Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Enam Tempat Melukat Populer di Bali, Panoramanya Indah Erat dengan Kisah dan Mitologi

I Putu Mardika • Minggu, 27 Agustus 2023 | 05:12 WIB
Tempat melukat di Pura Tirta Empul, Tampaksiring, Gianyar Bali
Tempat melukat di Pura Tirta Empul, Tampaksiring, Gianyar Bali

BALI EXPRESS - Hari libur akhir pekan bisa diisi dengan berkunjung ke sejumlah tempat melukat yang ada di Bali.

Melukat bisa dijadikan momentum untuk melakukan healing. Selain memberikan vibrasi yang positif, melukat juga diyakini dapat mengurangi ketegangan setelah beraktifitas dalam sepekan.

Di Bali, ada enam tempat melukat yang direkomendasikan. Selain memiliki panorama yang indah, tempat melukat ini juga erat dengan berbagai kisah dan mitologi yang sampai sekarang diyakini sebagai tempat pengobatan baik secara fisik maupun psikis.

Berikut enam tempat melukat yang tersebar di Bali dan layak direkomendasikan untuk dikunjungi saat akhir pekan.

  1. Pura Tirta Empul Tampaksiring, Gianyar

Pura tirta Empul terletak di Desa Manukaya Let, Kecamatan Tampaksiring, Kabupaten Gianyar.

Pura ini menjadi sarana melukat yang tidak hanya dikenal di Bali, bahkan di manca negara. Jarak lokasi ini dari Denpasar sekitar 45 menit perjalanan.

Terdapat sebelas pancuran yang ada di areal Pura Tirta Empul.

Setiap pancuran memiliki makna seperti tirta kamandalu, tirta pebersihan, tirta amerta dan tirta penglukatan.

Menariknya, penglukatan solas dilengkapi dengan nama dewa-dewi yang memberkati tirta yang mengalir di setiap pancuran.

Seperti Dewi Gangga, Dewi Saraswati, Dewa Iswara, Dewa Maheswara, Dewa Brahma, Dewa Rudra, Dewa Mahadewa, Dewa Sangkara, Dewa Wisnu, Dewa Sambu dan Dewa Siwa. Pemedek yang melukat bisa berjejer secara bergiliran menikmati segarnya tirta yang mengalir.

Tirta Empul dilengkapi fasilitas penunjang, seperti ruang bilas, penitipan barang, penyewaan handuk dan kain panjang, selendang, dan stan makanan dan minuman.

Bahkan bila pengunjung tidak sempat membawa alat sembahyang maka canang, kewangen, dupa hingga pejati dapat diperoleh sebelum pintu masuk.

Keamanan pengunjung juga diperhatikan, setidaknya pengunjung yang melakukan persembahyangan seusai mandi suci tidak terganggu oleh wisatawan yang lalu lalang.

Mata air di area jaba tengah pura menjadi sumber air pancuran dan diyakini akan terus mengaliri permandian sepanjang tahun.

Secara ekonomis, lokasi ini menyumbang pendapatan yang relatif tinggi dari berbagai sarana yang disediakan bagi pengunjung yang melukat.

 

  1. Pura Campuhan Windhu Segara

Pura ini terletak di tepi pantau Padang Galak Desa Kesiman Denpasar. Pemedek yang nangkil untuk melukat tak hanya berasal dari Denpasar dan sekitarnya, namun juga pelosok Bali. Bahkan, wisatawan mancanegara juga kerap melukat di pura ini.

Pemedek bisa melukat di penglukatan Sapta Sindu, yang merupakan tempat untuk penyucian Dasa Mala. Prosesinya sederhana. Pemedek terlebih dahulu melukat di ajeng linggih Bhatara Wisnu dengan sarana kelungah Nyuh Gading. Setelah itu barulah mandi di campuhan yang merupakan pertemuan air Sungai dengan air laut.

Pemdek bisa nangkil saat Kajeng kliwon, Purnama dan Tilem. Namun, hari hari biasa juga diperbolehkan untyuk melukat. Sarana yang dibawa bisa berupa banten pejati sebanyak dua buah.

Pertama digunakan untuk penglukatan dasa mala, dan satu pejati lagi untuk digunakan selesai melukat. Pejati ini dihaturkan di penataran pura.

  1. Pancora Tirta Sudamala

Pancoran Tirta Sudamala terletak di wilayah Kota Bangli, Kabupaten Bangli. Tempat melukat yang satu ini bahkan tidak pernah sepi dari pemedek yang nangkil.

Mereka yang datang untuk melukat berasal dari berbagai wilayah di Bali

Pancoran ini sangat mudah dijangkau oleh beragam moda kendaraan. Baik kendaraan roda dua maupun roda empat. 

Di sini terdapat tiga sumber mata air. Seperti Tirta Bulan, Langse dan Campuhan.

Tirta bulan berfungsi sebagai tempat untuk memohon kecemerlangan kehidupan. Kemudian Tirta Langse untuk memohon kelancaran dalam usaha dagang.

