Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Tradisi Usaba Kelod di Desa Bugbug, Karangasem, Bali: Gunakan Sarana Godel, Ini Tujuannya

I Putu Mardika • Sabtu, 24 Februari 2024 | 15:10 WIB
GODEL: Tradisi Ngusaba Kelod di Desa Bugbug, Karangasem  menggunakan sarana godel.  Dilaksanakan pada sasih Kesanga, sekitar bulan Maret.
GODEL: Tradisi Ngusaba Kelod di Desa Bugbug, Karangasem menggunakan sarana godel. Dilaksanakan pada sasih Kesanga, sekitar bulan Maret.

BALI EXPRESS - Desa Adat Bugbug, Karangasem, Bali tidak hanya memiliki tradisi tatebahan maupun usaba gumang, krama Bugbug juga masih melestarikan tradisi Usaba Kelod sebagai bagian dari ritual Pitra Yadnya.

Kelian Desa Adat Bugbug I Nyoman Purwa Ngurah Arsana menjelaskan, Usaba Kelod merupakan tradisi yang identik dengan upacara Atma Wedana (ngeroras), yaitu tingkatan dari upacara Pitra Yadnya (ngaben).

Tradisi Usaba Kelod ini dilaksanakan untuk kerabat yang telah meninggal dunia.

Usaba Kelod dilaksanakan berdasarkan perhitungan Desa Adat, yakni Sasih Kesanga, sekitar bulan Maret.

Usaba Kelod merupakan rangkaian proses penyucian atma (roh) manusia yang telah meninggal.

Ia menjelaskan, setiap masyarakat Bugbug pada suatu saat akan melewati tahapan yadnya Usaba Kelod.

Setiap krama yang terlibat wajib membawa seekor godel (anak sapi) untuk dihadirkan dalam upacara Mapurwa Daksina, sebagai simbol kendaraan sang pitara menuju surga.

“Sebab Usaba Kelod itu identik dengan upacara ngeroras, untuk memuliakan sang pitara,” katanya.

Rangkaian pelaksanaan yadnya Usaba Kelod diawali dengan upacara Ngendekan pemangku, upacara miut, upacara ngulapin, upacara mamios, upacara ngunyain dan upacara Usaba Kelod.

Sekah dibawa ke rumah masing-masing kemudian ditempatkan di bale dangin, bale gede, boleh juga di bale sake nem atau tempat khusus yang dibuatkan (jika tidak memiliki bale dangin).

“Setelah sekah distanakan di bale dangin, dilakukan upacara memios, yaitu upacara lanjutan setelah upacara ngulapin,” jelas Purwa Arsana.

Menurutnya, inti upacara mamios adalah mempersembahkan sesajen kepada leluhur melalui perwujudan sekah.

Sesajen memios berfungsi sebagai persembahan dan ungkapan rasa bhakti kepada leluhur yang diyakini melinggih (berstana) di simbol sekah.

Upacara memios dilaksanakan dengan menghaturkan banten mamios bersarana banten sakesidan.

Banten mamios merupakan banten sederhana terdiri dari sodoan berisi pisang, jaja uli, jaja gina, dodol, tepe, buah buahan, dan ayam panggang disusun di atas bokor.

Memios sebagai ungkapan rasa hormat dan rasa terimakasih kepada leluhur yang telah memberikan jalan kepada anggota keluarga.

 “Ritual mamios dilakukan oleh keluarga dekat yang masih memiliki ikatan keluarga terhadap leluhur yang diupacarai,” imbuh pria yang juga anggota DPRD Provinsi Bali ini.

Masyarakat Bugbug yang melaksanakan ritual Usaba Kelod adalah anggota keluarga yang memiliki jasad leluhur dalam satu generasi.

“Karena hakekat Usaba Kelod adalah melepas unsur Panca Mahabhuta dari roh sang seda (meninggal) melalui pelaksanaan ritual Atma Wedana,” tutupnya. ***

Editor : Nyoman Suarna
#bali #Desa Bugbug #usaba kelod #godel #karangasem #tradisi