Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Uniknya Tradisi Bali Ngusaba Satuh di Desa Adat Angantelu, Ini Prosesi dan Sesaji yang Digunakan

I Putu Mardika • Kamis, 2 November 2023 | 18:02 WIB
UNIK: Tokoh Adat Gegelang Jro Nyoman Suwita sebut ngusaba satuh memang unik karena ada rangkaian upacara yang menggunakan sesaji khusus.
UNIK: Tokoh Adat Gegelang Jro Nyoman Suwita sebut ngusaba satuh memang unik karena ada rangkaian upacara yang menggunakan sesaji khusus.

BALI EXPRESS - Prosesi Ngusaba Satuh di Desa Adat Angantelu, Kecamatan Manggis, Karangasem dilakukan dalam beberapa tahapan, mulai dari tahap persiapan, tahap pelaksanaan hingga tahap akhir.

Rangkaian prosesi upacara Ngusaba Satuh diawali dengan ngayah, untuk mempersiapkan sarana upacara.

Kegiatan ini dihadiri oleh prajuru Banjar Babakan dan Banjar Pakel, serati banten dan beberapa masyarakat.

“Beberapa hari kemudian dilaksanakan rangkaian upacara yang disebut mejaga-jaga, yaitu membawa sapi keliling wilayah yang berfungsi sebagai caru,” papar tokoh masyarakat Desa Adat Gegelang, Jro Wayan Suwita.

“Tujuannya agar terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan pada saat upacara Ngusaba Satuh berlangsung,” jelasnya.

Kegiatan selanjutnya yaitu mesucian dan mapepada yang merupakan sebuah proses penyucian baik pratima/linggihan Ida Bhatara Dalem maupun sarana dan prasarana yang digunakan dalam upacara Ngusaba Satuh.

Puncak dari Ngusaba Satuh dilakukan dengan mempersembahkan sesaji yang disebut banten pangusabaan.

Upacara ini dipuput oleh seorang sulinggih.

Tahap akhir dari pelaksanaan Ngusaba Satuh adalah nyineb yang bertujuan untuk mengembalikan linggih Ida Bhatara Dalem ke Penyimpenan.

Jro Suwita memaparkan, kegiatan ngayah biasanya dilakukan satu minggu sebelum pelaksanaan upacara Ngusaba Satuh.

Pada saat ngayah krama istri dan lanang membuat sesaji sebagai persiapan upacara yang akan dipakai dalam pelaksanaan upacara Ngusaba Satuh.

Krama istri bertugas majejaitan, metanding banten, dan lain-lain. Sedangkan krama lanang bertugas untuk membuat penjor, klakat, sanggah cucukan dan pecaruan.

Memperlancar kegiatan ngayah di Pura Dalem Banjar Pakel, dihaturkan beberapa sesaji berupa banten  rayunan di setiap pelinggih.

Mejaga-jaga merupakan suatu proses yang memiliki simbol sebagai caru desa yang dilakukan di perempatan agung dengan menggunakan sapi laki-laki.

Mejaga-jaga dilaksanakan tiga hari sebelum upacara Ngusaba Satuh yang dilakukan pada pagi hari.

Upacara mejaga-jaga bertujuan sebagai penangluk merana serta agar roh-roh halus tidak mengganggu saat upacara pengusabaan berlangsung.

Setelah dilaksanakan mejaga-jaga maka dilakukan penyepian Adat dari jam 18.00 Wita hingga 06.00 Wita bertujuan agar masyarakat memperoleh ketenangan sebelum melangsungkan upacara Ngusaba Satuh.

Setelah dilangsungkan penyepian adat maka dilakukan upacara ngembak oleh masing-masing masyarakat dengan tujuan untuk menyucikan diri agar terhindar dari hal-hal yang bersifat negative.

Tahapan selanjutnya adalah Masucian. Prosesi ini dilakukan sehari sebelum upacara Ngusaba Satuh.

Prosesi ini dilakukan pada pagi hari dengan tujuan untuk pembersihan atau penyucian pratima atau linggihan Ida Bhatara Dalem.

Ida Bhatara yang tedun katuran ke beji adalah Ida Bhatara Tri Kahyangan.

Setelah itu Ida Bhatara dipundut kembali ke Pura Dalem. Kemudian  dilakukan proses nyakup bhatara tirta di bagian luar pura. Lalu Ida Bhatara melinggih di masing-masing tempat.

Adapun banten yang digunakan dalam upacara mesucian yaitu ayaban tumpeng 7, suci, pejati, dan caru siap selem.

Selain itu, dalam proses nyakup Ida Bhatara Tirta juga digunakan banten bebangkit, banten suci, pejati, dan caru barumbun.

Nunas Tirta dalam rangkaian upacara Ngusaba Satuh dilakukan ke pura-pura yang ada kaitannya dengan pelaksanaan upacara Ngusaba Satuh.

Pura-pura yang dituju antara lain Pura Besakih, Pura Dalem Puri, Pura Puser Jagat, Pura Penataran Agung, Pura Segara, Pura Silayukti, Pura Puncak, Pura Andakasa, dan Pura Jati.

Semua tirta tersebut ditempatkan dalam satu wadah, untuk selanjutnya diperciki ke pelinggih-pelinggih yang ada di Pura Dalem Banjar Pakel serta dipakai untuk pemedek yang datang dalam persembahyangan selama upacara Ngusaba Satuh berlangsung.

Mapepada merupakan proses upacara pembersihan sarana dan prasarana yang dilakukan sehari sebelum pelaksanaan upacara Ngusaba Satuh. Korban suci yang diupacarai yaitu babi, ayam, bebek yang diisi karawista.

Selain korban suci, proses pembersihan juga dilakukan terhadap peralatan yang digunakan seperti panci, minyak, prakpak dan saang, kelapa serta peralatan lainnya.

Adapun banten yang digunakan dalam upacara mapepada antara lain prayascita, durmanggala, pangulap, biyakala, pamarisudha.

Selain itu, daksina linggih juga di prayascita, durmanggala, pamarisudha.

Setelah semua dibersihkan, baru dilakukan mapurwadaksina yang dilakukan tiga kali mengelilingi pelinggih di Pura Dalem.

Daksina linggih disuwun (diusung/dijunjung) oleh masyarakat dan hewan serta peralatan yang dibersihkan juga dibawa mengelilingi pelinggih.

Setelah itu, daksina linggih diletakkan di masing-masing pelinggih dan hewan diletakkan di bagian luar pura,” katanya.

Editor : Nyoman Suarna
#sesaji #bali #ngusaba satuh #desa adat angantelu #Prosesi #tradisi