BALI EXPRESS- Pura Dalem Purwa di Kelurahan Penarukan, Bueleng rutin melaksanakan tradisi mabuu-buu setiap enam bulan sekali.
tradisi Mabuu-buu dilaksanakan tepatnya pada Anggarakasih Wuku Medangsia. Mabuu-buu diyakini bisa menolak bala, sehingga petani bisa memanen hasil pertaniannya dengan baik.
Kelian Pengempon Banjar Adat Dalem Purwa I Wayan Rian mengatakan tradisi mabuu-buu dilaksanakan serangkaian piodalan di Pura Dalem Purwa.
Tidak ada sejarah pasti sejak kapan tradisi mabuu-buu ini diselenggarakan serangkain piodalan di Pura Dalem Purwa. Hingga kini belum ada sumber tertulisnya.
Namun demikian, tradisi mabuu-buu ini rutin dilaksanakan secara turun-temurun dari generasi ke generasi.
Sebelum mabuu-buu pada malam hari dilaksanakan, krama Desa Adat Penarukan, dari pagi hingga sore hari terlebih dahulu melaksanakan upacara piodalan di Pura Dalem Purwa.
Krama gotong royong ngayah untuk menyukseskan pelaksanaan pujawali. Ada sejumlah sarana upacara yang dipersembahkan dalam ritual mabuu-buu ini.
Sarana itu di antaranya banten pejati, banten prayascita, serta canang sari. Penggunaan sarana banten pada pelaksanaan tradisi mabuu-buu ini sangat penting.
“Karena banten digunakan sebagai simbol permohonan kehadapan Ida Sang Hyang Widhi yang berstana di Pura Dalem Purwa, agar diberikan kelancaran dalam pelaksanaan tradisi mabuu-buu,” kata Rian.
Piodalan ini diawali dengan pelaksanaan mapiuning, macaru, dan menek ambu yang dilaksanakan sehari sebelum dilaksanakannya piodalan.
Keesokan harinya baru dimulai pelaksanaan piodalan serta tradisi mabuu-buu, karena tradisi ini merupakan rangkaian dari piodalan.
Sebelum pelaksanaan saling lempar api ini, beberapa krama Tri Datu telah mempersiapkan sabut kelapa di jaba sisi pura yang akan dihidupkan dengan api suci dari Pura Bedugul Peteluan.
Setelah api dihidupkan pada sabut kelapa yang ada di jaba sisi pura, maka tradisi mabuu-buu pun dimulai.
Tradisi ini diawali dengan pelemparan sabut kelapa berisi api oleh Kelian Pura Dalem, jadi pelemparan pertama tersebut menandakan tradisi sudah boleh dimulai.
Proses saling lempar api ini dilakukan hanya sebentar. Apabila dirasa sudah cukup maka Kelian Desa Petang Dasa akan memberikan isyarat untuk mencukupkan proses pelemparan api.
Masyarakat yang turut serta dalam pelaksanaan tradisi mabuu-buu ini tidak boleh mudah emosi apabila terkena percikan api. Peringatan akan hal ini telah disampaikan sebelumnya saat persembahyangan.
Oleh karena itu seluruh krama biasanya sembari bersorak saat melaksanakan tradisi ini yang menandakan bahwa mereka melaksanakan tradisi dengan hati yang gembira dan penuh ketenangan
Prosesi mabuu-buu kemudian diakhiri dengan pelaksanaan persembahyangan bersama di jaba tengah Pura Dalem Purwa Kelurahan Penarukan.
Sebelum dilaksanakannya persembahyangan ini, terlebih dahulu pengayah jro mangku nyoroh banten yang akan digunakan pada saat persembahyangan.
“Seluruh prosesi upacara dipimpin langsung oleh Jro Mangku Pura Dalem Purwa. Pelaksanaan tradisi serta diiringi oleh sekaa gong khusus dalam pelaksanaan tradisi ini, serta sarati banten. Gong yang digunakan untuk mengiringi pelaksanaan tradisi ini yaitu gong pragina,” paparnya. (*)
Editor : I Made Mertawan