Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Tradisi Bali: Barong Sampi di Pura Peresanak Dalem Tanjung Bualu, Dipentaskan saat Piodalan, Penari Pantang Makan Daging Sapi

I Putu Mardika • Selasa, 9 Januari 2024 | 17:27 WIB
BARONG SAMPI: Barong sampi ditarikan saat Sandikala, bertepatan saat piodalan di Pura Peresanak Dalem Tanjung.
BARONG SAMPI: Barong sampi ditarikan saat Sandikala, bertepatan saat piodalan di Pura Peresanak Dalem Tanjung.

BALI EXPRESS - Barong yang banyak dijumpai di Bali pada umumnya berbentuk barong ket, barong landung, barong macan serta barong bangkung (babi).

Namun Pura Peresanak Dalem Tanjung, Desa Adat Bualu, Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung, Bali memiliki barong berwujud sapi jantan yang disebut barong sampi.

Barong sampi ini sangat disakralkan sehingga hanya dipentaskan saat piodalan. Dan penarinya pantang makan daging sapi.

Menurut kepercayaan umat Hindu, sapi merupakan hewan suci yang disakralkan karena merupakan wahana Dewa Siwa.

Jro Mangku Sukra selaku pengempon Pura Peresanak Dalem Tanjung Desa Adat Bualu menjelaskan, sesuai tradisi sesolahan barong sampi tergolong dalam tari wali karena dipentaskan saat piodalan di Pura Peresanak Dalem Tanjung.

Sesuai namanya, barong sampi adalah barong berwujud sapi jantan berwarna hitam.

Tapel (topeng) berbentuk sapi, badannya terbuat dari kain beludru hitam dengan tatahan (hiasan) terbuat dari kulit yang dipoles warna emas dan kaca.

Barong sampi merupakan warisan budaya secara turun- temurun. Barong sampi dipentaskan sebagai kegiatan ritual dan tidak dikomersilkan.

 “Jika barong sampi tidak dipentaskan, piodalan di pura diyakini kurang lengkap dan sukses,” katanya.

Sesolahan barong sampi hanya bisa disaksikan di tiga pura, antara lain Pura Peresanak Dalem Tanjung, Pura Dalem Desa Adat Bualu, dan Pura Dalem Petasikan.

 “Kami sangat meyakini sesolahan barong sampi merupakan warisan budaya secara turun-temurun dari leluhur kami. Sesolahan barong sampi memiliki ciri khas dan bentuk barong yang unik,” ungkapnya.

Tidak hanya itu, pregina (penari barong) berserta pemangku barong dilarang memakan daging sapi. Menurut kepercayaan masyarakat Hindu Bali pada umunya, sapi merupakan hewan yang disucikan oleh masyarakat, karena sapi merupakan perwujudan dari “Nandhini” yaitu kendaraan dari Dewa Siwa.

Karena barong ini disakralkan, maka saat pementasan disertai dengan ritual khusus, yaitu nyambleh dan ngajum. Ritual ini dilaksanakan masyarakat berserta pemangku adat di Pura Peresanak Dalem Tanjung, Desa Adat Bualu.

Proses pementasan barong sampi diawali Nedunang Barong, Pengajuman, Pembersihan (masucian), Pamendakan, Penyamblehan, Masimpen.

Sarana upakaranya berupa segehan panca warna, canang sari, penastan dan arak, berem, pejati, penyeneng, prayascita, pasucian, canang kawas, penastan, dan rantasan.

“Ada juga sarana penglukatan, soda peras, pedatengan, tebasan, daksina, pasucian agung, ayam hitam, segehan agung, sesantun, bungkak (kelapa yang masih muda), sesayut sidapurna, segehan pengider bhuana, pengambian, jerimpen, sesayut, banten guru, lanjaran (rokok),” sebutnya.

CEDERA: Kapten Persepam Pamekasan M. Soleh menjalani perawatan usai mengalami cedera saat melawan Persewangi Banyuwangi, Minggu (7/1). (SULAIMAN UNTUK JPRM)
CEDERA: Kapten Persepam Pamekasan M. Soleh menjalani perawatan usai mengalami cedera saat melawan Persewangi Banyuwangi, Minggu (7/1). (SULAIMAN UNTUK JPRM)
Editor : Nyoman Suarna
#bali #makan #sapi #bualu #Pura Peresanak Dalem Tanjung #tradisi #daging #barong #sampi