Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Tradisi Hindu Bali: Ini Banten untuk Perayaan Hari Tumpek Bubuh Berikut Maknanya

I Putu Mardika • Minggu, 28 Januari 2024 | 17:01 WIB
BANTEN: Hindu Bali merayakan hari Tumpek Bubuh sebagai penghormatan terhadap tumbuh-tumbuhan menggunakan banten.
BANTEN: Hindu Bali merayakan hari Tumpek Bubuh sebagai penghormatan terhadap tumbuh-tumbuhan menggunakan banten.

BALI EXPRESS –Sesuai tradisi Hindu di Bali, Tumpek Bubuh merupakan hari pemujaan terhadap penguasa tumbuh-tumbuhan.

Di dalam Lontar Sundarigama disebutkan, Tuhan dalam wujud penguasa tumbuh-tumbuhan bergelar Sang Hyang Sangkara.

Serati banten Jro Ketut Utara mengatakan, ada berbagai sarana banten (sesajen) yang dipersiapkan dan dipersembahkan kepada Sang Hyang Sangkara saat Tumpek Wariga.

Namun perlu dicatat bahwa pelaksanaan Tumpek Wariga pasti berbeda di setiap desa yang ada di Bali. Selain karena desa mawecara, tentunya juga dipengaruhi oleh desa, kala, dan patra.

Menurut catatan yang terdapat dalam Lontar Sundarigama bahwa banten atau upakara yang diperlukan untuk perayaan tumpek wariga, di antaranya peras, sayut, tulung, banten ajuman atau soda dan bubur sumsum yang terbuat dari tepung beras ditaburi kelapa parut dan gula merah cair.

Pada pohon juga diisi caniga dan di bawahnya segehan cacahan.

Banten peras adalah lambang perjuangan dan doa untuk mencapai hidup kita.

Demikian juga dengan tumbuhan yang memiliki roh dan bisa tumbuh, tentu memiliki tujuan dalam hidupnya. Walaupun tumbuhan tidak bisa bersuara, dia terus tumbuh sesuai dengan kodratnya.

Banten penyeneng adalah jenis banten berbentuk sampian, berisi tiga kojong. Dalam kojong tersebut diisi tepung tawar, yaitu campuran tepung beras, kunyit, dan daun dapdap.

Penyeneng berfungsi sebagai sarana pada saat natab dalam upacara otonan. Dalam hal ini adalah otonan tumbuh-tumbuhan sehingga yang natab juga adalah tumbuh-tumbuhan.

Selanjutnya adalah sesayut yang berasal dari kata “Ayu”. Dalam bahasa Sanskerta kata Ayu bermakna hidup yang baik.

Kemudian ada  bubur yang dibuat serta dihaturkan saat Tumpek bubuh berwujud warna merah serta putih.

Bubur bercorak merah ialah lambang purusa (maskulin), sebaliknya bubur bercorak putih ialah lambang pradana (feminim). Penyatuan kedua hal inilah menimbulkan lahirnya kehidupan.

Banten ini mengandung makna supaya tumbuh-tumbuhan yang ada di sekitar kita agar tumbuh dengan baik dan berguna bagi yang memerlukan.

Editor : Nyoman Suarna
#bali #Banten #hindu #tumpek #tradisi #tumpek bubuh