Sedangkan Tirta Campuhan yang airnya berasal dari dua pohon beringin kembar diyakini berfungsi untuk menyembuhkan penyakit medis dan non medis.

Uniknya, pemedek yang mengalami sakit non medis umumnya muntah saat melukat di areal ini. Tak jarang, pemedek bahkan bisa kesurupan saat dilukat.

Sarana yang digunakan seperti banten pejati untuk dihaturkan di pura Sudamala.

  1. Pura Luhur Tamba Waras

Tempat melukat yang bisa direkomendasikan di Tabanan adalah Pura Luhur Tamba Waras. Pura ini berlokasi di Desa Sangketan, Kecamatan Penebel. Posisi berada di lereng selatan Gunung Batukaru atau sekitar 20 kilometer dari Kota Tabanan, ke arah utara.

Kawasan ini sering disebut penglukatan Sapta Gangga. Bukan tanpa alasan mengingat di areal ini terdapat tujuh sumber mata air untuk dijadikan sebagai sarana penyucian secara sekala niskala.

Tujuh mata air tersebut diantaranya Tirtha Sanjiwani, Kamandalu, Kundalini, Pawitra, Maha Pawitra, Pengurip dan Tirtha Pasupati. Selain sebagai penyucian, ketujuh sumber mata air juga diyakini dapat menyembuhkan penyakit secara sekala dan niskala.

Sarana yang bisa dibawa saat melukat di Pura Luhur Tamba Waras yakni bungkak nyuh gading, banten pejati, canang sari dan dupa.

Prosesi melukat diatur sedemikan rupa. Pemedek bisa mengikuti petunjuk arah yang telah terpampang di lokasi. Pemedek terlebih dahulu melakukan kumur dan raup kemudian meminum sebanyak tujuh kali di setiap sumber mata air pancuran. Setelah itu barulah melukat.

Selanjutnya melukat menggunakan nyuh gading. Pemedek juga dapat memohon obat berupa minyak. Minyak ini berasal dari campuran daun kayu putih yang dipetik di area pura.

  1. Pura Taman Beji Manuaba

Pura Taman Beji Griya Gede Manuaba Punggul berlokasi di Jalan pekandelan, Banjar Trinadi, Desa Punggul, Abiansemal, Badung.

Tempat melukat ini bisa diakses dengan waktu sekitar 30 menit dari Denpasar.

Tempat melukat ini dikelola oleh Geriya Gede Manuaba Punggul. Tempat ini sudah ada sejak puluhan tahun silah. Hanya saja dibuka baru beberapa tahun ini.

Di pura ini bisa ditemukan padmasari, Lingga Yoni, piasan dan pelangkirran. Pemedek yang nangkil cukup membawa dua buah pejati dan beberapa canang. Namun, harus diperhatikan agar yang melukat tidak dalam kondisi cuntaka.

Sebelum melukat, pemedek wajib matur piuning terlebih dahulu di aera pelinggih yang berada di atas air terjun. Setelah itu barulah melukat.

Caranya dengan menepuk nepuk sebanyak tiga kali di area ubun ubun, tiga kali di area otak kecil, dan mencuci muka tiga kali dan minum sebanyak tujuh kali.

Uniknya, pemedek bisa berteriak sekencang mungkin untuk menghilangkan segala mala di dalam diri.

Kemudian bila melukat di areal tirta yang muncul dari bedhawang nala maka tepuk ubun-ubun sebanyak 11 kali, tiga kali di area otak kecil, tiga kali berkumur, dan tujuh kali diminum.

Selanjutnya nunas tirta di patung Ratu Niang, bergeser ke Patung Lingga dengan meminum air pancuran sebanyak tiga kali dan menempelkan tiga kali di batu di bawah lingga.

  1. Penglukatan Pancoran Solas di Sangeh

Tempat melukat ini sangat popular bagi Masyarakat Badung sejak dibuka pada 2014 silam. Lokasinya di Desa Sangeh, Kecamatan Abiansemal, Kabupaten Badung.

Kondisinya yang asri membuat tempat ini kerap didatangi oleh pemedek untuk melukat. Selain itu, pemadangan yang indah membuat pemedek betah berada berlama-lama di areal Pancoran Solas Sangeh.

Sesuai Namanya, pancoran solas terdapat 11 pancoran. Terdiri dari Sembilan pancuran dewata Nawa Sanga, dan dua buah pancuran Dewi Gangga dan Dewi Saraswati.

Sarana yang dibawa jika melukat ke areal ini adalah canang sari. Namun, jika ingin membawa banten Pejati juga diperbolehkan.

Tata cara melukat bisa diawali dengan persembahyangan dengan menggunakan sarana canang atau pejati.

Kemudian sebelum melukat disarankan menghaturkan canang di sebelas titik pancuran.

Proses melukat dapat dilakukan dengan berlumur tiga kali di setiap pancuran, meminum airnya tiga kali, lalu melukat dengan mengguyur di bagian kepala.

Setelah itu bisa dilanjutkan dengan melakukan persembahyangan.

 

Editor : I Putu Suyatra
#melukat #bali