BALI EXPRESS - Catur Purusa Artha adalah empat tuntunan yang menjadi tujuan hidup manusia Hindu khususnya di Bali.
Catur Purusa Artha terdiri dari kata Catur yang artinya empat dan Artha yang artinya tujuan hidup.
Penyuluh Agama Hindu, Ni Made Ayu Suniari, memaparkan, Catur Purusa Artha juga disebut Catur Warga atau empat tujuan hidup manusia yang terjalin erat dengan lainnya.
“Catur Purusa Artha terdiri dari Dharma berasal dari bahasa Sansekerta dari kata Dhr yang artinya menjinjing, memangku, memelihara, dan mengatur,” jelasnya.
Dalam kitab suci disebutkan manfaat dari Dharma yaitu alat untuk mencapai surga dan moksa.
Selain itu dharma juga untuk menghilangkan segala macam penderitaan. Sumber datangnya kebaikan bagi yang melaksanakan melebur dosa-dosa.
Kemudian Artha artinya tujuan, harta benda atau kekayaan. Harta yang didapat dan digunakan sesuai dengan Dharma akan menimbulkan kebahagiaan.
Artha atau kekayaan hendaknya dibagi tiga untuk mencapai Dharma atau melaksanakan kegiatan keagamaan.
“Artha merupakan sarana untuk memenuhi kama atau memenuhi keperluan hidup. Selain itu juga sebagai sarana melakukan usaha atau bisnis atau usaha dan tabungan,” imbuh Suniari.
Kemudian ada Kama artinya keinginan, kasih sayang, cinta kasih kesenangan dan kenikmatan.
Keinginan dapat memberikan kenikmatan dan tujuan hidup. Makin banyak artha yang diperoleh maka manusia makin leluasa memenuhi kama.
Apabila dharma, artha, dan kama sudah dicukupi dengan baik maka tercapailah kehidupan yang berbahagia lahir dan batin.
Jika ajaran Catur Purusa Artha dibalik maka manusia akan menempuh segala cara atau hal untuk memperoleh artha, artinya tidak lagi berlandaskan dengan ajaran agama.
Dalam kitab Sarasamuccaya. 76 dijelaskan:
"Nihan Yang Tan Ulahakena, Syamatimati Mangahalahal, Si Paradara Nahan Tan Telu Tab Ulahakena Ring Asing Ring Parihasa, Ring Apatkala, Ri Pangipyan Tuwi Singgahana Jugeka".
Artinya: Inilah yang tidak patut dilakukan, yaitu membunuh, mencuri, berbuat zina.
Ketiganya itu jangan dilakukan terhadap siapapun, baik secara berolok-olok, senda gurau, baik dalam keadaan dirundung malang.
Bahkan dalam keadaan darurat dan khayalan sekalipun, hendaknya dihindari saja ketiganya itu.
Sedangkan Moksa yang berasal bahasa Sansekerta dari urat akar kata Muc yang berarti membebaskan, memerdekakan, melepaskan, mengeluarkan.
Dari akar kata Muc menjadi Mukta atau Mukti, Moksa juga dapat diartikan bebas dari ikatan keduniawian, bebas dari hukum Karma Phala, bebas dari samsara atau kelahiran berulang-ulang. Salah satu jalan untuk mencapai Moksa yaitu melalui Catur Marga.
Editor : Nyoman Suarna