SINGARAJA, BALI EXPRESS- Wayang Wong Tejakula, Buleleng, Bali sudah ditetapkan menjadi warisan budaya dunia oleh UNESCO.
Kendati demikian, Wayang Wong di Desa Tejakula ini tetap sakral. Untuk pementasannya tidak boleh sembarangan.
Wayang Wong yang dipentaskan di luar saat festival atau acara khusus adalah duplikat dari Wayang Wong itu.
Sementara Wayang Wong yang sakral hanya boleh dipentaskan di Desa Adat Tejakula.
Koordinator Penari Wayang Wong Ketut Artha Swatara menjelaskan bahwa Wayang Wong sakral di Pura Pemaksan dipentaskan dua kali saat pangebek piodalan dan pangelebar di Pura Kahyangan Tiga, Pura Pemaksan dan Pura Dangka dan hanya boleh dipentaskan di Desa Adat Tejakula.
“Selain versi sakral ada juga versi duplikat. Yang duplikat itulah yang dipertontonkan kepada tamu atau tampil di sebuah acara di luar desa,” kata Swatara.
Wayang Wong Duplikat ada sejak tahun 1990-an. Wayang ini telah sering tampil baik di luar negeri dan dalam negeri serta di hotel-hotel sebagai seni pertunjukan.
Wayang Wong duplikat hanya kostum dan tapel yang diduplikatkan. Diciptakan sejak tahun 1970-an.
Penciptanya adalah panglingsir seniman Guru Sujana dan Tusan atas permintaan tamu-tamu sebagai seni tontonan.
Baca Juga: Banyak Jenis Tari Rejang Bermunculan, Manggala PAKIS Bali Ingatkan Harus Tetap Sesuai Pakem
Wayang Wong merupakan sebuah tarian yang menceritakan kisah pewayangan Ramayana 7 Kanda dengan penari memakai topeng baik sebagai pasukan Hanoman, Raja, maupun Dewi dan Parwa cerita Mahabarata tanpa menggunakan topeng.
“Total 200 krama secara turun-temurun ngayah sebagai penari. Konon jika tidak meneruskan menjadi krama akan mengalami ketidakberuntungan,” ungkapnya.
Kemunculan Wayang Wong ini berdasarkan kisah, sejumlah kelompok dari Bangli dan Blahbatuh Gianyar membawa kesenian gambuh dengan parwa ke Desa Tejakula dan menjadi akulturasi budaya. Dan terciptalah kesenian Wayang Wong. (*)
Editor : I Made Mertawan