Tak hanya memiliki Tradisi Mesalaran atau perang Ketupat. Desa Adat Padang Luwih, Desa Dalung, Kecamatan Kuta Utara, Badung, Bali, juga hingga kini masih melestarikan tradisi Hindu Bali dengan nama Nedunin Dewa Nini. Tradisi unik ini bahkan sudah dijalankan sejak abad ke-18.
Seperti diketahui, Desa Adat Padang Luwih memang kini menjadi desa yang cukup maju. Dahulu Desa adat Padang Luwih awalnya merupakan desa yang sangat subur dan sebagian besar masyarakatnya menggantungkan hidupnya pada sektor pertanian.
Namun dengan berkembangnya jumlah penduduk dan datangnya arus urban serta pengaruh pariwisata, maka untuk menunjang sektor pariwisata tersebut maka alih fungsi lahan tidak dapat dibendung lagi.
Sebagian besar tanah persawahan yang subur berubah menjadi bangunan–bangunan perumahan dan fasilitas lainnya untuk menunjang sektor pariwisata tersebut. Begitu juga dengan mata pencaharian penduduk desa adat Padang Luwih yang dulunya berprofesi sebagai petanai sekarang beralih keprofesi yang lainnya.
Meski demikian, tradisi agraris Nedunin Dewa Nini rupanya hingga kini masih dilestarikan. Krama meyakini, tradisi ini sebagai bentuk kearifan lokal yang memberikan dampak positif bagi kehidupan masyarakat.
Bendesa Adat Padang Luwih I Gusti Ngurah Oka Suradarma menjelaskan pelaksanaan Upacara Nedunin Dewa Nini ini tidak terlepas dari budaya agraris di Desa Adat Padang Luwih Dalung. Tradisi ini sudah dilakukan sejak jaman Kerajaan Mengwi sekitar abad ke -18.
Upacara Nedunin Dewa nini ini sebagai ucapan syukur atas hasil panen yang berlimpah kepada Dewi Sri sebagai dewi kesuburan dan kemakmuran dalam manifestasinya dalam bidang pertanian yang sering disebut dengan Dewa Nini.
Upacara ini dilaksanakan sebelum memanen padi (Manyi) yang dilaksanakan oleh masyarakat setempat. Tradisi tahunan ini melibatkan ratusan kepala keluarga di Desa Adat Padang Luwih, Desa Dalung.
“Dulu, masyarakat Padang Luwih dominan menjadi petani, panen selalu melimpah. Karenanya sebagai bentuk syukur dan terima kasih, digelarlah upacara ini dan berlanjut hingga saat ini,” jelasnya.
Dalam pelaksanaannya, rangkain upacara ini dilaksanakan selama 3 hari berturut turut. Dimulai sehari sebelum Hari Purnama Kedasa, pada hari Purnama, hingga sehari setelah Purnama ke dasa ini. Upacara Nedunin Dewa Nini ini dilakukan sesuai dengan dresta di Desa Adat Padang Luwih.
Persiapannya dimulai dengan kegiatan di masing-masing rumah warga, dengan cara membuat dan menghias Dewa Nini yang terbuat dari kelapa yang dikupas dan dihaluskan dari serabutnya (Daksina).
“Kemudian dirangkai menjadi sesajen yang disebut Pejati, Soda Pengajum, dan bulir padi utuh yang diikat menyerupai ikatan rambut wanita. Semua sarana upacara tersebut di tempatkan sedemikian rupa pada satu tempat sehingga tidak berhamburan. Di tingkat rumah tangga ini juga diadakan acara suguhan kepada Dewa Nini (Mesoda),” sebutnya.