DENPASAR, BALI EXPRESS - Desa Adat Panjer, Kecamatan Denpasar Selatan, memiliki kekayaan budaya luar biasa dalam bentuk Tari Telek Panjer. Tarian sakral Hindu Bali ini bukan hanya indah, tetapi juga memiliki makna mendalam dan tradisi yang unik.
Cerita Mitos dan Keunikan Tari Telek
Bendesa Adat Panjer, Anak Agung Oka Ketut Adnyana menjelaskan, tari Telek Panjer erat kaitannya dengan cerita mitos dan sejarah Desa Adat Panjer.
Tarian ini hanya dipentaskan di tempat-tempat tertentu, seperti Pura Dalem, Pura Dalem Tanjung Sari, dan Pura Tegal Penangsaran.
Baca Juga: Tumpek Krulut: Hari Kasih Sayang Versi Bali yang Penuh Makna Dalam Nada-nada Indah
Selain itu, pementasannya juga dilakukan pada bulan purnama, tilem, dan saat upacara adat seperti Dewa Yadnya dan piodalan.
Penari dan Topeng Sakral
Tari Telek Panjer dibawakan oleh sembilan penari yang terdiri dari empat Telek, dua Jauk Manis, dua Penamprat, dan seorang Ratu.
Masing-masing penari memiliki peran dan topeng khusus. Topeng Telek berwarna putih, Jauk Manis berwarna putih dengan paras laki-laki, dan Jauk Keras berwarna merah.
“Selain itu tapel, gelungan dan pakian Telek juga disimpan secara khusus di Gedong Sesuhunan, tepatnya berada di Pura Desa Adat Panjer,” kata Anak Agung Oka Ketut Adnyana.
Baca Juga: Daftar Upacara dan Hari Besar atau Rerainan Hindu di Bali: April 2024
Gerakan dan Makna Tarian
Tari Telek memiliki gerakan yang khas, seperti ngepik dan ngelayak. Gerakan-gerakan ini melambangkan berbagai makna, seperti kekuatan, kesuburan, dan tolak bala.
Tarian ini juga memiliki cerita yang menceritakan tentang perjuangan melawan penyakit dan bencana.
Proses Pensakralan dan Sejarah Panjang
Tari Telek Panjer memiliki proses pensakralan yang unik. Topeng, gelungan, dan pakaian Telek disimpan secara khusus di Gedong Sesuhunan Pura Desa Adat Panjer.
Tarian ini juga memiliki sejarah panjang dan diyakini berasal dari pemuwus (bisikan gaib) dari Sasuhunan Pura Dalem.
Selain itu dari mitologinya adanya mitos yang mengatakan bahwa Pohon Pule yang ada di Pura Dalem Desa Adat Panjer ini ingin dibuatkan Tapel Barong dan Ratu Ayu.
Beliau juga menginginkan Tari Telek ini sebagai pelengkap saat mesolah dan disakralkan, Proses sakralisasi sesuhunan yang sejak dulu sudah ada di Desa Adat Panjer Denpasar Selatan bahwa sesuhunan tersebut sudah melalui pasupati dan ngerehang pada tahun 1920 di setra Gandamayu Nyanggelan Panjer.
“Proses ngaturang pakeling atau piuning merupakan persembahan yang bertujuan untuk nguningang atau memberi tahu serta meminta ijin atas suatu upacara yang akan diselenggarakan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa,” ungkapnya.
Upacara Penyucian dan Tolak Bala
Setiap enam bulan sekali, pada Tumpek Landep, para penari Telek melakukan upacara penyucian untuk mendapatkan kekuatan dan taksu.
Upacara ini dilakukan agar mereka dapat menyatu sepenuhnya dengan sosok Sesuhunan saat pementasan.
Naur Sesangi dan Keselamatan Desa
Pementasan Tari Telek Panjer diyakini sebagai tolak bala dan sarana naur sesangi untuk mendapatkan keselamatan dan kesehatan.
Konon, pada tahun 1953, Desa Panjer dilanda wabah penyakit cacar yang dahsyat. Berkat Tari Telek dan upacara adat, wabah tersebut berhasil dihilangkan.
Pada saat itu seluruh masyarakat Banjar Kangin menyanggupi untuk mengadakan upacara pembangkitan kembali atau membangunkan Sesuhunan yang sudah lama tersimpan.
“Setiap Tari Telek Panjer ini dipentaskan seluruh warga dipastikan menyaksikan sekaligus memohon keharmonisan khususnya warga desa adat panjer,” paparnya.
Warisan Budaya yang Dihormati
Saat ini, Tari Telek Panjer menjadi bagian penting dari budaya Desa Adat Panjer. Tarian ini dipentaskan untuk memohon keharmonisan dan kesejahteraan bagi seluruh warga desa.
Informasi Penting:
- Tari Telek Panjer adalah tarian sakral dari Desa Adat Panjer, Denpasar Selatan.
- Tarian ini memiliki cerita mitos, keunikan gerakan, dan proses pensakralan yang menarik.
- Tari Telek Panjer diyakini sebagai tolak bala dan sarana naur sesangi.
- Tarian ini masih dilestarikan dan menjadi warisan budaya yang dihormati di Desa Adat Panjer.