Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Mau Belajar Yoga? Simak Tingkatannya yang Disebut dengan Astangga Yoga

Putu Agus Adegrantika • Jumat, 1 September 2023 | 14:00 WIB
Penyuluh Agama Hindu Kementerian Agama Kabupaten Tabanan, Luh Sonia Candra Juwita saat memberikan materi yoga.
Penyuluh Agama Hindu Kementerian Agama Kabupaten Tabanan, Luh Sonia Candra Juwita saat memberikan materi yoga.

BALI EXPRESS- Bagi para pemula atau yang tertarik dengan yoga, penting diperhatikan tingkatan yoga.

Sesuai ajaran agama Hindu, yoga terdapat delapan tingkatan. Tingkatan tersebut disebut dengan Astangga Yoga. Apa itu?

Yoga menurut filsafat Samkhya, total terdiri dari 25 kategori atau yang disebut dengan guna. Delapan tingkatan yoga tersebut diberikan nama sebagai Astangga Yoga. Hal itu pun tertuang dalam ajaran Samkhya.

Penyuluh Agama Hindu Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Tabanan Luh Sonia Candra Juwita menjelaskan, pertama terdapat Yama Brata.

Yama yaitu suatu bentuk larangan yang harus dilakukan oleh seseorang dari segi jasmani. Ada lima larangan yang disebut Panca Yama Brata yang terdiri dari Ahimsa, Satya, Asteya, Brahmacari, Aparigraha.

Kedua ada Nyama Brata, yaitu Nyama merupakan pengendalian diri yang lebih bersifat rohani. Pengendalian diri ini ada lima yang disebut Panca Nyama, terdiri dari Sauca, Santosa, Tapa, Swadhyaya, Iswara Pranidhana.

Ketiga adalah Asana atau disebut dengan sikap. Asana ini adalah pada waktu melaksanakan yoga. Asana adalah dasar persiapan untuk melatih meditasi.

Dalam melaksanakan yoga, sikap duduk yang baik adalah sikap duduk yang paling disenangi dan rileks.

Keempat Pranayama, merupakan ilmu cara mengolah dan mengendalikan napas dan prana.  Dengan melakukan pranayama ini sebenarnya secara natural menghilangkan kotoran- kotoran diri dengan memanaskannya dalam dapur api perut dan memompa pipa-pipa dalam paru-paru.

Prana juga merupakan daya terpendam yang ada dalam diri kita yang terdapat di mana-mana.

Kelima ada disebut dengan Pratyahara, berfungsi untuk mengontrol pikiran.  Pratyahara adalah penguasaan panca indria oleh pikiran sehingga apapun yang diterima panca indria melalui saraf ke otak tidak mempengaruhi pikiran.

Keenam adalah Dharana yang artinya menetapkan Citta atau pikiran pada suatu tempat (pemusatan).  Dharana yaitu usaha-usaha untuk menyatukan pikiran dengan sasaran yang diinginkan.

Selanjutnya Dhyana, yaitu pemusatan pikiran yang tenang, tidak tergoyahkan pada suatu obyek. Dhyana dapat dilakukan terhadap Ista Dewata.

Pada tingkat ini alam pikiran masih terpisah dengan obyek renungan, tetapi sudah semakin jelas.

“Dhyana adalah suatu keadaan dimana arus pikiran tertuju tanpa putus-putus pada obyek. Tujuan Dhyana adalah aliran pikiran tertuju tanpa putus-putus pada obyek,” ujar Sonia.

Sedangkan kedelapan, yaitu penyatuan Atma. Pada tingkat ini dalam pikiran sudah lebur menyatu dengan obyek ruangan, dan tidak ada kesadaran akan dirinya sendiri, hanya ketenangan yang ada.

Pada tingkat ini perasaan telah dapat menangkap perbedaan antara kebahagiaan dengan kesenangan di alam. (*)

 

Editor : I Made Mertawan
#hindu #yoga