BALI EXPRESS - Sarana upacara yang kerap dilihat di lingkungan kehidupan umat Hindu adalah canang. Sarana upacara berupa canang itu pun memiliki maknanya tersendiri.
Canang menurut agama Hindu memiliki banyak makna. Sebab dalam persembahyangan canang merupakan sarana terpenting.
Canang merupakan upakara yang akan dipakai untuk sarana persembahan kepada Tuhan, Bhatara Bhatari serta leluhur.
Kata canang berasal dari bahasa Jawa Kuno yang pada mulanya berarti sirih. Pada zamannya, sirih menjadi salah satu suguhan untuk tamu yang dihormati. Karena itu, pada zaman dulu tradisi makan sirih sangat dihormati.
Bahkan dalam Kekawin Nitisastra disebutkan “Masepi tikang waktra tan amuncang wang”. Artinya sepi rasanya mulut itu (jika) tiada makan sirih.
Jadi sirih pada zaman dahulu, ternyata benda yang benar-benar bernilai tinggi.
Tradisi zaman dahulu, sirih itu adalah lambang penghormatan.
Setelah agama Hindu berkembang di Bali, sirih menjadi unsur penting dalam upacara agama dan dalam kegiatan-kegiatan adat lainnya.
Kemudian, mengapa canang diidentikkan dengan sirih? Hal ini lantaran di dalam canang juga terdapat sirih. Namun sirih dalam canang disebut dengan porosan. Betapapun indahnya canang, kalau belum dilengkapi dengan porosan yang bahan pokoknya adalah sirih, tidak akan punya nilai keagamaan.
Adapun perlengkapan canang itu antara lain, ceper sebagai alasnya, atau bisa juga daun pisang berbentuk segi empat. Di atasnya berturut-turut disusun perlengkapan seperti pelawa berupa daun-daunan, porosan yang terdiri dari pinang, lalu dijepit dengan sepotong janur. Di atasnya diisi dengan tangkih atau kojong dari janur yang bentuknya bundar.
Ditambahkan juga dengan pandan harum yang diisi wangi-wangian.
Editor : Nyoman Suarna