BALI EXPRESS - Tari Gandrung di Desa Adat Kekeran, Kecamatan Busungbiu, Buleleng merupakan tarian sakral bagi masyarakat setempat.
Pementasan tarian ini dilaksanakan di Pura Puseh Desa Adat Kekeran saat ritual Ngusaba Nini sebagai simbol ucapan terima kasih atas atas hasil panen yang diperoleh petani sesuai tradisi Bali.
Bendesa Adat Kekeran I Made Wardana mengatakan, tari Gandrung di Desa Adat Kekeran tidak terlepas dari keberadaan pohon beringin tua yang terdapat di bagian Jeroan (Utama Mandala) Pura Puseh Desa Adat Kekeran.
Pohon beringin tua tersebut sangat disakralkan oleh masyarakat Desa Adat Kekeran, sampai-sampai dijadikan pancer (tonggak sejarah) terbentuknya Desa Adat Kekeran.
Dari penjelasan para tetua di Desa Adat Kekeran, kehidupan masyarakat setempat sebagian besar sebagai petani, baik persawahan ataupun perkebunan.
Sumber mata air yang mengairi persawahan dan perkebunan tersebut diyakini bersumber dari pohon beringin tua yang terdapat di bagian Jeroan (Utama Mandala) Pura Puseh Desa Adat Kekeran.
Sumber mata air tersebut menjadikan persawahan dan perkebunan di Desa Adat Kekeran sangat subur dan memberikan hasil yang melimpah.
Setelah Desa Adat Kekeran dan Pura Puseh Desa Adat Kekeran terbentuk, kemudian dilaksanakan upacara Ngenteg Linggih, dibarengi dengan pementasan tari Gandrung.
Tarian ini dipentaskan sebagai ungkapan terima kasih atas hasil bumi yang berkelimpahan di Desa Adat Kekeran.
Ada beberapa syarat yang harus diperhatikan dalam menarikan tari Gandrung di Desa Adat Kekeran.
Di antaranya, ditarikan oleh dua orang pria. Satu pria berperan sebagai penari pria, dan satu lagi berperan sebagai penari wanita.
Baca Juga: Rekomendasi Kuliner Favorit di Bali yang Wajib Dicoba saat Berwisata ke Pulau Dewata
Mereka harus ikhlas ngaturang ayah untuk menari. Uniknya, para penari harus memiliki kesan humoris atau lucu. Mereka juga memiliki niat dan kemauan dari dalam dirinya dalam menarikan tarian Gandrung.
“Minimal harus melakukan upacara penyucian diri berupa pewintenan dalam menarikan tarian tersebut. Hal ini dikarenakan sifatnya ngaturang ayah kepada Tuhan dalam menarikan tari Gandrung, serta supaya terpancar nuansa kesakralan dari tari Gandrung tersebut,” paparnya.