KARANGASEM, BALI EXPRESS - Setiap satu tahun sekali, di Desa Adat Asak, Karangasem dilaksanakan satu tradisi Bali yang menggunakan sapi sebagai sarananya. Itu adalah nyepeg sampi atau menebas sapi. Tradisi Bali sendiri adalah tradisi bernafaskan Hindu.
Bendesa Adat Asak, I Wayan Segara yang di konfirmasi Jumat (30/6) mengungkapkan, tradisi itu merupakan suatu pecaruan supaya warga setempat mendapat keselamatan. Pelaksanaannya pada Usaba Kawulu, yang jatuh pada sasih Kawulu.
"Dilaksanakan pada wewaran Beteng saat sasih Kawulu," ujarnya.
Yang terlibat dalam prosesi tersebut adalah truna atau pemuda disana yang nantinya akan menebas sapi tersebut digunakan sebagai sarana upacara. Namun sebelum itu, lebih dulu sapi tersebut di hias dan dikelilingkan di areal desa setempat.
Sapi yang di gunakan bukanlah sapi sembarangan. Ia menyebut, yang digunakan itu adalah sapi butuhan yang berukuran cukup besar. “Sapi yang masih butuhan yang berukuran besar. Menjelang upacara baru beli, tapi biasanya warnanya hitam,” jelasnya.
Setelah dibawa keliling, sapi itu akan dibawa kembali ke Pura Patokan untuk di upacarai. Sedangkan para pemuda dengan membawa senjata khusus yang digunakan untuk nyepeg sampi menunggu di luar. Kemudian ketika prosesi tersebut selesai, barulah sapi tersebut di tebas.
Editor : I Putu Suyatra