Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Hanya Ada di Bali; Begini Makna Palinggih Jaksa yang Ada di Sejumlah Pura bagi Umat Hindu

I Putu Mardika • Jumat, 18 Agustus 2023 | 14:24 WIB
Pura Kerta Kawat Desa Banyupoh, Kecamatan Gerokgak, Buleleng
Pura Kerta Kawat Desa Banyupoh, Kecamatan Gerokgak, Buleleng

BALI EXPRESS - Umat Hindu di Bali memang sangat berbeda dengan daerah lainnya.

Terutama soal bagaimana cara umat Hindu di Bali melakukan pemujaan dan membuat simbol - simbol.

Salah satu yang unik dan hanya ada pada umat Hindu di Bali adalah pelinggih jaksa. Palinggih ini ada di sejumlah pura di Bali.

Jaksa sendiri diidentikkan dengan menegakkan keadilan secara sekala. Begitu juga dalam sejumlah pura yang ada di Bali, bahkan menstanakan pelinggih Jaksa.

Pelinggih ini konon diyakini sebagai tempat untuk memohon keadilan.

Kata Jaksa berasal dari bahasa Sansekerta yaitu Adyaksa selanjutnya menjadi kata serapan ke dalam bahasa Indonesia dengan lafal kata Jaksa.

Berdasarkan kata Jaksa yang sepadan artinya dengan kata Adyaksa, maka sebagian masyarakat Hindu di Bali untuk memuja Tuhan yang fungsinya memberi keadilan disebuah Palinggih dengan berbagai sebutan.

Di Bali, ada sejumlah palinggih Jaksa. Seperti Palinggih Jaksan di Desa Blahbatuhh-Gianyar, Palinggih Sedahan Jaksa di Desa Blega Gianyar.

Kemudian ada juga Palinggih Ida Bagus Jaksa di Desa Kayuputih dan Palinggih Jaksa Agung, Hakim Agung dan Panitera di Pura Kertakawat Gerokgak Buleleng.

Umat Hindu di Bali memberi tempat keadilan yang sangat mulia dan utama, karena dengan tercapainya keadilan dalam setiap kehidupan akan membawa keamanan dan kesejahteraan, itulah sebabnya umat Hindu memuja Sedahan Jaksa.

Secara methologi Adyaksa diperankan oleh Sanghyang Jogormanik sebagai bawahan Bhatari Durga sebagai kekuatan Siwa.

Sebut saja Pura Jaksan, yakni di Desa Bedhulu, Gianyar. Ada pula sebuah Palinggih Sedahan Jaksa terletak di Madya Mandala Pura Dalem Blega, Gianyar. Seperti diungkapkan Jero Mangku Pura Jaksan Blahbatuh Gianyar I Gusti Putu Kanten.

Ia  menyampaikan bahwa Pura ini sebagai peninggalan purbakala dan sering difungsikan untuk mohon keselamatan ternak dari penyakit.

Hal ini terbukti dengan adanya Palinggih gedogan sebagai tempat mengikat sapi pada zaman dahulu.

Begitu juga dengan Pelinggih Ida bagus Jaksa di Desa Kayuputih, Kecamatan Banjar, Buleleng.

Pengempon Pura Puseh, Jero Mangku Mesin menjelaskan bahwa Palinggih Ida Bagus Jaksa di Pura Puseh Kayuputih merupakan Palinggih yang terdiri dari papelik yang dilengkapi dengan sarana timbangan terbuat dari kayu.

Secara fungsional, timbangan adalah untuk menimbang atas niat baik masyarakat dalam melakukan suatu upacara yang dilaksanakan di Pura Luhur Munduk.

Serta melihat apakah dengan timbangan tersebut upacara itu dianggap suskses atau tidak

Uniknya, Simbol timbangan yang terbuat dari kayu yang tergantung di Palinggih Ida Bagus Jaksa menurut Mangku Mesin yang dipergunakan sebagai beban timbangan adalah 2 (dua) buah sarana upacara yang disebut daksina.

Daksina adalah sarana upacara inti sebagai perwujudan Siwa. Inilah yang ditimbang.

“Apabila kedua daksina itu tidak seimbang dalam timbangan dan sebelum masyarakat menyatakan seimbang, maka daksina yang lebih ringan ditambahkan beras untuk mencapai keseimbangan antara paica (anugerah) dan bhakti persembahan yang dilakukan secara ikhlas di Pura Luhur Munduk,” jelasnya.

Editor : I Putu Suyatra
#bali #hindu #palinggih jaksa #pura