BALI EXPRESS - Tradisi siat sarang di Desa Selat, Kecamatan Selat, Kabupaten Karangasem, Bali menjadi ritual agraris yang diwariskan secara turun-temurun.
Tradisi ini dilaksanakan setiap tahun serangkaian dengan ngusabe dimel (dodol).
Kelian Desa Adat Selat, Jero Mangku Mustika menjelaskan, Siat Sarang dilaksanakan di pertigaan desa setempat sebelah utara Pura Bale Agung.
Siat Sarang dilakukan para pemuda desa yang dibagi menjadi dua kelompok.
Kedua kelompok tersebut nantinya saling melempar sarang sekuat tenaga. Sehingga sarang yang dipakai hancur berantakan.
Dengan hancurnya sarang tersebut diharapkan kekuatan negatif juga hancur.
Ia menyebutkan, Siat Sarang dibagi dalam tiga ronde. Pada ronde pertama, serangan antara kelompok dari utara dan selatan.
Kemudian serangan kedua dari barat dan timur. Sedangkan yang terakhir adalah penyirang dari barat laut ke timur laut.
Keunikan Siat Sarang adalah menggunakan sarang atau alat untuk membuat jajanan uli yang terbuat dari enau atau daun kelapa.
Enau atau daun kelapa ini disusun sedemikian rupa berbentuk krucut dan memiliki tekstur yang unik.
Sebelum tradisi dimulai warga mempersembahkan sesajen berupa tenge berisikan daun gegirang, bambu, gunggung, daun aba yang dihiasi gambar Bhuta Kala.
Kemudian tenge dimasukkan ke dalam sarang agar kekuatan negatif terserap masuk kedalam sarang sebelum dihancurkan.
“Hal tersebut membuat tradisi siat sarang memiliki nilai yang luar biasa dan sarat akan makna permohonan kepada Tuhan yang maha esa agar diberi kesuburan panen, Kesehatan dan kebahagiaan bagi penduduk desa,” tutupnya.
Editor : Nyoman Suarna