Sisi Lain Juru Undang Calonarang dalam Budaya Hindu Bali: Menantang Leak dan Gangguan Niskala, Begini Maknanya
Putu Agus Adegrantika• Jumat, 14 Juni 2024 | 17:11 WIB
Komang Indra Wirawan, seorang juru undang
BALIEXPRESS.ID – Pementasan Calonarang dalam budaya Hindu Bali selalu memukau penonton dengan kehadiran barong dan rangda, simbol dari rwa bhineda (baik dan buruk) dalam kehidupan.
Selain itu, tarian pendukung juga memperkaya pertunjukan ini. Salah satu daya tarik utama yang membuat masyarakat antusias menonton adalah kehadiran juru undang yang beriringan dengan keluarnya watangan.
Tantangan dan Keahlian Juru Undang dalam Pementasan Calonarang
Mengemban peran sebagai juru undang, yang bertugas mengundang dan menantang praktisi Aji Ugig (ilmu hitam), merupakan sebuah tantangan tersendiri.
Komang Indra Wirawan, seorang juru undang yang hingga kini setia dengan perannya, mengakui hal ini.
Ia memulai karirnya sebagai penari rangda dan kini dikenal sebagai 'tukang nantang' yang berpengalaman.
Dalam wawancara dengan Bali Express (Jawa Pos Group) di Pasraman Gases Sesetan, Denpasar, Wirawan berbagi pengalaman tentang gangguan skala dan niskala yang sering ia hadapi saat mengundang tokoh leak untuk beradu kawisesan.
Gangguan tersebut dianggap wajar karena proses ini biasa dilakukan di tempat suci seperti Pura Dalem sebelum dilanjutkan di pemakaman atau setra.
Proses dan Kesiapan dalam Penokohan
Proses panjang yang dilalui Indra Wirawan hingga menjadi juru undang melibatkan berbagai tahap, mulai dari menjadi matah gede hingga penari rangda.
Ia menekankan pentingnya kesiapan jasmani dan rohani dalam menjalani penokohan ini.
"Harus adanya dasar, mengetahui tentang budaya, pengetahuan yang luas, dan multitalenta dalam penokohan," jelas Wirawan yang juga bergelar doktor.
Watangan dalam Cerita Calonarang
Watangan, atau orang hidup yang menjadi mayat, adalah salah satu elemen penting dalam cerita Calonarang.
Pemeran watangan biasanya meninggal karena penyakit akibat Desti Teranjana Aji Ugig, ilmu hitam yang disalahgunakan.
Calonarang di Bali tidak bisa dilepaskan dari sakralisasi pura, di mana barong dan rangda menjadi unsur penting yang menjaga tradisi ini tetap hidup.
Pementasan yang Mengikuti Pakem dan Etika
Pada tahun 1980, pementasan Calonarang dilakukan sesuai dengan pakem yang berlaku, yakni dengan belajar sungguh-sungguh, mendengar dari yang berpengalaman, dan mawinten (upacara penyucian) sebelum mendalami seni tersebut.
Namun, saat ini proses tersebut sering dianggap sepele dan kadang diabaikan.
Menurut Indra Wirawan, juru undang adalah elemen yang sangat penting dalam pementasan Calonarang.
Mereka tidak hanya melengkapi pementasan tetapi juga menyampaikan pesan dan makna dari cerita Calonarang itu sendiri.
"Pertama, juru undang sebagai pelengkap dari pementasan Calonarang, kedua sebagai penyampaian pesan dari arti dan makna Calonarang itu sendiri, dan ketiga sebagai media untuk menutupi kekurangan pementasan," ungkapnya.
Tiga Dasar Kerangka Agama Hindu dalam Pementasan
Proses pementasan Calonarang mengikuti tiga dasar kerangka Agama Hindu: tattwa, susila, dan upacara.
Wirawan menekankan pentingnya susila, berupa etika dalam pementasan.
"Jika pentas Calonarang dibarengi dengan merasa diri paling sakti dan pintar, maka akan menyebabkan hal yang tidak baik," jelasnya.
Tantangan dan Hambatan dalam Pementasan
Dalam pementasan, Indra Wirawan sering menghadapi hambatan berupa gesekan secara niskala yang dapat diatasi dengan pikiran positif dan niat ngayah (berbakti).
Gangguan nyata seperti ejekan dari penonton juga kerap terjadi, namun hal tersebut tidak mengurangi semangatnya dalam ngayah.
Makna Ngundang dalam Pementasan Calonarang
Ngundang dalam Calonarang melibatkan mengundang bhuta kala, bhuta bhuti, raksasa-raksasi, dan leak desti ngelaran Aji Ugig.
Ngundang secara skala menggunakan media upakara seperti bebantenan tawas sari, tawas daun, dan segehan, dengan tujuan agar mereka datang untuk diberi makan dan kembali ke Bhuwana Agung atau unsur alam semesta.
Indra Wirawan menekankan bahwa tujuan ngundang adalah untuk menjaga keseimbangan antara skala dan niskala, serta mengingatkan bahwa ilmu yang disalahgunakan tidak akan membawa manfaat.
Dengan mengikuti etika dan prosedur yang benar, pementasan Calonarang akan tetap sakral dan memukau.
Tantangan Menjadi Juru Undang:
Menghadapi gangguan sekala dan niskala: Komang Indra Wirawan, seorang juru undang berpengalaman, pernah merasakan gangguan ini saat mengundang leak. Gangguan ini wajar terjadi, karena prosesi ini melibatkan kekuatan gaib.
Memiliki kesiapan jasmani dan rohani: Menjadi juru undang membutuhkan fisik yang kuat dan mental yang stabil. Indra Wirawan memulai perjalanannya sebagai penari rangda sebelum menjadi juru undang.
Memahami budaya dan tradisi: Pengetahuan tentang budaya dan tradisi Bali sangat penting bagi juru undang. Indra Wirawan bahkan meraih gelar doktor di bidang ini.
Watangan dan Makna Ngundang:
Watangan: Watangan adalah pemeran yang "dibunuh" oleh leak karena ilmu hitam yang disalahgunakan. Mereka menjadi simbol korban ilmu hitam.
Ngundang: Ngundang adalah prosesi mengundang dan menantang leak. Dahulu, ngundang dilakukan di pura dan tempat suci lainnya. Saat ini, ngundang menjadi daya tarik utama pementasan Calonarang.
Makna ngundang: Ngundang memiliki tiga makna:
Melengkapi pementasan Calonarang.
Menyampaikan pesan moral tentang bahaya ilmu hitam.
Dharma dan swadharma: Indra Wirawan menekankan pentingnya menjalankan dharma (kewajiban) dan swadharma (tugas suci) dengan benar dalam pementasan Calonarang.
Mengatasi gangguan: Gangguan, baik secara niskala maupun nyata, adalah hal yang biasa terjadi. Juru undang harus mampu mengatasinya dengan tenang dan fokus pada tugasnya.
Makna ngundang: Ngundang bukan hanya untuk menghibur, tetapi juga untuk mengingatkan masyarakat tentang bahaya ilmu hitam dan pentingnya menjaga keseimbangan antara rwa bhineda (baik dan buruk).