BALI EXPRESS- Agama Hindu mengenal istilah sembahyang. Sembahyang ini berasal dari bahasa Jawa Kuno.
Sembahyang dari kata sembah artinya menghormat, takluk, menghamba, atau permohonan. Sedangkan Hyang artinya Dewa, Dewi, suci.
Dengan beitu, kata sembahyang artinya menghormat atau takluk serta memohon kepada Dewa atau kepada yang suci.
Sembahyang di sini memiliki pengertian yang cukup luas, yaitu melakukan penghormatan kepada Dewa atau Tuhan Yang Maha Esa atau kepada sesuatu yang suci.
Penyuluh Agama Hindu di Bali Luh Sonia Candra Juwita memaparkan kata sembahyang mengandung pengertian menyerahkan diri atau menaklukkan diri serta menghamba kepada yang disembah.
Bagi umat Hindu di Bali, sembahyang merupakan wujud nyata kegiatan beragama dengan tujuan untuk menghormat, menyerahkan diri serta menghamba kepada Tuhan dan yang suci, misalnya kepada leluhur yang telah suci dan kepada para Maha Rsi yang telah memiliki kesucian.
“Perihal sembahyang, di dalam kitab suci Weda, telah dijelaskan sebagai ilmu pengetahuan yang tergolong Upasana, dalam bahasa Sansekerta artinya pelayanan, kebaktian, dan pemujaan,” katanya.
“Kitab suci Weda merupakan sumber hukum atau sumber ajaran tentang kewajiban bagi umat Hindu melakukan sembahyang sebagai salah satu wujud bhakti dari pelaksanaan kehidupan beragama,” papar Sonia.
Dia juga mengungkapkan Weda memuat tentang cara atau jalan melakukan hubungan dengan Ida Sanghyang Widhi sebagai Maha Pencipta, di antaranya dengan melalui jalan bhakti, sebagaimana disuratkan di dalam kitab Bhagawadgita, Bab IX. 34 :
Manmana bhswa madbhakto
madwaji mam namaskuru
mam ewai ’syasitwai ’wam
atmanam matparayanah”
Maknanya:
Pusatkanlah pikiranmu kepada-Ku, berbhakti kepada-Ku, sembahlah Aku, sujudlah pada-Ku.
Setelah melakukan disiplin pada dirimu sendiri dan Aku sebagai tujuan engkau akan datang (mendekat) pada-Ku.
Sonia menjelaskan manfaat sembahyang dapat menentramkan jiwa.
Jiwa yang tentram merupakan kebutuhan rohani pada setiap orang yang bisa dirasakan jika selalu merasa dekat dengan Tuhan.
Jiwa yang tentram adalah jiwa yang terlepas dari rasa cemas, gelisah, bingung, ragu-ragu dan kecewa.
Nilai-nilai spiritual dan nilai-nilai material hanya akan dapat ditumbuhkan oleh manusia yang berjiwa tentram.
Selanjutnya ada menumbuhkan cinta kasih, rasa dekat dengan Tuhan yang ditumbuhkan oleh ketekunan sembahyang, akan meningkatkan rasa cinta kasih kepada sesama.
Karena jiwatman yang ada pada semua makhluk adalah satu, bersumber dari Tuhan.
Dengan rutin, rajin dan disiplin sembahyang akan dapat menumbuhkembangkan rasa cinta kasih kepada siapapun.
Manfaat selanjutnya ada melestarikan alam, sebagaimana diketahui, dalam persembahyangan membutuhkan sarana yang berasal dari alam.
Melalui sembahyang umat dimotivasi untuk memelihara, merawat atau melestarikan alam yang di antaranya menyediakan keperluan ritual, seperti daun (patram), bunga (puspam), buah (phalam), air (toyam) dan lain-lain.
Baca Juga: Riset INDEF Ungkap 50% UMKM Pilih Shopee Jadi Platform Utama untuk Berjualan Online
“Secara langsung ataupun tidak langsung terjadi proses pendidikan dalam bentuk menanamkan rasa cinta alam pada umat Hindu. Intinya melalui sembahyang, umat dapat mencintai Tuhan dengan cara mencintai dan melestarikan alam lingkungan beserta segala isinya,” ucap Sonia.
Terdapat juga untuk memelihara kesehatan, karena persembahyangan sudah tentu dilakukan dengan beberapa sikap yang dalam agama Hindu disebut Asana, di antaranya sikap Padmāsana, yaitu sikap sembahyang dengan duduk seperti teratai.
Padmāsana ini dilakukan dengan menempatkan kaki kanan di atas paha kiri dan kaki kiri di atas paha kanan, tulang punggung sampai kepala menjadi satu garis tegak, sekujur tubuh dilemaskan.
Setelah keadaan pikiran tenang barulah sembahyang dilakukan. Kalau sikap ini secara tekun dilakukan tiap hari, maka sembahyang akan membawa manfaat bagi kesehatan jasmani.
Sikap Padmāsana juga menjaga keseimbangan jasmani dan rohani, sehingga dapat dikendalikan.
Bahkan bisa membantu menyembuhkan penyakit tertentu seperti rematik kaki, paha dan punggung, dan juga melancarkan peredaran darah ke seluruh tubuh.
Setelah menentukan sikap sembahyang (Asana), dilanjutkan dengan melakukan pranayama yaitu mengatur pernapasan dengan menarik nafas, menahan napas, dan mengeluarkan napas.
Dalam kesempatan tersebut, Sonia juga menerangkan tujuan sembahyang menurut Hindu dapat bermakna sebagai berikut :
- Untuk mengadakan penebusan atas dosa yang dimiliki oleh umatnya.
- Untuk menyucikan diri secara lahir dan bathin
- Untuk menyebrangkan manusia dari keadaan sekarang menuju tujuan hidup yang utama, yaitu dharma, artha , kama, moksa.
- Untuk mendapat tingkat kesucian dan rahmat dari Tuhan.
- Untuk menolong dan menyelamatkan mahluk-mahluk lainnya menuju kelepasan.
- Hal-hal lain yang tidak bertentangan dengan ajaran agama.
- Untuk mewujudkan rasa bhakti kehadapan Tuhan beserta segala manifestasinya.
- Untuk memohon keselamatan, pengampunan, dan petunjuk menuju hidup yang lebih baik.
- Menyerahkan diri secara bulat karena menyadari akan kelemahan dan keterbatasannya. (*)
Editor : I Made Mertawan