Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Pura Luhur Candi Narmada Tanah Kilap: Jejak Sejarah dan Keunikan Bali yang Mengagumkan

I Putu Mardika • Rabu, 13 September 2023 | 21:45 WIB
Pura Candi Narmada Tanah Kilap
Pura Candi Narmada Tanah Kilap

DENPASAR, BALI EXPRESS - Umat Hindu di Bali memiliki hubungan erat dengan beragam pura suci, salah satunya adalah Pura Luhur Candi Narmada. Pura ini mengandung kisah menarik yang bermula dari kaul seorang nelayan bernama Pan Santeng, yang memberikan fondasi kuat bagi eksistensi pura ini.

"Pura Luhur Candi Narmada adalah bagian integral dari warisan budaya Hindu di Bali," ujar IB Made Sudana, pemangku Pura Luhur Candi Narmada.

Terletak di perbatasan Kabupaten Badung dan Kota Denpasar, tepatnya di Muara Tukad Badung di jalan Bypass I Gusti Ngurah Rai Denpasar, Pura Luhur Candi Narmada dapat dengan mudah dijangkau.

Kawasan di sekitarnya dikenal dengan nama "Tanah Kilap," yang memikat dengan pesona alamnya.

Menurut IB Made Sudana, pemangku Pura Luhur Candi Narmada, area tempat pura ini berdiri awalnya adalah rawa-rawa dengan batu karang yang agak tinggi di sebelah timur Tukad Badung. Namun, saat ini, di atas batu karang inilah Parahyangan Ratu Bhatari Nihang Sakti berdiri dengan megah, memancarkan keagungan.

Pura ini memiliki sejarah panjang yang turun temurun, dengan tempatnya yang dahulu merupakan jalur pelayaran para bendega (nelayan) yang bermukim di sekitarnya.

Sejarah Pura Luhur Candi Narmada tertulis dalam lontar yang ditemukan di Griya Gede Gunung Beau Muncan-Karangasem.

Kisah ini membawa kita ke masa pemerintahan kerajaan Bandana Raja, di mana seorang bendega bernama Pan Santeng hidup di pesisir selatan Pulau Bali.

"Pan Santeng adalah nelayan yang menggantungkan hidupnya pada melaut di muara sungai yang menghadap ke Laut Selatan Bali. Namun, selama tiga hari berturut-turut, ia tidak berhasil menangkap ikan," jelas Sudana.

Pada hari ketiga, Pan Santeng mengucapkan kaul (janji), berjanji untuk menghaturkan pekelem (persembahan) jika ia berhasil menangkap ikan.

"Dari kaulnya itulah Pan Santeng membangun palinggih di atas batu karang dan setiap hari dengan tekun sang Bendega menghaturkan Bhakti di pelinggih tersebut, seiring dengan semakin banyaknya hasil tangkapan yang diperolehnya," tambah Sudana.

Kemudian, Pan Santeng menerima petunjuk bahwa palinggih tersebut adalah tempat bersemayamnya Ida Brahma Putri dari Patni Keniten yang bernama Ida Ayu Ngurah Saraswati Swabhawa.

Pura Luhur Candi Narmada telah bertahan selama berabad-abad dengan bentuk pelinggih batu yang sederhana di atas karang.

Pada tahun 1958, seorang wanita dari Kuta mendapat wahyu untuk membangun sanggar agung di kawasan pelinggih Ratu Nihang Sakti.

Sejak itu, pura ini semakin banyak dikunjungi oleh masyarakat dari Kota Denpasar dan luar Denpasar, terutama pedagang dan nelayan yang mempercayai bahwa pura ini adalah tempat yang penuh berkah.

"Pembangunan pura Luhur Tanah Kilap terus berkembang dengan penambahan gedung-gedung seperti Bale Kulkul, Palinggih Ratu Gede Bendega, Gelung Kuri, dan Peletasan. Ada juga beberapa palinggih lainnya, termasuk Pelinggih Padmasana, Pelinggih Meru dan Negara Segara, Pelinggih Berada Rambut Sedana, Pelinggih Penglurah, Pelinggih Bhatara Wisnu, Pelinggih Ratu Bagus, Pelinggih Jineng, Pelinggih Bhatari Nihang Sakti, Gedong Simpen, Telaga Waja, dan Bale Peselang," papar Sudana.

Semua palinggih ini berada di utama Mandala Pura Luhur Tanah Kilap.

Di area palemahan, terdapat dua palinggih lainnya, yaitu Pelinggih Persimpangan Bhatara Dalem Peed di sebelah timur dan Pura Taman dan Tapa Gni di sebelah barat.

Pura Luhur Candi Narmada adalah saksi sejarah dan budaya Bali yang mempesona, dan tetap menjadi tempat penting bagi masyarakat Hindu di pulau ini.

Editor : I Putu Suyatra
#bali #candi narmada #tanah kilap #hindu #denpasar #pura