BALI EXPRESS – Kesenian dan tradisi yang mengalir di Desa Kedis, Kecamatan Busungbiu, Buleleng, Bali tak pernah surut. Kesenian ini pula yang melahirkan seniman-seniman besar di desa ini.
Bahkan maestro seni tari dan tabuh Ketut Merdana juga berasal dari desa ini. Dari sosok Ketut Merdana pula terlahir para seniman generasi berikutnya.
Gede Artaya, salah seorang seniman di Desa Kedis mengatakan, kesenian berupa tari maupun tabuh di Desa Kedis telah menjadi satu.
Ibarat kehidupan, seni dan tradisi adalah rohnya. Hal itulah yang membuat Desa Kedis disegani saat tampil di berbagai even kesenian di Bali.
Ada hal menarik di balik terkenalnya nama Desa Kedis di kalangan seniman tradisi.
Para seniman di desa ini sangat taat, baik terhadap para dewa, leluhur hingga pelatih.
Terdapat satu tapakan yang menjadi taksu seniman di desa itu. Tapakan tersebut berwujud barong yang disebut Jro Nyoman Sakti.
Tapakan ini disungsung oleh Gede Artaya dan keluarganya.
“Kalau terlambat sembahyang kadang saya mendengar suara gertakan gigi barong,” ungkapnya dengan tatapan serius.
Sebagai seseorang yang dipercaya mengemban tugas itu, Artaya pantang mengonsumsi daging burung perkutut.
“Saya tidak boleh makan burung titiran. Selain itu tidak ada,” tambahnya.
Tak hanya sebagai penjaga tradisi, Jro Nyoman Sakti juga dipercaya menjadi pusat permohonan restu dan bantuan spiritual bagi banyak orang.
“Kalau mau pentas ada yang datang ke sini memohon restu. Ada juga yang memohon obat. Kalau nunas tamba dan nangkil, cukup membawa pejati saja. Ada juga yang datang memohon restu ke sini saat nyaleg,” ujarnya dengan tulus.
Meskipun demikian, Artaya tetap memiliki keyakinan pada usaha dan doa sebagai kunci untuk menjalani hidup dengan baik.
“Yang penting tetap berusaha dan berdoa. Yang namanya takdir dan nasib seseorang tidak ada yang tahu, Tuhan yang menentukan, manusia hanya bisa berencana,” katanya, menyiratkan kebijaksanaan yang telah diperoleh dari pengalaman hidupnya yang panjang. ***
Editor : Nyoman Suarna