BALI EXPRESS – Hari Raya Kuningan merupakan bagian dari rangkaian Hari Raya Galungan dalam Hindu, yang jatuh pada 10 hari setelah Galungan, yaitu pada Saniscara (Sabtu) Kliwon Wuku Kuningan.
Kata Kuningan memiliki makna “kauningan” yang artinya mencapai peningkatan spiritual dengan cara introspeksi agar terhindar dari mara bahaya.
Tokoh agama Hindu yang juga pendeta Hindu, Ida Pedanda Kebayan melalui akun Tiktoknya menjelaskan, pada Hari Raya Kuningan tidak dianjurkan melakukan persembahyangan melewati pukul 12.00 siang.
Menurut Ida, pada Wuku Kuningan sebagai penguasanya adalah Dewa Indra. Sedangkan wuku setelah Kuningan adalah Wuku Langkir yang penguasanya adalah Bhatara Kala atau Dewanya para Kala.
“Dewa Indra inilah penguasa sifat-sifat dewa dan kebajikan, sedang Bhatara Kala ini penguasa sifat-sifat butha,” ujarnya.
“Nah hari terakhir dalam wuku Kuningan adalah hari Saniscara Kliwon Kuningan,” jelas Ida Pedanda Kebayan, dikutip, Rabu (9/8).
Lebih lanjut, Ida Pedanda Kebayan memaparkan, matahari tertinggi pada hari itu adalah pada pukul 12.00 siang.
Setelah jam 12 siang, matahari semakin turun dan menuju kegelapan dan beralih dari Wuku Kuningan menuju ke Wuku Langkir.
“Dari sifat-sifat dewa menjadi sifat-sifat bhuta. Ketika melewati jam 12 siang, dipercaya bahwa persembahan ini dinikmati oleh bhatara kala dan menimbulkan sifat-sifat tidak baik pada diri kita,” pungkasnya.
Editor : Nyoman Suarna