BALI EXPRESS - Dalam upacara Hindu Bali acapkali menggunakan sarana berupa jajan atau oleh orang Bali disebut jaja. Di antaranya jaja suci, jaja gina, jaja uli, satuh, dan dodol.
Rupanya jaja tersebut bukanlah sembarang jajan, tetapi memiliki makna filosofis yang mendalam.
Beragam jajan tersebut dipersembahkan bersama sarana lainnya. Bahkan satuh, dodol, iwel, menjadi jajanan yang sering dipersembahkan saat merayakan Hari Galungan dan Kuningan.
Sedangkan jaja suci hampir selalu ditemukan di Banten Suci, Banten Saji Darpana, Banten Jerimpen, Banten Saraswati maupun banten yang dalam upacara besar lainnya.
Kepala Kantor Agama Kota Denpasar, Ida Bagus Ketut Rimbawan, menjelaskan, jajan yang digunakan untuk ritual panca yadnya bukan sembarang jajan.
Bahkan para leluhur terdahulu membuat jajan sudah pasti ada rujukan berupa sumber sastra.
Seperti tertuang dalam Lontar Yadnya Prakerti, seorang sarati banten dari awal membuat banten sampai melaspas harus memperhatikan etika dalam membuat sanganan (jajan).
“Membuat banten, sanganan gina harus memperhatikan tata cara. Menjaga pikiran, perkataan, dan perbuatan,” kata Rimbawan.
Bahkan, lanjutnya, hal itu merupakan bagian dari meyoga. Karena sifatnya ngeret indria (mengendalikan hawa nafsu) sehingga jaja itu dianggap suci.
Ia menjelaskan, proses pembuatan jaja gina tidak hanya memperhatikan etika, tetapi juga estetika. Sebab, dibuat berdasarkan keindahan dan pewarnaan.
Jika diperhatikan, jaja gina dibuat dari adonan beras ketan yang dimasak, lalu dibuat bentuk bulat atau persegi. Kemudian diberikan warna sesuai dengan kebutuhan.
Setelah dibentuk sedemikian rupa, maka jajan gina dijemur sampai kering, selanjutnya digoreng sampai matang.
Jajan ini kemudian dibungkus agar tetap kondisinya renyah dan tidak melempem.
“Proses dan cara membuat jaja gina sangat penting. Karena tentu ada konsentrasi, niat baik dan beryoga,” jelasnya.
Sebab, sambungnya, jaja begina merupakan satu rangkaian dengan yang lain, seperti jaja uli, dodol, satuh, jaja wajik, sirat, jaja matahari, jaja sempani.
“Ini merupakan suatu rangkaian yang harus dipahami oleh umat. Bukan sekedar jajan. Jadi jangan menambah-nambahi atau mengurangi. Ini memang harus wajib ada,” imbuhnya.
Rimbawan pun memaknai jaja gina secara leksikal.
Menurutnya, kata gina itu berarti geginan atau pekerjaan. Kalau sudah bekerja, sudah pasti ada hasil berupa materi. Materi inilah yang digunakan untuk beryadnya.
“Artinya harus bekerja terlebih dahulu, sehingga bisa menghasilkan uang. Selanjutnya dari uang (dana) kita bisa beryadnya,” ungkapnya.
“Tentu pesan moral ini penting, maknanya agar kita tidak menjual sawah untuk beryadnya,” jelasnya.
Kemudian jaja uli dibuat dari bahan ketan, beras, parutan kelapa dan gula merah. Adonan terlebih dahulu dimasak hingga matang. Kemudian ditumbuk sampai halus.
Jajan tersebut dibentuk silinder, lalu diiris tipis. Selanjutnya dijemur hingga kering, lalu digoreng.
Namun ada juga yang membuat jaja uli tanpa harus dijemur dan digoreng. Tetapi cukup dikukus, lalu disajikan dengan tape pada saat Hari Raya Galungan maupun Kuningan.
Jaja uli, sebut Rimbawan bermakna keuletan. Apabila pekerjaan itu terus dikerjakan tanpa berhenti, maka diartikan ulet, ulik, ataupun tekun.
Bila pekerjaan itu ditekuni, sudah pasti menghasilkan sesuatu yang bisa menghidupi keluarga dan orang lain.
“Inilah makna jaja uli, karena diartikan sebagai proses ketekunan. Dalam bekerja, jika seseorang sudah tekun, sudah pasti bisa berbuah hasil yang memuaskan. Kita diajarkan berproses,” sebutnya.
Selain itu, ada pula jaja satuh. Jajanan ini terbuat dari campuran ketan yang disangrai, lalu dicampurkan gula pasir, dan dihaluskan.
Tetapi, ada pula yang menggunakan kacang hijau sebagai bahan utama. Kacang hijau tersebut disangrai, dan ditambahkan gula, barulah dihaluskan.
Satuh ini dibungkus dengan daun jagung kering, lalu diikat. Terkadang juga dicetak dengan bahan cetakan, sesuai dengan keinginan, kemudian siap untuk dipersembahkan.
Dikatakan Rimbawan, satuh dimaknai satuuh-tuuh atau sepanjang umur. Jadi jangan pernah berhenti bekerja dari kecil sampai tua.
Jaja satuh ini artinya setuuh tuuh. Dari kecil sampai dengan tua agar ditekuni. Jangan pernah berhenti bekerja.
Ulian karya, ulian gina, kita bekerja ulet sampai menghasilkan sesuatu. Apabila pekerjaan sudah dilaksanakan dengan setuuh tuuh, dan belum juga menghasilkan, maka dol dol pekerjaan itu, yang berarti diteruskan.
“Orang membuat dodol itu tidak sembarangan. Karena proses pembuatannya bahkan konsepnya murwa daksina. Dari utara ke selatan. Biar mau mepawakan Dewa. Sehingga mabuat (bermanfaat),” ungkapnya.
Dodol menjadi sarana penting yang dipersembahkan dalam berbagai ritual di Bali.
Dodol dibuat dari beras ketan, ketan hitam, dan gula aren. Adonan itu lalu dihaluskan dan dimasak di kuali besar sampai mengental.
Setelah matang dodol dibungkus dengan daun jagung yang sudah tua.
Editor : Nyoman Suarna