BALI EXPRESS – Menurut tradisi yang berlaku dalam agama Hindu di Bali, seorang sulinggih memiliki tugas ngarga tirta, sedangkan pemangku memohon tirta. Proses ngarga dan memohon tirta ini diulas dalam Lontar Tutur Gong Besi, termasuk juga mantranya.
Seorang sulinggih memiliki empat ciri, yakni Sang Satya Wadi, Sang Apta, Sang Panadahan Upadesa dan Sang Patirthan.
Sang Satya Wadi berarti seorang paṇḍita selalu berbicara mengenai kebenaran. Satya Wadi berasal dari kata satya yang berarti kebenaran tertinggi, sedangkan wadi artinya mengatakan.
Kemudian Sang Apta artinya seorang paṇḍita dapat dipercaya. Paṇḍita selalu berkata benar dan jujur sehingga dapat dipercaya oleh umat Hindu.
Seorang paṇḍita seyogyanya memikirkan secara matang sebelum berbicara dan berbuat. Sehingga, kemungkinan berkata dan berbuat salah menjadi kecil, agar seorang paṇḍita tidak sampai terkena kata-kata kasar orang lain.
Selanjutnya Sang Panadahan Upadesa, artinya paṇḍita selalu berkata benar dan jujur sehingga dapat dipercaya oleh umat Hindu.
Paṇḍita memiliki swadharma untuk memberikan pendidikan moral kesusilaan pada masyarakat agar hidup harmonis dengan moral yang luhur.
Ciri yang terakhir adalah disebut sebagai Sang Patīrthan berarti paṇḍita sebagai tempat untuk memohon penyucian diri bagi umat Hindu.
Paṇḍita juga disebut orang suci, karena berwenang membuat tirta atau air suci serta memiliki swadharma untuk menyucikan umat Hindu.
Dosen Upakara STAHN Mpu Kuturan Singaraja, Dr. Wayan Murniti, M.Ag menjelaskan, secara simbolik umat Hindu disucikan dengan tirta yang dibuatnya.
Adapun yang lebih penting, yaitu menuntun umat Hindu secara spiritual untuk dapat menempuh hidup suci agar terhindar dari berbagai perbuatan yang tercela.
Tirta diyakini oleh umat memiliki kekuatan spritual, karena secara proses diperoleh dari dua cara. Pertama, dimantrai oleh pendeta atau orang yang dianggap wajar untuk maksud tersebut.
Tirta ini bisanya digunakan untuk penglukatan atau pembersihan terhadap diri seseorang serta alat–alat dan sesajen yang akan dipergunakan dalam suatu upacara.
Kemudian yang kedua dengan dimohon di suatu pelinggih atau tempat yang diangap suci oleh umat Hindu.
“Tirta ini dianggap sebagai anugerah karena kesucian atau kekuatan spritualnya diyakini berasal dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam berbagai manifestasi-Nya yang dipuja pada pelinggih atau tempat bersangkutan,” katanya.
Tirta yang dibuat oleh sulinggih (Dwijati) atau disebut juga Sang Diksita, khususnya untuk tirta pembersihan, dalam tradisi lokal disebut sebagai tirta griya karena diperoleh dari seorang sulinggih.
Ada juga tirta yang didapat melalui memohon (nuur) oleh pemangku, pemangku dalang balian.
Kewajiban mensucikan upakara atau bebantenan yang akan dipersembahkan dengan tirta seorang pendeta atau sang rumage diksita, termuat dalam Lontar Tutur Gong Wesi.
Dalam lontar tersebut disebutkan, “Saluwir bebanten yadnya matirthakaryan Padanda Putus tan ketampi aturaniya.”
Kutipan dalam lontar ini memiliki arti bahwa segala sesaji atau upakara yadnya, kalau tidak disucikan dengan tirta yang dibuat oleh pendeta utama, tidak akan diterima persembahannya
“Oleh sebab itu, setiap upakara yadnya atau sesaji sebelum digunakan sebagai sarana persembahan, dipercikan tirta penglukatan.
Hal ini menjadikan tradisi diterapkan di Bali dengan adanya tirta griya yang digunakan untuk sarana tirta penglukatan,” paparnya.
Sang diksita atau pendeta saat membuat tirta penglukatan menggunakan mantram Apsu Dewa, yang ditujukan kepada Dewi Gangga untuk menyucikan segala yang berhubungan dengan hal-hal negatif.
Di samping itu ada pula mantram yang digunakan untuk ngelukat segala sesajen, yaitu: “Om sidhi guru sarasat, om sarwa wighnaya namah, sarwa klesa, sarwa roga-sarwa satru-sarwa papa winasa ya namah swaha.”
“Mantram ini pada hakekatnya bertujuan sama dengan mantram Apsu Dewa, harapannya agar upacara dapat terlepas dari godaan /hambatan, penyakit, cacat dan papa supaya lenyap,” katanya.
Ia menambahkan, matram untuk membuat tirta penglukatan dibuat oleh pendeta, sedangkan kalau pembuatan tirta oleh pemangku atau pinandita dilakukan melalui memohon ke hadapan Dewa Siwa dengan mengucapkan seha mangku.
Editor : Nyoman Suarna