Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Asal-usul Penggunaan Arak, Tuak, dan Brem dalam Ritual Hindu di Bali: Ada Kaitannya dengan Tibet dan Mongolia

I Putu Mardika • Sabtu, 20 Januari 2024 | 16:25 WIB
SEJARAH: Penggunaan tuak, arak dan brem dalam ritual agama Hindu di Bali melalui sejarah panjang yang ada kaitannya dengan Tibet dan Mongolia.
SEJARAH: Penggunaan tuak, arak dan brem dalam ritual agama Hindu di Bali melalui sejarah panjang yang ada kaitannya dengan Tibet dan Mongolia.

BALI EXPRESS – Dalam kehidupan masyarakat Bali, tuak, arak dan brem  tidak hanya dikenal sebagai minuman keras, tetapi juga menjadi bagian integral dari sarana ritual Umat Hindu.

Dosen Pendidikan Agama Hindu STAHN Mpu Kuturan Singaraja, Nyoman Ariyoga, menjelaskan, arak digunakan sejak sekte Bhairawa berkembang di Bali.

Bhairawa adalah sekte rahasia dari sinkretisme antara agama Budha aliran Mahayana dengan agama Hindu aliran Siwa.

Masab ini muncul sekitar abad ke-6 M di Benggala sebelah timur.

Dari sini kemudian tersebar ke utara melalui Tibet, Mongolia, masuk ke Cina dan Jepang.

Sementara itu cabang yang lain tersebar ke arah timur memasuki daerah Asia Tenggara, termasuk Indonesia.

Masyarakat Bali menjadi salah satu penerima pengaruh sekte Bhairawa, yang membawa serta tradisi unik dalam kegiatan religius.

Salah satu praktik yang berkembang adalah penggunaan arak dalam aktivitas keagamaan, khususnya dalam upacara segehan, caru, atau mesaagan.

Ariyoga menjelaskan bahwa arak bersama dengan brem dan tuak, memiliki peran penting dalam rangkaian upacara keagamaan tersebut.

Penggunaan ketiga minuman keras ini diintegrasikan sebagai persembahan kepada Bhuta Kala, entitas rohaniah yang diandaikan memiliki sifat menyeramkan dalam kepercayaan Hindu Bali.

Dalam ritual menghaturan segehan, ketiganya biasanya dituangkan sebagai penutup, menandakan penghormatan terhadap Bhuta Kala.

Ariyoga menekankan bahwa kehadiran arak, brem, dan tuak dalam upacara keagamaan adalah sebagai suguhan kepada Bhuta Kala karena telah menjaga keharmonisan alam dan lingkungan spiritual masyarakat Bali.

Sehingga, tradisi minuman keras ini tidak hanya menjadi bagian dari praktik keagamaan, tetapi juga menjadi simbol kekayaan budaya dan sejarah yang terkandung dalam sekte Bhairawa.

Dalam pandangan Ariyoga, penggunaan minuman keras dalam kegiatan religius mencerminkan simbolisme aksara suci, seperti "Ah-kara" yang diidentifikasi dengan arak dan tuak, dan "Ang-kara" yang diwakili oleh brem.

Ini membuktikan bahwa minuman keras di Bali tidak sekadar sebagai sarana untuk memabukkan, melainkan telah menjelma menjadi bagian integral dari kepercayaan dan tradisi keagamaan, mencerminkan hubungan antara sekte Bhairawa dan masyarakat Bali.

Editor : Nyoman Suarna
#ritual #bali #mongolia #tibet #tuak #hindu #Brem #arak