BALI EXPRESS - Dalam Lontar Tutur Gong Besi disebutkan jenis-jenis pandita dalam agama Hindu berdasarkan swadharmanya.
Pertama, Pandita Ngeraga yang dalam kesehariannya hanya menyucian diri sendiri serta tidak melakukan pelayanan terhadap umat berupa kegiatan Ngelokapalasraya.
Kedua, Pandita Lokapalasraya, merupakan pandita yang menjalankan tugas untuk melaksanakan penyucian diri sekaligus memberikan pelayanan umat untuk muput atau menyelesaikan upacara, dan membimbing umat secara rohani.
Ketiga, Pandita Acharya yang merupakan pandita melaksanakan penyucian diri, menyelesaikan atau muput upacara yajna, memberikan bimbingan rohani, tuntunan dan pencerahan rohani kepada umat.
Bila mengacu ajaran yang tertuang dalam Tutur Gong Besi, maka seorang pandita, khususnya yang menjalankan Lokapalasraya, selain mengetahui hakekat kehidupan juga wajib menguasai hal-hal yang berkaitan dengan upacara-upacara yadnya.
“Upacara yadnya yang paling erat kaitannya dengan kehidupan pribadi manusia, menurut Lontar Tutur Gong Besi, adalah upacara manusa yadnya dan pitra yadnya, yaitu upacara yadnya yang diperuntukkan bagi manusia mulai dari lahir hingga meninggal,” sebutnya.
Dengan Jnana, seorang pandita diharapkan mampu mengetahui hal-hal niskala serta mengkorelasikan ajaran tersebut untuk membantu masyarakat.
Hal tersebut dilakukan saat seorang pandita Ngelokapalasraya atau muput upacara yadnya.
Pandita diharapkan memiliki kepekaan Jnana ketika beliau memimpin upacara, terutama yang berkaitan dengan manusa yadnya dan pitra yadnya.
Upacara tersebut benar-benar berhasil terselenggara sesuai dengan tujuan dari masing-masing upacara.
Hal ini merupakan kewajiban serta tanggung jawab yang berat bagi pandita. Sebab, ketika melaksanakan tugas sebagai yajamana, pandita harus bertanggung jawab atas keberhasilan upacara tersebut.
Pandita harus memastikan bahwa memang benar maksud dan tujuan upacara telah terselenggara dengan baik dan benar. (*)
Editor : Nyoman Suarna