi Gedong Kirtya dengan Nomor IIId 1854/12 pada bagian awal baris pertama dan kedua menyebutkan bahwa Mpu Kuturan sebagai seorang penyembuh yang mampu berkomunikasi dengan pohon-pohon yang bisa dijadikan obat-obatan.

Dalam naskah ini, disebutkan Mpu Kuturan mampu berbicara dengan tumbuhan terkait dengan kegunaan dan cara pemakaiannya. Pada naskah ini, Mpu Kuturan diberikan gelar Sang Prabu Mpu Kuturan yang identik dengan sebutan raja.

Sebagai seorang penyembuh, Mpu Kuturan diyakini sangat sakti mandraguna karena bisa berbicara dengan tumbuh-tumbuhan. Kesaktian yang dimiliki karena mendapatkan anugerah dari Dewa Ludra sehingga mampu menyembuhkan segala jenis penyakit.

Berbeda dengan yang termuat dalam naskah prasasti, satu pun tidak ditemukan istilah Mpu Kuturan.  Di sana ditemukan istilah Senapati Kuturan yang merupakan jabatan struktural pemerintah Bali Kuno yang tergabung dalam lembaga kerajaan yang disebut Pakirakira I Jro Makabehan.

Jabatan pada kerajaan Bali Kuno berdasarkan hirarkinya atau garis perintahnya dan wilayahnya dibagi menjadi dua, yaitu jabatan tingkat pusat dan jabatan tingkat desa. Prasasti-prasasti Bali, seperti Prasasti Sukawana, Prasasti Langgahan, Prasasti Bwahan, Prasati Sembiran dan prasasti lainnya yang dikeluarkan oleh Sri Maharaja Haji Jayapangus yang berkuasa dari tahun 1099 Saka (1178 M) — 1103 Saka (1181 M) menyebutkan Kuturan sebagai seorang Senapati memiliki kewenangan sangat tinggi dan diakui oleh seluruh wilayah kerajaan.

“Pejabat kerajaan yang bergelar Senapati Kuturan bertugas mengatur tentang tata cara pelaksanaan upacara. Alih aksara Prasasti Langgahan pada lembar IIIb juga ditemukan istilah sang Senapati Kuturan, merupakan pejabat tinggi kerajaan yang menghadiri Dewan Persidangan Istana yang wajib hadir menyaksikan anugerah paduka Sri Maharaja kepada penduduk desa tertentu dalam wujud prasasti,” kata akademisi asal Desa Wanagiri, Kecamatan Sukasada, Buleleng ini.

Pada naskah tutur, lanjut Suka Ardiyasa, Mpu Kuturan digambarkan sebagai seorang tokoh agama yang mengajarkan tata cara pembuatan meru serta ajaran tentang tata krama sang ratu Bali. Sedangkan naskah lontar Mpu Kuturan Nomor IIIb/24/753 koleksi Gedong Kirtya, sosok Mpu Kuturan digambarkan sebagai seorang tokoh agama yang mengajarkan tentang tata cara pembuatan pedagingan pada palinggih meru dan palinggih-palinggih lainya, seperti Palinggih Padmasana, Gedong Tarib, Gedong Sari, dan lainnya.

Lanjut dia, naskah Hempu Kuturan nomor Bab 99 koleksi Pusat Dokumentasi Bali digambarkan sebagai tokoh agama yang memberikan ajaran tentang tata cara piodalan dan banten sesajen yang harus dihaturkan serta disebutkan tentang tata kramaning menjadi pamangku.

Mpu Kuturan juga memberikan nama-nama dewa yang berstana di Pura Kahyangan Jagat di Bali. Selanjutnya pada naskah lontar Mpu Kuturan nomor Bab 99 koleksi Pusat Dokumentasi Bali, Mpu Kuturan digambarkan sebagai sosok pendeta dari Majapahit yang mendirikan Pura Kahyangan Jagat di Bali.

“Mpu Kuturan ini disebutkan sebagai inisiatif dalam pembangunan meru yang ada di Besakih. Ajaran Mpu Kuturan dalam naskah ini berupa ajaran Brahmana Ulanda Kateng, Sarining Kanda Empat, Tutur Aji Pengukiran, serta tentang kependetaan,” ungkap dosen Bahasa Bali ini.

Ajaran lain yang diajarkan oleh Mpu Kuturan adalah Purana Tatwa, Dewa Tatwa, Widisastra, menyempurnakan Kitab Kesuma Dewa, Padma Bhuwana-Prekempa dan Tingkahing Angwangun Kahyangan. Pada Prasasti, Senapati Kuturan juga memegang beberapa jabatan. Seperti Purohita/Bhagawanta (penasehat kerajaan), Senapati, Dharmmadyaksa (Mahkamah Agung), dan bahkan sebagai ketua lembaga/ Majelis Pakira-kiran I Jro Makabehan.

Dengan kapasitas dan otoritas yang dimiliki, Senapati Kuturan dapat melakukan berbagai aktivitas menjaga kerajaan sesuai dengan tugas dan kewajibannya sebagai pendamping dan sekaligus orang dekat raja.

Suka Ardiyasa yang juga Ketua Aliansi Peduli Bahasa Bali menyebutkan pada naskah tutur, berisikan Mpu Kuturan memberikan penugarahan berupa tata cara pendirian meru, jenis meru, serta pedagingan yang harus diisi dalam mendirikan pelinggih meru.

Pada naskah jenis ini, juga disebutkan Mpu Kuturan memberikan ajaran tentang tata cara pembuatan pratima atau pralinggan widhi serta bahan-bahan yang bisa digunakan.

“Mpu Kuturan juga memberikan konsep tentang dewa-dewa yang harus distanakan di pura yang ada di Bali, seperti dewa yang ada di Pura Besakih, dewa yang ada Pura Ulun Danu, dan Kahyangan lainnya yang ada di Bali,” sebutnya. (dik/wan/bersambung)

  Editor : I Komang Gede Doktrinaya
#tokoh suci #bali #Pencetus Pendirian Meru di Besakih #balinese #Mpu Kuturan dalam Berbagai Naskah #hindu #pura #tradisi #Maha Pandita