Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Ini Makna Amustikarana saat Lantunkan Puja Trisandya dalam Ajaran Agama Hindu

Putu Agus Adegrantika • Senin, 30 Oktober 2023 | 16:19 WIB
AMUSTIKARANA: Sikap Amustikarana saat melantunkan bait-bait mantram Puja Tri Sandya dalam ajaran agama Hindu memiliki makna mendalam.
AMUSTIKARANA: Sikap Amustikarana saat melantunkan bait-bait mantram Puja Tri Sandya dalam ajaran agama Hindu memiliki makna mendalam.

BALI EXPRESS - Dalam melaksanakan Puja Trisandya sesuai ajaran agama Hindu, sikap tangan adalah Amustikarana.

Amustikarana adalah sikap dimana tangan kanan mengepal (menggenggam) serta dibungkus oleh tangan kiri dengan kedua ibu jari saling bertemu dan ujung – ujungnya mengarah ke atas, lalu ditempatkan di depan ulu hati.

Penyuluh Agama Hindu di Kantor Kementerian Agama Kabupaten Tabanan, Luh Sonia Candra Juwita, menjelaskan, bentuk amustikarana ini memberikan makna dasendria.

Dasendria adalah penyatuan panca karmendria dan panca bhudindria untuk mendorong manah (pikiran) menuju ke atas, menuju Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

“Setiap orang mempunyai tulang punggung yang membujur dari pangkal tulang ekor sampai ke pangkal kepala. Sepanjang tulang punggung sampai di ubun-ubun,  terdapat cakra-cakra utama yang merupakan pusat masuknya energi illahi atau energy alam semesta atau prana,” jelasnya. 

Cakra-cakra tersebut berbentuk kerucut, dengan pangkalnya yang runcing berada di sepanjang tulang punggung sampai kepala.

Terdapat tujuh cakra utama di sepanjang tulang ekor sampai kepala.

Cakra utama yang pertama adalah cakra dasar (muladara cakra) terletak di ujung tulang ekor.

Cakra kedua adalah cakra seks (swadistana cakra) yang terletak di atas cakra dasar lurus dengan organ seks.

“Cakra ketiga adalah cakra pusar (manipura cakra) terletak lurus dengan pusar. Cakra utama yang keempat adalah cakra jantung (anahata cakra), letaknya lurus dengan jantung,” bebernya.

Selanjutnya adalah cakra tenggorokan (visudhi cakra) yang merupakan cakra kelima, terletak di tenggorokan.

Baca Juga: Si Naga Sisik Kuning: Buah Rendah Kalori dan Lemak, Cocok untuk Diet, Dibudidayakan di Buleleng

Cakra keenam adalah cakra ajna (ajna cakra) terletak di antara kedua alis mata.

Cakra utama yang ketujuh adalah cakra mahkota (sahasrara cakra) terletak di atas atau di sekitar ubun – ubun.

 “Di samping ketujuh cakra utama tadi, di sepanjang tulang punggung juga terdapat tiga buah nadi yang disebut ida, pingala dan sumsuna yang berfungsi sebagai penyalur energi ilahi atau energy alam semesta atau prana yang masuk dari cakra-cakra tersebut,” pungkas Sonia.

Sumsuna mengalirkan energi secara lurus, sedangkan ida dan pingala yang berada di kiri dan kanan sumsuna mengalirkan energy saling menyilang. 

Karena saling menyilang, maka aliran energi melalui kedua nadi tersebut pada suatu waktu akan bertemu dan suatu saat lagi akan berpisah.

Pertemuan yang pertama terjadi di antara cakra pusar dan cakra jantung, yaitu persis di ulu hati.

Pertemuan kedua aliran nadi tersebut menyebabkan aliran energy ilahi menjadi sangat dahsyat.

“Itulah sebabnya maka pada waktu melaksanakan Puja Trisandya tangan dengan sikap Amustikarana ditaruh di depan ulu hati,” ujarnya.

“Maksudnya adalah agar permohonan yang disampaikan melalui Puja Trisandya itu dapat dengan cepat sampai dan diterima atau dipenuhi oleh Ida Sang Hyang Widhi Wasa,” tegasnya.

Editor : Nyoman Suarna
#amustikarana #Puja Trisandya #hindu