BALI EXPRESS - Memande merupakan kegiatan dalam bidang seni tempa logam.
Dalam proses memande pada umumnya dikenal 3 tahapan yaitu tahap pemilihan bahan, tahap proses pembuatan dan tahap finishing atau tahap akhir.
Proses memande dilakukan oleh tiga orang yaitu satu orang Mpu dan dua orang Panjak.
Ritual yang dilakukan adalah menghaturkan canang dan berdoa meminta agar diberikan keselamatan dalam bekerja dan juga agar karya yang dibuat dapat selesai sesuai dengan harapan.
Barang-barang yang dihasilkan dalam proses memande antara lain alat-alat pertanian, seperti bajak, cangkul, sabit; alat-alat rumah tangga, seperti pisau, kapak, belakas; senjata, seperti keris, tombak, trisula, alat-alat keagamaan, seperti kendi, bokor, canting cendekan, genta, alat-alat kesenian, seperti gong, atribut penari, perhiasan atau tatahan.
Jro Mangku Gede Sutama yang juga pemangku di Pura Penataran Pande Tamblingan mengatakan, Perapen memiliki fungsi sebagai penetralisir hal-hal negatif yang dapat mengganggu keharmonisan dalam lingkungan keluarga, yang berarti menjaga rumah orang Pande agar selalu terlindungi.
Jika ada energi negatif atau ilmu magis maka akan dinetralisir oleh keberadaan Perapen.
Air palungan dan abu perapian yang terdapat di Perapen dapat digunakan sebagai pengobatan bagi orang yang terkena sakit non medis (dikenal dengan nama: sakit yang dibuat-buat oleh ilmu magis).
Orang yang meminta air palungan atau abu perapian biasanya datang setelah mendapatkan isyarat atau mandat dalam istilah Bal meluasin.
Baca Juga: Perapen dalam Tradisi Bali: Stana Dewa Brahma sebagai Jantung Aktivitas Seni Logam
“Abu perapian dari Perapen juga sering diminta (tunas) untuk digunakan saat bayi kepus puser (lepas tali pusar) yang bertujuan agar bayi tersebut dilindungi dari energi negative,” tutupnya.
Hal ini didasari atas keyakinan bahwa Perapen merupakan stana Dewa Brahma dan Hyang Pasupati.
Dewa Brahma dalam Dewata Nawa Sanga adalah penguasa dan pelindung dari arah selatan yang bersthana di Pura Andakasa, dengan simbol api atau agni dengan lambang berwarna merah, yang bersenjatakan Gada, berwahana (kendaraan) angsa dan memiliki sakti (pasangan) Dewi Saraswati.
Dewa Brahma sangat diidentikan dengan unsur api.
“Api biasanya digunakan untuk memasak. Dalam kepercayaan Hindu di Bali, Dewa Brahma juga ditempatkan di dapur (paon) sebagai pelindung dalam setiap aktivitas yang dilakukan masyarakat. Tetapi sedikit berbeda dengan soroh Pande yang memiliki 2 dapur yaitu dapur untuk memasak dan dapur untuk bekerja yaitu Perapen, tempat Swadharma Memande,” paparnya.
Editor : Nyoman Suarna