SINGARAJA, BALI EXPRESS – Sebanyak 16 orang penyuluh bahasa Bali melakukan konservasi dan identifikasi lontar di Desa Panji, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng, Bali.
Dalam upaya melestarikan keberadaan lontar, penyuluh bahasa Bali ini berhasil mengidentifikasi 15 cakep lontar dengan 17 judul yang tergolong dalam klasifikasi kanda, wariga, usada dan embatan-embatan.
Karya-karya tersebut berasal dari keluarga Komang Agus Darmawan Banjar Dinas Kembang Sari, Desa Panji.
Koordinator Penyuluh Bahasa Bali Kabupaten Buleleng Putu Pertamayasa mengatakan lontar bukan hanya sebagai warisan budaya Bali.
Lontar juga sebagai cerminan sejarah peradaban Bali di tengah pesatnya perkembangan teknologi global.
Oleh karena itu, pelestarian lontar menjadi suatu keharusan bagi masyarakat Bali.
“Salah satu upaya pelestarian lontar yaitu melakukan konservasi dan identifikasi atas lontar-lontar yang dimiliki masyarakat Bali khususnya di Buleleng, agar kondisi, isi dan judul dari lontar tersebut diketahui,” ujar Pertamayasa, Jumat, 9 Februari 2024.
Proses identifikasi dan konservasi dilakukan dengan menggunakan berbagai alat seperti kuas, gunting, benang, kemiri bakar, tisu/kapas, stiker tempel, dan minyak sereh.
Dalam proses tersebut, diperlukan ketelitian dan kesabaran untuk mengidentifikasi judul dan jumlah lontar yang ada.
“Lontar ini merupakan warisan dari kumpinya dengan kondisi awalnya dalam keadaan kering, kotor, sambrag, atau terlepas namun dijadikan satu ikat. Tetapi kami berupaya menata kembali agar dapat tersusun dan terbaca dengan baik,” ungkapnya.
Sebelum diidentifikasi, lontar tersebut hanya disimpan dalam rumah. Lontar itu jarang disentuh lantaran pemilik terbatas dalam hal pembacaan dan pengetahuan mengenai lontar.
“Setelah dibaca ada sekitar 17 judul dari 15 cakep itu. Seperti penerang, penyarang, piwelas, kawisesan, pipil dan lain-lain,” ujarnya. (*)
Editor : I Made Mertawan