Mengenal Jenis dan Fungsi Klakat: Simbol Makna Mendalam dalam Upacara Hindu di Bali
I Putu Suyatra• Senin, 15 April 2024 | 17:31 WIB
Klakat menjadi salah satu dasar pembuatan sanggah cucuk
DENPASAR, BALI EXPRESS - Agama Hindu terkenal dengan berbagai upacaranya yang penuh makna. Salah satu elemen penting dalam upacara Hindu di Bali adalah Klakat, anyaman bambu berbentuk segi empat yang sarat simbolisme.
Klakat hadir dalam berbagai jenis dan memiliki fungsi berbeda dalam ritual keagamaan.
Dalam sebuah wawancara eksklusif dengan Bali Express pada akhir pekan lalu, Jro Mangku Wayan Satra membuka tabir tentang esensi Klakat.
"Klakat tidak hanya sekadar anyaman bambu biasa. Mereka mengandung makna yang dalam dan memiliki peran penting dalam berbagai upacara Hindu," ungkap Mangku Satra.
Klakat hadir dalam beragam bentuk dan ukuran, disesuaikan dengan kebutuhan ritual yang akan dilaksanakan.
Salah satu jenis yang paling menonjol adalah Klakat Pancak.
Mangku Satra menjelaskan, nama "Pancak" berasal dari kata "Panca", yang dalam konteks Bali merujuk pada angka lima.
Angka ini merujuk pada jumlah lubang dalam Klakat, baik secara vertikal maupun horizontal, yang mengandung simbolisme dari Panca Mahabutha, lima unsur dasar yang membentuk kehidupan.
Namun, bukan hanya Klakat Pancak yang menghiasi upacara Hindu. Ada juga Klakat Sudhamala, yang memiliki ciri khas tersendiri.
Klakat ini, juga terbuat dari bambu, namun memiliki desain yang berbeda.
Klakat Sudhamala dipahami dalam konsep Purusha dan Prakerti, mencerminkan aspek laki-laki dan perempuan.
Masing-masing jenis Klakat mengandung simbol-simbol yang kaya akan makna keagamaan Hindu.
"Klakat bukanlah sembarang barang. Mereka harus dibuat dari bahan-bahan suci dan baru, sesuai dengan ajaran agama Hindu," tambah Mangku Satra.
Lebih lanjut, Klakat Pancak dan Klakat Sudhamala menjadi bagian integral dari upacara-upacara suci Hindu, seperti Manusa Yadnya, Pitra Yadnya, dan Bhuta Yadnya.
Dalam konteks ritual yang lebih spesifik, Klakat Pancak sering digunakan sebagai elemen penting dalam upakara Caru, serta sebagai komponen dasar dalam pembuatan Sanggah Cucuk.
Klakat, dengan segala simbolisme dan kekayaan maknanya, tidak hanya menjadi bagian dari warisan budaya Bali, tetapi juga menambahkan lapisan kedalaman spiritual dalam praktik keagamaan Hindu.
Sebuah perjalanan yang mengungkapkan betapa dalamnya kekayaan tradisi dan keyakinan agama Hindu di pulau Dewata.
Klakat Pancak
Klakat Pancak
Memiliki 25 lubang yang tersusun dalam pola 5x5. Jumlah ini melambangkan Panca Mahabutha, yaitu lima elemen dasar penyusun alam semesta dan manusia.
Klakat Pancak biasanya digunakan sebagai alas upakara caru, saji, dan komponen Sanggah Cucuk.
Klakat Sudhamala
Memiliki dua jenis, yaitu laki-laki dan perempuan yakni:
Klakat Sudamala Lanang
1. Klakat Sudhamala Laki-laki (Lanang)
Memiliki tanda silang di tengahnya yang melambangkan Swastika dan empat kesaktian Sang Hyang Widi (Wibhu Sakti, Sadu Sakti, Jnana Sakti, dan Krya Sakti).
Klakat Sudhamala Perempuan (Wadon)
2. Klakat Sudhamala Perempuan (Wadon)
Memiliki lubang dengan tepian delapan sudut yang melambangkan delapan Kemahamuliaan Sang Hyang Widi (Asta Aiswarya).
Klakat Sudhamala biasanya digunakan sebagai pelengkap Upacara Dewa-Dewi dan Upacara Nyekah Neseng.
Fakta Menarik:
Klakat harus terbuat dari bahan yang suci dan baru untuk digunakan dalam upacara.
Klakat Sudhamala laki-laki melambangkan kekuatan maskulin, sedangkan Klakat Sudhamala perempuan melambangkan kekuatan feminin.
Penggunaan Klakat dalam upacara Hindu di Bali merupakan wujud penghormatan terhadap alam semesta dan Sang Hyang Widi Wasa.