Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Mengungkap Pola Bangunan di Desa Penglipuran Bali yang Didesain Ramah Lingkungan, Dapur tanpa Jendela

I Putu Mardika • Selasa, 12 September 2023 | 23:16 WIB
Bangunan dapur di Desa Adat Penglipuran tanpa dilengkapi jendela.
Bangunan dapur di Desa Adat Penglipuran tanpa dilengkapi jendela.

BALI EXPRESS- Rumah adat di Desa Adat Penglipuran, Kecamatan/Kabupaten Bangli sebagian besar didominasi bahan baku bambu.

Masyarakat Penglipuran mendesain bangunan tersebut ramah lingkungan. Rumah ini tidak terlepas dari konsep tattwa, susila dan upacara serta memerhatikan prinsip tri angga, yakni nista, madya dan utama.

Keindahan Desa Penglipuran memang tidak terbantahkan. Tak berlebihan jika desa itu menjadi daya tarik wisatawan.

Keseragaman angkul-angkul membuat kawasan Penglipuran ini menjadi paripurna. Ukuran yang sama dan posisi yang rapi semakin menguatkan desa bali aga sebagai desa wisata.

Desa Adat Penglipuran dari berbagai sumber diyakini sudah dibentuk sejak zaman Bali Mula.

Masyarakat Penglipuran mengakui bahwa leluhur mereka berasal dari Desa Bayunggede di Kecamatan Kintamani, Bangli.

Di Desa Adat Penglipuran berkembang dari tradisi yang dibawa dari kebudayaan Bali Aga. Seiring dengan masuknya zaman Bali Aga perkembangan kebudayaan dengan membentuk benda-benda alam dalam susunan yang harmonis dalam fungsinya menjaga keseimbangan manusia dengan lingkungannya.

Kelian Adat Penglipuran Wayan Budiarta menjelaskan bahwa banyaknya bangunan yang dibuat dari bahan bambu di Desa Penglipuran bukanlah tanpa alasan. Pasalnya, desa ini memiliki hutan bambu seluas 45 hektare.

Jenis bambu yang ada adalah bambu petung, jajang, dan bambu tali yang dimanfaatkan sebagai bahan bangunan.

Untuk mengatur pengelolaan bambu telah diatur dalam awig-awig desa. Siapa saja yang akan menebang bambu harus ada izin dari kelian adat.

Warga adat di Desa Penglipuran menjadikan bambu sebagai penghasilan warga dengan cara menjual bambu dan dianyam menjadi bahan kerajinan.

Apabila ada upacara keagamaan seperti galungan dan lain-lain warga di luar Penglipuran masih mendatangkan bambu dari daerah lain sedangkan warga yang ada di Desa Penglipuran sudah tersedia.

Dikatakan Budiarta, karakteristik ruang tradisional Desa Adat Penglipuran menjadi tiga ruang, yaitu ruang utama merupakan ruang yang paling disucikan terletak di bagian utara pada dataran tinggi.

Ruangan ini di sebagai fasilitas peribadatan yaitu pura serta kawasan konservasi hutan bambu.

Ruang madya tingkat kesuciannya sedang dan terletak di tengah. Kategori dari ruangan ini terbagi dua yaitu sebagai madya pekarangan dengan peruntukan lahan perumahan, peribadatan, fasilitas umum dan sosial sebagai ruang pemukiman. Ruang madya tegalan diperuntukan sebagai kebun yang berfungsi sebagai aktivitas perekonomian warga.

Ruang nista sebagai ruang yang memiliki tingkat kesuciannya paling rendah. Areal ini terletak di bagian selatan bawah desa.

Ruang nista dibagi menjadi yaitu ruang nista sakral dengan penggunaan lahan pura dan kuburan mempunyai fungsi sebagai kawasan penghubung manusia dengan alam tidak suci.

“Kalau untuk ruang nista sakral peruntukan lahan sebagai kebun dan tegalan berfungsi sebagai aktivitas perekonomian warga,” sebutnya.

Ia menambahkan, karakter bangunanan pemukiman adat yang memerlihatkan hubungan antara masyarakat dengan alam dapat dilihat pola bangunan yang disucikan atau yang dianggap paling tinggi derajatnya.

Hal ini tercantum dalam awig-awig desa bahwa setiap warga yang ada di desa perkaranganya harus memperhatikan beberapa hal.

Pertama pawon atau dapur. Bangunan ini merupakan ruang tertutup yang dapat difungsikan untuk dapur yang di dalamnya terdapat lumbung padi serta untuk tempat tidur/peristirahatan.

Secara fisik bangunan ini menggunakan material bambu yang tampak pada konstruksi dinding, atap, tempat tidur, bahkan peralatan makan juga terlihat dalam ruangan ini. Semuanya bercirikan masyarakat adat Penglipuran.

Bangunan pawon mempunyai ukuran 4 x 3 meter persegi, tidak terdapat jendela dan hanya memiliki satu buah pintu.

Hal ini hubungannya dengan keadaan cuaca yang agak dingin terutama pada waktu malam hari. Selain berfungsi untuk memasak juga membuat ruangan menjadi hangat.

Bangunan selanjutnya adalah Bale Sakenem. Bangunan ini difungsikan sebagai tempat dilaksanakannya upacara agama, khusus untuk keluarga yang tinggal di dalamnya.

Bangunan ini tidak tertutup, hanya diberi tembok pada dua sisinya. Upacara keagamaan yang sering dilakukan pada Bale Sakenem ini adalah upacara Pitra Yadnya (Ngaben) dan upacara Manusa Yadnya seperti upacara perkawinan/pawiwahan. “Ciri khas bangunan ini memakai atap sirap dari bahan bambu,” imbuhnya. (*)

 

 

Editor : I Made Mertawan
#dapur #Penglipuran