Pintu Pekarangan dan Pengaruhnya Menurut Hindu Bali: Panduan Lengkap Jika Pintu Sulit Dirubah
I Putu Suyatra• Sabtu, 6 April 2024 | 18:06 WIB
Pintu masuk pekarangan rumah di Bali
BALI EXPRESS - Pintu pekarangan bukan hanya akses keluar masuk, tetapi juga memiliki pengaruh penting terhadap penghuninya menurut kepercayaan Hindu Bali.
Artikel ini mengupas tuntas makna dan pengaruh arah pintu pekarangan berdasarkan Lontar Astha Kosala-Kosali dan Astha Bhumi, serta solusi jika pintu tidak ideal.
Menurut tokoh Hindu Bali, Drs. I Ketut Pasek Swastika, peran pintu masuk dalam sebuah pekarangan sangat signifikan.
Dalam perspektif Feng Shui, pintu masuk dianggap sebagai stana Sang Hyang Dorakala, yang secara harfiah berarti pintu (lawang) dan waktu (dina/hari).
Dorakala adalah simbol pintu masuk sehari-hari yang memengaruhi energi di sekitarnya.
Menurut prinsip yang tercantum dalam Lontar Astha Kosala-Kosali dan Astha Bhumi, penempatan pintu masuk harus diukur dengan cermat berdasarkan panjang dan lebar pekarangan.
Hasil pengukuran dibagi menjadi sembilan bagian yang setiap bagiannya memiliki arti khusus, sesuai dengan arah mata angin.
Untuk pekarangan yang menghadap ke selatan, berbagai makna terkait berbagai pembagian tersebut, seperti bhaya agung (tidak baik), sukha megeng (baik), dan lainnya.
Pada pekarangan yang menghadap ke barat, penempatan pintu masuk juga memiliki implikasi yang berbeda, seperti musuh makweh (tidak baik) dan brahma sthana (baik).
Dalam konteks pekarangan yang menghadap ke timur, berbagai faktor seperti wridhi guna (baik) dan kabrahmanan (baik) menjadi pertimbangan utama.
Sedangkan untuk pekarangan yang menghadap ke utara, penempatan pintu masuk berhubungan dengan aspek seperti Brahma sthana (baik) dan kawigunan (baik).
Detail cara menentukan posisi pintu pekarangan bisa baca artikel di bawah ini:
Solusi Pintu Pekarangan yang Tidak Ideal
Jika situasinya tidak memungkinkan untuk mengubah penempatan pintu masuk, ada solusi alternatif yang disarankan oleh Pinandita Pasek Swastika.
Hal ini melibatkan pembangunan aling-aling dan penyembahan kepada Dewa Ganesha atau Ida Bhatara Ganapati.
Dengan bantuan Dewa Ganesha, energi negatif dapat dihindari.
Tetapi, upaya ini harus diiringi dengan penghaturan canang dan banten saiban serta ritual pembersihan dengan tirta sebagai tanda penghormatan terhadap kekuatan ilahi.