Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Ragam Warna Pisang Simbol Panca Dewata bagi Umat Hindu di Bali

I Putu Mardika • Minggu, 2 Juli 2023 | 21:13 WIB
SARANA UPACARA HINDU: Pisang Tembaga yang digunakan sebagai sarana wajib untuk banten sesayut pasupati saat Tumpek Landep.
SARANA UPACARA HINDU: Pisang Tembaga yang digunakan sebagai sarana wajib untuk banten sesayut pasupati saat Tumpek Landep.

BALI EXPRESS - Ada beragam jenis pisang yang digunakan oleh umat Hindu di Bali sebagai sarana upacara yadnya. Namun, secara umum buah pisang dibedakan berbagai warna atau panca datu sebagai sarana yang digunakan dalam upacara yadnya.

Seperti ada pisang berwarna putih, pisang berwarna merah, warna kuning, warna hitam dan hingga warna campuran. Menurut Penekun Lontar, Ida Bagus Made Baskara dari Geriya Gunung Kawi Mauaba, Tampak Siring, Gianyar pisang dibedakan berbagai warna sebagai simbol panca dewata.

Sebut pisang tembaga yang berwarna merah. Pisang tembaga ini menjadi sarana yang wajib ada digunakan saat pembuatan banten untuk upacara Tumpek Landep. Pisang ini sebagai simbol Pasupati.

Ada pula istilah Biu Lalung. Pisang ini memiliki ciri tandannya (ijasannya) atau buahnya sangat sedikit. Namun, dari Biu Lalung yang dijadikan sarana adalah pepusuhnya (jantung pisang). Karena pepusuh pisang itu simbolis sebagai kekuatan Siwa.

“Makanya di dalam tubuh manusia pada jantung itu Bahasa kawinya adalah Pepusuh (kedali puspa) sebagai linggih Siwa. Biu Lalung ini sebagai simbol pohon surgawi, maka dia juga sebagai simbol Siwa,” imbuhnya.

Penekun Lontar Ida Bagus Made Baskara
Penekun Lontar Ida Bagus Made Baskara

Di sisi lain, pisang juga kerap dijadikan sebagai sarana ilmu Magic. Buah pisang dijadikan boneka fudu, atau pemanfaatan proses menyantet orang jarak jauh. Biasanya ketika ada orang yang ingin disakiti, maka digunakanlah pepusuh pisang atau jantung pisang sebagai media santet.

Jantung pisang kemudian digambar wajah orang yang akan disakiti secara jarak jauh. Lalu pepusuh itu ditusuk dengan jarum, duri. “Karena simbol pepusuh adalah niasa atau jantung seseorang. Inilah yang disalahgunakan oleh orang yang menggunakan ilmu majik,” tutupnya.

Editor : I Putu Suyatra
#bali #yadnya #hindu #pisang #Ida Bagus Made Baskara