BALI EXPRESS - Lima belas hari setelah pelaksanaan Nyepi Desa, masyarakat Desa Adat Kedis, Busungbiu di Bali Utara melaksanakan upacara Ngusaba Agung.
Pada saat pelaksanaan upacara Ngusaba Agung di Pura Puseh Desa Adat Kedis, terdapat berbagai prosesi sakral. Salah satunya adalah pementasan Tari Rejang Kraman.
Tari Rejang Kraman yang dibawakan anak laki-laki dan perempuan ini sarat akan makna.
Sesungguhnya Tari Rejang Kraman merupakan bagian dari prosesi menek bajang (beranjak dewasa) bagi warga Desa Adat Kedis.
Prosesi ini wajib diikuti oleh masyarakat yang tinggal di Desa Kedis maupun tinggal di luar Desa Kedis.
Rejang Kraman merupakan prosesi inti dari pelaksanaan tradisi upacara Ngusaba Agung.
Sebab prosesi ini bertujuan untuk natab menek bajang atau prosesi untuk anak beranjak dewasa.
Rejang Kraman ini wajib ditarikan oleh anak laki-laki dan perempuan yang lahir di Desa Adat Kedis.
Ada dua Tari Rejang Kraman yaitu Rejang Kraman Lanang yang dibawakan para remaja laki-laki dan Rejang Kraman Istri yang dibawakan para gadis yang memasuki usia akil balik.
Tarian ini diiringi gambelan pengelek (patih). Pengelek bertujuan untuk menuntun para penari Rejang Kraman masuk ke area Pura Puseh.
Pengelek ini menceritakan tentang perjalanan seseorang menuntun sekelompok remaja putra dan putri menuju sebuah istana untuk mebersihkan diri atau disebut Raja Swala.
Setelah pengelek dipentaskan di area tengah pura, para penari Rejang Kraman lanang (laki) masuk ke area Pura Puseh.
Setelah itu diikuti oleh penari Rejang Kraman istri (perempuan) untuk menari menuju ke area utama Pura Puseh.
Pengelek menceritakan perjalanan seorang patih dan teman-temannya menuju ke sebuah pura yang diwarnai candaan atau lelucon.
Peran pengelek biasanya dibawakan oleh tokoh Penasar dan Wijil.
Penasar merupakan tokoh/karakter punakawan sebagai abdi setia sang raja. Sedangkan Wijil merupakan adik dari tokoh penasar.
Dua tokoh karakter kakak dan adik ini juga kerap disebut Punta dan Kartala.
Selain dua tokoh penakawan sebagai pengelek, saat upacara Ngusaba Agung juga diisi pementasan tari jogged.
Editor : Nyoman Suarna