Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Ritual Perkawinan Hindu Bali: Mejauman, Base Wakulan, Makna, Alasan Pengantin Pria Berkunjung setelah 3 Hari

I Komang Gede Doktrinaya • Kamis, 8 Juni 2023 | 20:43 WIB
SARAT MAKNA: Base wakulan sarat makna dibawa oleh pengantin pria. Dosen Upakara STAHN Mpu Kuturan Singaraja Wayan Murniti. Dok Bali Express
SARAT MAKNA: Base wakulan sarat makna dibawa oleh pengantin pria. Dosen Upakara STAHN Mpu Kuturan Singaraja Wayan Murniti. Dok Bali Express

SINGARAJA, BALI EXPRESS - Upacara Pawiwahan atau perkawinan dalam tradisi Hindu di Bali selalu menampilkan prosesi Majauman yang tak terpisahkan.

Majauman adalah momen penting dalam upacara ini, di mana mempelai wanita memohon izin pamit (mapamit) karena mengalami perubahan statusnya.

Bagian integral dari prosesi pewiwahan umat Hindu di Bali ini adalah sarana yang disebut "base wakulan." Apa sebenarnya base wakulan ini?

Base wakulan umumnya dibawa oleh mempelai pria selama upacara Majauman.

Sarana ini kemudian dipersembahkan di Sanggah Kamulan, sisi keluarga pengantin perempuan.

Base wakulan ini terdiri dari berbagai komponen yang dirangkai dalam suatu wadah atau tempat yang berisi beras, daun pisang muda (plosor biyu), buah pinang muda, umbi-umbian, isin ceraken, serta pakaian sembahyang laki-laki dan perempuan.

Dosen Upakara STAHN Mpu Kuturan Singaraja, Wayan Murniti, menjelaskan bahwa base wakulan tidak boleh diambil (lungsur) selama tiga hari.

Inilah mengapa pengantin pria harus datang lagi ke rumah keluarga mempelai wanita setelah tiga hari untuk membuka dan menyerahkan isi base wakulan kepada orang tua pengantin perempuan.

Murniti menjelaskan bahwa dalam base wakulan terdapat beberapa sarana, termasuk sok kecil atau penarak, yang merupakan wadah anyaman bambu.

Bagian bawahnya berbentuk persegi empat dan tertutup untuk menjaga barang-barang di dalamnya tetap aman.

Di bagian atasnya, penarak berbentuk bundar, terbuka, dan lebih besar daripada bagian bawahnya, yang dirancang sebagai tempat penyimpanan berbagai komponen base wakulan.

Ada juga wastra, sepotong kain putih, yang digunakan untuk membungkus wakul agar tetap bersih dan rapi.

Di dalam wakul yang sudah dibungkus wastra tersebut, ada hiasan tapak dara dari janur, di atasnya diletakkan kurang lebih 1 kilogram beras sebagai simbol Sang Hyang Atma yang memberikan kehidupan.

Beras adalah simbol benih yang berasal dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam wujud atma.

Di atas beras, ada tunas pisang yang masih muda dan beberapa helai daun pisang yang sama. Tunas pisang dan daun pisang yang muda melambangkan amrtha.

Di bagian atas wakul, terdapat beberapa helai daun sirih yang masih memiliki tangkai, yang mengelilingi bundaran wakul.

Daun sirih dibentuk menyerupai lekesan dan beberapa batang kayu sugih yang masih muda juga ditempatkan di sisi wakul.

Ada juga buah pinang yang masih muda dengan tangkai yang diselipkan di samping daun sirih. Semua ini ditempatkan di dalam wakul.

Selain itu, dalam base wakulan terdapat pakaian sembahyang lengkap (arangsukan), canang sari, dan uang sesari yang ditempatkan di atas canang sari.

Sarana ini adalah pelengkap dari persembahan upacara, karena upakara yang disiapkan belum dianggap lengkap jika tidak diisi dengan canang sari.

Upakara base wakulan, seperti yang dijelaskan Murniti, adalah bentuk persembahan.

Tujuannya adalah agar pasangan pengantin yang baru menikah dapat menghaturkan sesajen berupa base wakulan sebagai bentuk rasa bhakti karena mereka telah diberkahi dan disatukan sebagai suami dan istri.

Tidak hanya menghaturkan upakara kepada leluhur dan dewa-dewi di pamerajan, tetapi pengantin pria juga memberikan beberapa sesajen kepada orang tua pengantin perempuan.

Perlu diingat bahwa base wakulan yang dipersembahkan di pamerajan baru akan diturunkan setelah tiga hari.

Kemudian isinya, termasuk pakaian adat, sesari, dan lainnya, akan diberikan oleh pengantin pria kepada orang tua pengantin perempuan.

Semua upacara ini bertujuan untuk meningkatkan kesucian diri, membangkitkan rasa bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, serta hidup harmonis dengan sesama manusia dan alam lingkungan.

Editor : I Komang Gede Doktrinaya
#tipat bantal #Tiga Hari Baru Bisa Dibuka #bali #balinese #Base Wakulan #hindu #pura #pawiwahan #Prosesi Majauman #perkawinan